Kualitas udara di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia pada Minggu pagi membaik dengan status sedang. Hanya Tangsel kota satu-satunya yang berstatus tidak sehat. Foto: Ilustrasi/Dok
JAKARTA, (ERAKINI) - Kualitas udara di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia pada Minggu (27/10/2024) pagi membaik dengan status Sedang. Hanya Tangerang Selatan (Tangsel) kota satu-satunya yang status kualitas udaranya masih merah atau Tidak Sehat pagi ini.
Berdasarkan data real time situs pemantau kualitas udara IQAir hingga pukul 06.50 WIB, indeks kualitas udara di Jakarta berada di peringkat tujuh dengan tingkat AQI US 86 atau masuk kategori Sedang. Dengan kategori Sedang berarti tingkat kualitas udara tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan.
Sementara Tangsel berada di peringkat atas kota paling berpolusi di Indonesia dengan tingkat AQI US 158 atau kategori Tidak Sehat. Adapun kota paling bersih di Indonesia pagi ini adalah Jambi, dengan tingkat AQI US 68.
Berikut rangking kota paling berpolusi di Indonesia real time versi AQI US pada Minggu pagi:
1. Tangerang Selatan, Banten, AQI US 158 (Tidak Sehat)
2. Pagak, Jawa Timur, AQI US 98 (Sedang)
3. Kota Bandung, Jawa Barat, AQI US 94 (Sedang)
4. Kota Bekasi, Jawa Barat, AQI US 93 (Sedang)
5. Kota Surabaya, Jawa Timur, AQI US 90 (Sedang)
6. Kota Depok, Jawa Barat, AQI US 89 (Sedang)
7. Jakarta, AQI US 86 (Sedang)
8. Kota Medan, Sumatera Utara, AQI US 85 (Sedang)
9. Kota Pekanbaru, Riau, AQI US 85 (Sedang)
10. Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, AQI US 80 (Sedang).
Panduan untuk membantu warga memahami tingkat kualitas udara:
1. Baik (0-50 PM2,5)
Kategori ini menandakan kualitas udara yang baik dan tidak memberikan efek berbahaya bagi kesehatan manusia atau hewan. Selain itu, tidak ada pengaruh yang signifikan pada tumbuhan, bangunan, atau nilai estetika.
2. Sedang (51-100 PM2,5)
Kategori ini menunjukkan bahwa kualitas udara masih dalam batas yang dapat ditoleransi oleh manusia dan hewan. Namun, udara ini dapat berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan mungkin juga memengaruhi nilai estetika.
3. Sangat Tidak Sehat (200-299 PM2,5)
Jika kualitas udara berada dalam rentang ini, hal itu dapat merugikan kesehatan bagi sejumlah segmen populasi yang terpapar.
4. Berbahaya (300-500 PM2,5)
Kategori ini menunjukkan bahwa kualitas udara sangat buruk dan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, terutama bagi populasi yang terpapar secara langsung.
Partikel PM 2,5 yang menjadi penyebab utama kualitas udara buruk merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat merusak kesehatan, terutama pada jangka waktu yang panjang.
Paparan PM 2,5 dalam jangka panjang dikaitkan dengan risiko kematian dini, terutama bagi individu dengan penyakit jantung atau paru-paru kronis, serta penurunan pertumbuhan fungsi paru-paru pada anak-anak.