Chairuni meniti karier sebagai insinyur perangkat lunak sebelum kini menjajaki ranah manajemen produk di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif (GenAI).
Dirangkum Erakini, Jumat (19/9/2025), Chairuni merupakan alumni SMA Taruna Nusantara Jurusan IPA tahun 2013 (TNI 21). Saat di SMA Taruna Nusantara, perempuan yang akrab disapa Chai ini aktif mengikuti kegiatan dan organisasi.
Ia bergabung dalam Taruna Nusantara English Speaking Club (TNESC), seta Gita Bahana Nusantara Marching Band (GBNMB) sebagai pemain perkusi dan ketua seksi. Hobinya bermusik membawanya bergabung di Nusantara Voice Student Choir (Nuvo) sebagai vokalis, dan gitaris It’s Our Performance (IOP Band).
Prestasinya saat SMA juga tidak main-main. Ia jadi pembicara pertama di tim debat TNESC, dan runner-up lomba debat English Action Days wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Menariknya, saat sekolah di SMA Taruna Nusantara, Chai tidak pernah bercita-cita kerja di bidang IT. Bahkan ia sempat bingung mau ambil kuliah jurusan apa. Kebetulan temannya menyarankan kuliah IT, karena Chai memang suka matematika.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Taruna Nusantara, perempuan berdarah Betawi ini melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kebetulan Chai juga suka bermain game komputer, sehingga ketika di ITB diharuskan memilih antara Jurusan Elektro atau Informatika, ia pun akhirnya menentukan pilihan Program Studi Teknik Informatika. Ia meraih gelar Sarjana Ilmu Komputer pada tahun 2017.
Dari ITB Chai melanjutkan Program Studi Luar Negeri (S1–Satu Semester), Ilmu Komputer dan Ekonomi di New York University (NYU) yang difasilitasi Global Engineering Education Exchange. Selama satu semester di NYU, Chai mengambil 4 mata kuliah, yakni Data Sensemaking, iOS Development, Pengantar Mikroekonomi, dan Pengantar Makroekonomi.
Meski hanya mendapat kesempatan merasakan sistem pendidikan AS selama satu semester, Chai mengaku sudah cukup mengajarkannya untuk lebih percaya diri, berpikir kritis, berkomunikasi secara aktif, dan yang terpenting, menjadi bagian dari dunia global.
Dari Magang ke Eropa
Karier Chairuni dimulai dengan bekerja paruh waktu sebagai asisten laboratorium dan asisten dosen di ITB dari Agustus 2015 hingga Oktober 2017. Selama 2 tahun 3 bulan di sana ia membantu sejumlah dosen mengelola pekerjaan laboratorium, tugas, proyek mahasiswa, sekaligus mengajar dalam sesi tutorial dan kelas pengganti. Chairuni juga memprakarsai proyek buku “Pengantar Pemrograman Prosedural Dasar” untuk membantu mahasiswa baru memahami dasar-dasar pemrograman.
Pada 2016, Chairuni mendapat kesempatan magang sebagai Software Engineering Intern di perusahaan teknologi finansial B2B, Xendit. Selama tiga bulan di sana, ia membantu mengembangkan dua situs mobile-first menggunakan React JS dan Node JS.
Di sana, ia mendapat bimbingan langsung dari CTO mengenai praktik pemrograman terbaik, mulai dari clean code, code review intensif, hingga pengujian dan linting. Lingkungan kerja yang positif di Xendit menjadi bekal penting bagi mentalitas dan kemampuan teknisnya di tahap awal karier.
Setelah lulus, Chairuni bergabung dengan Traveloka sebagai Software Engineer – Data pada September 2017 hingga November 2019. Pengalaman ini menjadi pintu masuk Chai ke industri teknologi skala besar di Eropa.
Pada Desember 2019 Chai bergabung dengan raksasa teknologi dunia, Google, di Munich, Jerman, sebagai Software Engineer II di tim Core Privacy. Ini seakan menjadi mimpi bagi Chai. Sebab ia tidak pernah terbesit bekerja sebagai Software Engineer di perusahaan raksasa dunia, Google.
Di Google Munich, ia berperan mengembangkan sistem tracing untuk mencegah kebocoran data sensitif pelanggan ke infrastruktur inti Google, meninjau lebih dari 20 peluncuran produk agar tetap sesuai standar privasi, sekaligus membangun sistem baru untuk memperlancar proses tinjauan privasi.
Pada September 2021, ia pindah ke London, Inggris, dan menjadi Software Engineer III di Google Health, tepatnya di tim Access and Integrity. Chairuni merancang sistem manajemen akses untuk mitra data penelitian medis, meningkatkan performa halaman audit akses, serta membangun layanan baru yang menyederhanakan alur akses data medis. Ia juga memperkenalkan praktik uji integrasi baru yang berhasil mengurangi kegagalan deployment dan masalah produksi.
Setelah 1 tahun 11 bulan, Chai pun mengakhiri tugas di Google. Namun, kiprahnya tak berhenti di situ. Chairuni kemudian memperluas cakrawala kariernya ke ranah manajemen produk. Pada Mei 2025, ia magang sebagai Senior Product Manager Technical di Amazon Web Services (AWS), Seattle, Washington, AS. AWS adalah platform cloud yang paling lengkap dan diadopsi secara luas di dunia. Di sana, ia merancang strategi dan desain produk berbasis GenAI untuk tim Elastic Container Service (ECS).
Ia telah melakukan lebih dari 20 wawancara pelanggan, menganalisis pesaing, dan mempelajari praktik terbaik industri untuk menentukan jenis workload yang paling relevan bagi ECS. Bersama tim engineering, ia juga menguji kelayakan teknis dari fitur-fitur yang diusulkan. Ia hanya 4 bulan magang di platform cloud yang paling lengkap dan diadopsi secara luas di dunia, itu.
Chairuni saat ini tengah menempuh pendidikan Master of Business Administration (MBA) di University of California, Berkeley – Haas School of Business. Di kampus bergengsi tersebut, perempuan asal Jakarta yang hobi jalan-jalan ini dipercaya sebagai Wakil Presiden Akademik MBA Student Association.