Sosok Afriyanti Sumboja menambah daftar alumni SMA Taruna Nusantara yang berkarier mentereng dan layak diperhitungkan, terutama di dunia riset. Foto: Dok ITB
JAKARTA, (ERAKINI) - SosokAfriyanti Sumboja, B.Eng, Ph.D, sudah tak asing lagi di kalangan ilmuwan riset. Afriyanti adalah srikandi alumni SMA Taruna Nusantara yang masuk dalam daftar ilmuwan muda Indonesia di dunia.
Sosok Afriyanti Sumboja menambah daftar alumni SMA Taruna Nusantara yang berkarier mentereng dan layak diperhitungkan, terutama di dunia riset. Afriyanti tidak menutup kemungkinan dapat menduduki jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang mengajar di lingkungan perguruan tinggi, yakni Profesor. Sejauh ini, lima alumni SMA Taruna Nusantara sudah berhasil meraih gelar prestisius tersebut.
Mereka adalah Teuku Faisal Fathani (TN 1), Guru Besar Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM) yang meraih gelar Profesor pada tahun 2017. Kemudian, Putu Doddy Sutrisna (TN 2), Guru Besar Teknik Kimia Universitas Surabaya yang meraih gelar Profesor tahun 2023.
Lalu, Enade Perdana Istyastono (TN 5), Guru Besar Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal Universitas Sanata Dharma yang meraih gelar Profesor pada tahun 2020. Selanjutnya, Chandra Wahyu Purnomo (TN 6), Guru Besar Functional Materials UGM yang meraih gelar Profesor pada tahun 2023.
Terbaru, Profesor Yos Sunitiyoso, yang dikukuhkan menjadi Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 21 Juni 2025. Yos Sunitiyoso sekaligus menjadi Profesor pertama alumni SMA Taruna Nusantara dari ITB. Afriyanti Sumboja digadang-gadang bisa mengikuti jejak seniornya itu, mengingat prestasinya yang mentereng di usia relatif muda saat ini.
Afriyanti saat ini menjabat Associate Professor atau Lektor Kepala di Program Studi Teknik Material, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB. Afriyanti Sumboja merupakan srikandi SMA Taruna Nusantara lulusan tahun 2005 (TN 13). Setelah lulus dari SMA Taruna Nusantara, Afriyanti melanjutkan program S1 hingga S3 Nanyang Technological University (NTU) Singapura.
Uniknya, Afriyanti tidak menempuh S2 tetapi langsung S3. Dikutip dari laman resmi FTMD ITB, Kamis (11/9/2025), Afriyanti meraih gelar Sarjana Teknik (B.Eng) dan Doktor Teknik (Ph.D) di bidang Ilmu dan Teknik Material NTU Singapura pada pada 2009 dan 2014.
Sebelum bergabung dengan ITB, ilmuwan berusia 38 tahun itu bekerja sebagai peneliti di NTU Singapura. Pada akhir 2014, Afriyanti pindah ke lembaga riset A*STAR Institute of Materials Research and Engineering Singapura sebagai peneliti, setelah menjalani riset post doktoral singkat bersama pembimbing Ph.D-nya, Prof Lee Pooi See. Ia menjadi peneliti di di A*STAR Institute of Materials Research and Engineering Singapura hingga 2018.
Setelah 13 tahun belajar dan menjadi peneliti di Singapura, perempuan berdarah Minang yang lahir di Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, ini memutuskan kembali ke Indonesia. Alasannya kembali ke tanah air karena ingin berkontribusi dalam memajukan pendidikan dan penelitian di Indonesia.
Afriyanti pun memilih menjadi dosen di ITB. Sebab ia punya pengalaman membimbing mahasiswa magang selama kurang lebih empat tahun bekerja sebagai peneliti di Singapura. Ia resmi bergabung dengan ITB sejak September 2018.
Afriyanti sudah memegang satu paten di Amerika Serikat dan telah menerbitkan lebih dari 100 makalah ilmiah di berbagai jurnal bereputasi tinggi seperti Chemical Society Reviews, Advanced Materials, Advanced Energy Materials, dan ACS Catalysis. Minat penelitiannya terutama pada material dan sistem untuk penyimpanan energi, elektrokatalisis, serta aplikasi berbasis elektrokimia lainnya.
Afriyanti merupakan penerima Penghargaan Keunggulan Penelitian Doktoral MSE 2014 dari School of Materials Science and Engineering, NTU. Ia juga telah meraih sejumlah penghargaan di tingkat nasional.
Di usianya yang masih 33 tahun pada 2020, Afriyanti sudah berhasil meraih beberapa penghargaan. Seperti SINTA Top 50 Authors dari Kemenristek/BRIN, dan penghargaan LIPI Young Scientist Awards (LYSA) 2020.
Afriyanti meraih LYSA 2020 setelah menyingkirkan 86 peneliti muda dari berbagai latar belakang dan bidang penelitian. Penghargaan tersebut langsung diberikan oleh Menristek/Kepala BRIN saat itu, Bambang Brodjonegoro pada November 2020.
LYSA 2020 merupakan penghargaan kepada para ilmuwan muda berusia di bawah 40 tahun yang secara konsisten dan memiliki rekam jejak baik dalam melakukan penelitian.
Pada tahun yang sama Afriyanti juga meraih penghargaan dosen berprestasi bidang penelitian ITB dari Rektor ITB pada acara Dies Natalis ITB ke-61 dan ITB Faculty Award kategori riset.
Sejak kuliah Afriyanti telah total telah menerima 9 penghargaan. Hingga tahun 2020 saat itu ia sudah menghasilkan sebanyak 43 paper ilmiah di jurnal-jurnal internasional berimpak tinggi dan terindeks Scopus.
Atas berbagai prestasinya itu, Afriyanti masuk dalam daftar 40 ilmuwan Indonesia paling berpengaruh menurut penelitian Universitas Stanford Amerika Serikat pada tahun 2023. Afriyanti juga masuk dalam jajaran Top 100 Scientist di Indonesia versi AD Scientific Index Ltd 2022 (National ranking 85 dan ITB ranking 5).
Pada Oktober 2024, Afriyanti kembali meraih penghargaan bergengsi Achmad Bakrie ke-XX atas kontribusi luar biasanya di bidang Sains dan Teknologi. Ia dinilai sebagai periset yang menjadi representasi aktif Indonesia di kancah global dalam bidang riset fundamental dan terdepan di bidang kimia bahan untuk pengembangan baterai generasi mendatang dengan performa penyimpanan energi yang lebih besar.
Dengan dedikasi dan komitmennya dalam penelitian, Afriyanti telah berkontribusi signifikan dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan, khususnya dalam inovasi baterai dan energi terbarukan.
Karya-karyanya tidak hanya mendapat perhatian di Indonesia tetapi juga di panggung internasional, menjadikan Afriyanti sebagai teladan bagi generasi muda yang ingin berkarier di dunia sains.