Search

Komdigi: Indonesia Targetkan Bisa Pegang Kendali AI

JAKARTA, (ERAKINI) – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mengubah posisi dalam ekosistem global, dari sekadar pengguna teknologi menjadi aktor yang mampu merancang arah dan kepentingannya sendiri dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam Forum Huawei Enterprise Indonesia Partner Summit 2026 di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. “Kami berkomitmen untuk membentuk jalan ke depan agar dapat beralih dari pengguna AI yang optimis menjadi arsitek strategis kedaulatan AI kita," kata Nezar Patria dikutip dari laman resmi Komdigi, Jumat (1/5/2026).

Untuk mencapai tujuan itu, pemerintah menempatkan tata kelola sebagai fondasi utama, dengan menyiapkan peta jalan AI nasional yang berfungsi sebagai panduan strategis agar pengembangan teknologi berjalan secara etis, inklusif, dan tetap mendorong inovasi. “Peta jalan AI nasional kami berfungsi sebagai fondasi strategis, visi hidup yang memandu pengembangan AI di Indonesia agar beretika, inklusif, dan didorong oleh inovasi," ungkapnya.

Selain itu, pemerintah juga merumuskan langkah konkret yang difokuskan pada percepatan pemanfaatan AI di sektor-sektor yang berdampak langsung bagi masyarakat, sekaligus memastikan kepercayaan publik tetap terjaga dan manfaat teknologi dapat diakses secara lebih merata.

“Pertama, mempercepat adopsi di tempat yang paling penting. Menerapkan AI di sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan publik. Kedua, memastikan etika dan kepercayaan. Dan ketiga, memprioritaskan inklusivitas," jelas Wamen Nezar Patria.

Pemerintah di sisi lain melihat bahwa percepatan transformasi tidak dapat dilakukan sendiri, sehingga kolaborasi lintas sektor dan lintas negara menjadi kunci untuk mengubah ambisi menjadi hasil yang terukur. “Mengubah ambisi menjadi eksekusi membutuhkan kekuatan penuh dari ekosistem digital kolaboratif untuk bergerak secara sinergis,” katanya.

Menurutnya, tantangan Indonesia saat ini tidak lagi terletak pada rendahnya adopsi teknologi, melainkan pada kemampuan mengubah optimisme publik menjadi hasil konkret yang bisa dirasakan secara luas. “Bukan pada potensinya, melainkan pada konversinya, bagaimana kita mengubah antusiasme menjadi dampak nyata,” ujarnya.

Mengenai AI, ia menyampaikan bahwa sekitar 76 persen warga menilai teknologi ini membawa lebih banyak manfaat dibandingkan risikonya . “Dengan momentum yang kita miliki saat ini, Indonesia tidak pernah kekurangan ambisi. Yang kita alami sekarang adalah kurangnya ketelitian, khususnya saat kita menavigasi era AI di mana laju perkembangan tidak menunggu siapa pun,” katanya.