Kirana masuk dalam daftar perempuan pemimpin di bidang hukum serta pengacara yang sangat dihormati versi International Financial Law Review (IFLR). Foto: Dok UMBRA
JAKARTA, (ERAKINI) – Pengacara atau advokat merupakan salah satu profesi prestisius karena harus didukung persyaratan pendidikan yang ketat, tanggung jawab besar, keberanian, serta kemampuan intelektual. Profesi inilah yang digeluti Kirana Diah Sastrawijaya, salah satu jebolan Lembah Tidar, SMA Taruna Nusantara Magelang.
Kirana bukanlah pengacara sembarangan alias kaleng–kaleng. Dirangkum
, Kamis (18/9/2025), Kirana sudah 20 tahun lebih berkecimpung di bidang hukum. Tak heran bila Kirana masuk dalam jajaran pengacara terbaik di Indonesia.
Pada tahun 2020 Kirana masuk dalam daftar 100 Pengacara Top Indonesia versi Asia Business Law Journal. Bahkan, Kirana masuk dalam daftar perempuan pemimpin di bidang hukum serta pengacara yang sangat dihormati versi International Financial Law Review (IFLR).
Perempuan yang akrab disapa Ira ini masuk daftar IFLR1000 sebagai Women Leaders 2022. Pada tahun 2025 Ira kembali masuk dalam IFLR1000 Women Leader dan Highly Regarded Lawyer.
IFLR1000 Women Leaders adalah ranking elite untuk mengapresiasi advokat perempuan dari seluruh dunia yang memiliki reputasi dan keahlian tinggi dalam menangani transaksi hukum/keuangan.
Ira juga masuk dalam Kartini Inspiratif 2025 versi Magazine Women's Obsession. Kirani dinilai bukan sekadar pengacara ulung, tetapi juga pemimpin yang membawa nilai, budaya, dan keberlanjutan sebagai bagian tak terpisahkan dari profesi.
Kirana Sastrawijaya merupakan pendiri dan Senior Partner di UMBRA Strategic Legal Solutions. Ia termasuk salah satu pengacara energi (power lawyer) terbaik di Indonesia dengan hampir dua dekade pengalaman praktis di bidang kelistrikan, energi, konstruksi, dan infrastruktur.
Ira telah mewakili berbagai klien besar internasional maupun lokal, seperti PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) beserta anak usahanya PT Pembangkitan Jawa Bali dan PT Indonesia Power, dalam berbagai transaksi kelistrikan dan infrastruktur berskala besar dengan kapasitas gabungan lebih dari 5.000 MW.
Ira juga memiliki pengalaman luas dalam penyusunan serta negosiasi seluruh jenis dokumen proyek, termasuk perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreements/PPA) untuk berbagai jenis pembangkit listrik, kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC), kontrak Operation and Maintenance (O&M), serta kontrak pasokan bahan bakar.
Selain itu, ia juga sangat berpengalaman dalam bidang energi terbarukan, minyak dan gas, pembiayaan proyek, skema kemitraan pemerintah-swasta (PPP), serta merger dan akuisisi di sektor energi dan sumber daya alam.
Ira banyak menangani BUMN, BUMD, serta menjalin hubungan erat dengan berbagai lembaga pemerintah, NGO internasional maupun lokal, dalam rangka penyusunan regulasi terkait kelistrikan, energi, dan energi terbarukan di Indonesia.
Sebagai bukti keahliannya di bidang energi dan energi terbarukan, Kirana Sastrawijaya dipercaya sebagai anggota termuda Dewan Pakar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia serta menjadi anggota aktif Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).
Ia juga aktif dalam sejumlah organisasi strategis, seperti Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Forum Energi Muda (FEM), Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Association of Carbon Emission Experts Indonesia (ACEXI), dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
Pendidikan dan Awal Meniti Karier
Kirana Sastrawijaya memiliki rekam akademik yang cemerlang. Ia merupakan alumni SMA Taruna Nusantara tahun 2001 (TN 9), salah satu sekolah menengah unggulan di Indonesia yang dikenal sebagai kawah candradimuka calon pemimpin masa depan.
Dalam satu kesempatan wawancara dengan siswa SMA Taruna Nusantara pada 2024 lalu, Kirana mengakui pendidikan selama tiga tahun di Lembah Tidar sangat membantu perjalanan kariernya. Nilai pertama yang ia dapat di SMA Taruna Nusantara adalah kebanggaan sebagai warga negara Indonesia.
Hal ini yang benar–benar memotivasinya untuk membuktikan bahwa lowyer Indonesia tidak kalah dengan lowyer asing. Lowyer Indonesia juga mampu berkompetisi di dunia global. "Jadi, kebanggaan saya dan semangat kita sebagai bangsa Indonesia yang ditanamkan di SMA Taruna Nusantara, itu yang utama," katanya.
Kedua, disiplin. Menurut dia, disiplin yang diajarkan di SMA Taruna Nusantara sangat luar biasa sebagai bekal menghadapi tantangan ke depan. "Tanpa disiplin tidak akan bisa (berhasil). Karena tantanga ke depan benar–benar mengharuskan mental kita bisa menghadapi berbagi macam tantangan. Tanpa disiplin kita akan gagal," kata Ira yan baru menemukan keinginan jadi lawyer pada tahun terakhir atau kelas 3.
Maka itu, Ira melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan berhasil meraih gelar Sarjana Hukum dengan predikat cum laude pada tahun 2005. Tidak berhenti di situ, untuk memperkuat manajerialnya, Kirana menempuh pendidikan lanjutan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan meraih gelar Magister Manajemen (MBA) pada tahun 2008, juga dengan predikat cum laude. Pencapaian akademik ini menjadi pondasi penting bagi kiprahnya sebagai salah satu pengacara energi dan infrastruktur terkemuka di Indonesia.
Ira mulai meniti karier di bidang hukum di William, Effendy & Co pada Februari hingga Oktober 2005. Di sini ia terlibat dalam berbagai pekerjaan penting seperti uji tuntas hukum (legal due diligence), riset hukum, hingga penyusunan serta penelaahan dokumen hukum. Selain itu, Ira juga memberikan nasihat hukum kepada klien serta melakukan investigasi penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
Selama hampir sembilan bulan di firma tersebut, Ira memulai petualangan baru di DNC Advocates at Work sebagai pengacara muda. Selama tiga tahun di firma tersebut (Oktober 2005-September 2008), Kirana aktif menyusun dokumen hukum, melakukan riset, memberikan opini hukum, hingga menangani proses litigasi, khususnya yang berkaitan dengan sektor pembiayaan.
Ia kemudian bergabung dengan Baker & McKenzie, salah satu firma hukum internasional terkemuka (September 2008-Oktober 2017). Di sana, Kirana banyak menangani penyusunan serta negosiasi berbagai perjanjian penting, mulai dari power purchase agreement (PPA), kontrak bagi hasil, perjanjian operasi bersama, hingga kontrak EPC untuk pembangunan pembangkit listrik, pabrik semen, dan pabrik kosmetik. Ia juga terlibat dalam akuisisi, pembiayaan proyek energi, serta transaksi litigasi derivatif yang melibatkan produk terstruktur di Indonesia.
Setelah hampir satu dekade di firma hukum tersebut, Kirana memutuskan berdikari. Berbekal pengalaman lebih dari 12 tahun, Kirana memutuskan mendirikan UMBRA Strategic Legal Solutions pada November 2017 bersama sang suami, Pramudya A Oktavinanda, yang saat ini menjabat Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025–2028.
UMBRA merupakan sebuah firma hukum yang berfokus pada pemberian solusi inovatif dan strategis untuk isu-isu hukum yang kompleks. Firma hukum mengusung visi berbeda dan bergerak sesuai perubahan zaman. UMBRA tidak hanya menjual jasa hukum, tapi hadir sebagai mitra yang memahami industri dan kebutuhan klien, terutama dalam sektor yang berkembang pesat, seperti energi terbarukan dan ESG.
UMBRA memperluas cakupan layanan ke isu-isu strategis, seperti restrukturisasi korporasi, keberlanjutan bisnis, hingga transisi energi hijau. Alhasil, kepercayaan klien terus tumbuh, berkat pendekatan multidisipliner dan solusi hukum yang selaras dengan dinamika industri. Dengan konsistensi, integritas, dan semangat belajar sebagai pilar utama kepemimpinan Kirana, UMBRA dipercaya menangani berbagai transaksi besar di sektor energi dan infrastruktur.
UMBRA pun sukses meraih berbagai penghargaan bergengsi, mulai dari ABLJ A-List Top 100 hingga The Legal 500 Green Guide Asia Pacific selama tiga tahun berturut-turut. Capaian ini tak lepas dari filosofi kepemimpinan Kirana, yaitu membangun tim yang solid, ruang kerja yang suportif, dan budaya kolaboratif.