Search

Profil Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional dan 5 Kepribadiannya yang Wajib Diteladani

JAKARTA (ERAKINI) - Indonesia setiap 2 Mei memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan Hardiknas tak bisa dilepaskan dari sosok Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara, yang dijuluki Bapak Pendidikan Nasional, memegang peran penting dalam peringatan Hardiknas. Perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan di Indonesia tak bisa terbantahkan. Berawal dari cinta pada pendidikan, ia bersedia mengorbankan segalanya untuk melanjutkan misi tersebut.

Sebagai seorang Pahlawan Nasional, Ki Hadjar Dewantara memperjuangkan kesetaraan dan kesempatan pendidikan bagi warga pribumi pada masa penjajahan kolonial Belanda.

Dirangkum Erakini, Sabtu (2/5/2026), Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 Apri 1959 di rumahnya Mujamuju Yogyakarta. Pada 29 April, jenazah Ki Hadjar Dewantara dipindahkan ke pendopo Taman Siswa. Dari pendopo Taman Siswa, kemudian diserahkan kepada Majelis Luhur Taman Siswa.

Ki Hadjar Dewantara merupakan putra kelima dari Soeryaningrat putra dari Paku Alam III. NAma lahirnya adalah Soewardi Soeryaningrat. Karena masih keturunan bangsawan, maka mendapat gelar Raden Mas (RM) yang kemudian nama lengkapnya menjadi Raden Mas Soewardi Soeryaningrat.

Ia mengganti nama menjani Ki Hadjar Dewantara setelah berusia 39 tahun. Alasannya, karena ada keinginan untuk lebih merakyat atau lebih dekat dengan rakyat. Dengan mengganti nama tersebut, akhirnya Ki Hadjar Dewantara dapat leluasa bergaul dengan rakyat kebanyakan. Dengan demikian perjuangannya menjadi lebih mudah diterima oleh rakyat pada masa itu.

Kisah perjuangannya dimulai sejak masa muda. Lahir dari keluarga bangsawan di Pakualaman, Yogyakarta, ia bahkan mencoba menempuh pendidikan kedokteran meskipun akhirnya tidak selesai karena masalah kesehatan.

Selanjutnya, ia terlibat dalam dunia jurnalistik dan politik, menjadi bagian dari organisasi Boedi Oetomo, serta bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Partij, partai pertama di Indonesia.

Namun, karena kritiknya terhadap pemerintah kolonial Belanda, Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke Pulau Bangka. Pengasingan tersebut tidak meredam semangatnya. Setelah kembali ke Tanah Air, ia mendirikan sekolah Taman Siswa sebagai sekolah formal pertama bagi penduduk pribumi.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional bukan hanya sekadar mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga mengambil semangat dan teladan dari kehidupannya.

Berikut beberapa kepribadian Ki Hadjar Dewantara yang patut diteladani:
1. Cinta pada Pendidikan
Ki Hadjar Dewantara memiliki semangat cinta pada pendidikan yang diwujudkan melalui pengabdian dan pengorbanan untuk kemajuan bangsa.

Maksud dari cinta tentu bukan sekadar suka biasa. Bapak Pendidikan Nasional ini menunjukkan kecintaan kepada pendidikan dengan rela berkorban dan mengabdi untuk pendidikan Indonesia. Tekadnya murni, belajar sungguh-sungguh bagi diri sendiri, kemudian berbakti untuk memajukan peradaban bangsa lewat pendidikan.

2. Hidup Sederhana, Bercita-cita Luar Biasa
Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, Ki Hadjar Dewantara tetap hidup sederhana dan memiliki cita-cita besar untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Semangat Ki Hadjar Dewantara yang satu ini memiliki makna mendalam. Lahir dari keluarga bangsawan Keraton Yogyakarta tidak membuatnya terlena dengan fasilitas serta kemewahan yang ada. Justru sebaliknya, hak istimewa yang dimiliki digunakan untuk belajar dan menghasilkan ide cemerlang dalam bidang pendidikan pada masa kemerdekaan.

3. Gigih Membela Keadilan
Ki Hadjar Dewantara gigih memperjuangkan keadilan, terutama dalam konteks pendidikan, meskipun harus menghadapi penindasan penjajah.

Ketidakadilan pada masa penjajahan kolonial Belanda membuat Ki Hadjar Dewantara membangun kekuatan melalui organisasi dengan bergabung ke Boedi Oetomo. Perlawanannya dilakukan melalui dunia pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara yang mendapat hak istimewa untuk belajar karena berasal dari keluarga bangsawan, tetap berjuang demi keadilan bersama kaum pemuda pribumi agar bisa melawan penindasan penjajah.

4. Memanfaatkan Kesulitan untuk Kemajuan
Pengasingan ke Belanda tidak menghentikan semangatnya. Justru ia memanfaatkannya untuk memperluas wawasan dan memperdalam konsep pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara saat diasingkan ke Belanda karena menulis kritik mengenai pemerintahan kolonial Belanda, justru memanfaatkan keterbatasan kondisi untuk memperluas pemikiran pendidikan bangsa. Ia mematangkan konsep pendidikannya di pengasingan.

Sekembalinya ke Tanah Air pada September 1919, Ki Hadjar Dewantara makin bersemangat merealisasikan cita-citanya untuk membangun fasilitas pendidikan demi kemerdekaan Indonesia. Bersama tiga serangkainya, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, pada tahun 1922 berdirilah perguruan bercorak nasional bernama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau yang lebih dikenal sebagai Sekolah Taman Siswa.

5. Sosok Guru Teladan
Ki Hadjar Dewantara tidak hanya membangun sekolah, tetapi juga memberikan teladan melalui semboyan "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani", yang menekankan pentingnya menjadi contoh yang baik, memberi semangat, dan memberikan bimbingan dalam pendidikan.

Ing Ngarso Sung Tulodo memiliki arti seorang pendidik harus menjadi contoh dan panutan yang baik. Semangat ini dikenalkan Ki Hadjar Dewantara agar senantiasa memberikan teladan baik kepada orang-orang di sekitar.

Sedangkan Ing Madya Mangun Karso artinya seorang pendidik ada kalanya harus berada di tengah untuk memberikan semangat dan ide kepada muridnya. Dalam konteks luas, pendidik bukan hanya guru, tetapi juga kakak, orang tua, dan pembimbing.

Kemudian semboyan Tut Wuri Handayani memiliki makna seorang pendidik harus mampu berada di belakang untuk memberikan dorongan, tuntunan terus-menerus, serta pengarahan yang baik. Ketiga semboyan ini menjadi pegangan kuat bagi perkembangan pendidikan di Indonesia hingga kini.