Eliza Vitri Handayani, alumni SMA Taruna Nusantara tahun 2000 (TN 8) yang dikenal sebagai seorang novelis, aktivis, dan seniman yang mendunia. Foto: Instagram/@elizavitri
JAKARTA, (ERAKINI) – SMA Taruna Nusantara yang dikenal mengusung konsep pendidikan semimiliter bukan berarti lulusannya harus berkiprah di TNI-Polri. Terbukti, banyak jebolan SMA Taruna Nusantara yang sukses berkarier di berbagai bidang.
Tak hanya para tarunanya yang kini banyak menduduki posisi penting di pemerintahan maupun TNI-Polri, juga banyak yang menjadi dan . Salah satunya .
Eliza Vitri Handayani merupakan alumni SMA Taruna Nusantara tahun 2000 (TN 8). Eliza Vitri dikenal sebagai seorang novelis, aktivis, seniman, sekaligus direktur artistik. Kiprahnya tidak hanya di Indonesia, tapi juga internasional.
Dikutip dari laman pribadinya, elizavitri.com, ia mengaku gemar mengangkat kisah tentang anak muda pemberontak serta memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif melalui tulisan dan seni. Bahkan, melalui akun Instagramnya ia kerap menyuarakan kebebasan rakyat Gaza, Palestina, dari penjajahan Israel.
Novel debutnya, From Now On Everything Will Be Different (Vagabond Press, 2015), membuka jalan bagi Eliza untuk menembus panggung sastra internasional. Buku tersebut mengantarkannya meraih fellowship Writers Immersion and Cultural Exchange (WrICE) pada 2016, serta membawanya hadir di berbagai festival sastra dunia.
Karya-karyanya, mulai dari cerpen, esai personal, hingga artikel, telah terbit di sejumlah media internasional, seperti Story, Griffith Review, Kill Your Darlings, Asia Literary Review, Magdalene, Words Without Borders, Index on Censorship, hingga antologi The Near and the Far volume 2, Books Actually Gold Standard, Heat Flesh Trash, dan Queer etc.
Eliza juga mendirikan komunitas sastra dan seni InterSastra. Sebagai direktur artistik, Eliza terus membangun jejaring dengan komunitas terpinggirkan melalui lokakarya, mendorong mereka menuliskan kisah hidup, menciptakan karya seni, dan menyebarkannya dengan cara inovatif untuk menumbuhkan empati dan meruntuhkan sekat sosial.
Dalam keriernya, Eliza telah meraih berbagai penghargaan, hibah, beasiswa, dan fellowship bergengsi, di antaranya:
1. Tiga residensi penuh di Australia dan Indonesia dalam program International Arts Leaders (Australia Council for the Arts, 2019–2020).
2. Terpilih sebagai salah satu dari 50 pekerja seni perempuan Indonesia dalam komunitas Peretas di Mosintuwu Institute, Poso (2019).
3. Hibah residensi penulis di Australia dari Komite Buku Nasional Indonesia (2018).
4. Fellowship WrICE di Tiongkok dan Australia (RMIT University, 2016–2017).
5. Hibah penerjemahan untuk novel From Now On Everything Will Be Different (Komite Buku Nasional Indonesia, 2014).
6. Nominasi Pushcart Prize dari Asymptote Journal (2013).
7. Beasiswa penuh di Wesleyan University, USA (Freeman Foundation, 2000–2005).
8. Beasiswa untuk mengikuti Wesleyan Writers Conference (2004, 2006).
9. Adikarya Award untuk Buku Remaja Terbaik melalui novel Area X: Hymne Angkasa Raya (2004).
10. Penghargaan Naskah Aksi Terbaik untuk Film/TV dari Pusat Perfilman Nasional (1999).
Perjalanan Penuh Liku hingga Mendunia
Perjalanan karier Eliza tidaklah mudah. Bahkan sempat ditentang oleh ayahnya. Namun, dengan kerja keras, Eliza berhasil membuktikan bahwa masa depan bisa dibangun lewat tulisan dan seni.
Eliza dikenal sebagai penulis yang menekuni fiksi maupun nonfiksi, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Dalam laman pribadinya, Eliza bercerita bahwa kecintaannya pada dunia menulis sudah dimulai sejak kecil. Bahkan, pada usia 8 tahun, Eliza kerap memenuhi buku catatannya dengan mimpi-mimpi yang ia alami setiap malam.
Memasuki masa remaja, ia mulai menulis cerita fiksi panjang dan berani membagikannya kepada orang lain. Saat sekolah di SMA Taruna Nusantara, Eliza semakin memperdalam bakat seninya. Ia aktif mengikuti klub teater dan bahkan mendapat kesempatan memimpin sebuah drama pendek berdasarkan naskah yang ditulisnya sendiri.
Namun, bakatnya ini sempat ditantang oleh sang ayah. Kekhawatiran soal masa depan putrinya membuat sang ayah berharap Eliza mengambil jalan hidup yang lebih aman.
Namun, tekad Eliza tidak goyah. Pada 1999, ia berhasil memenangkan kompetisi penulisan naskah yang digelar The National Film Center. Naskah tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah novel yang akhirnya terbit pada 2013.
Novel tersebut sempat menjadi salah satu karya laris di pasaran. Namun, kesuksesan itu ternyata tidak lepas dari tantangan. Novel yang terbit ternyata mengalami sensor dari pihak editor dan penerbit. Adegan sederhana seperti berpegangan tangan dan berciuman dipangkas karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam konservatif.
Eliza mengaku sempat merasa kecewa dan malu karena tidak bisa mempertahankan keutuhan karyanya sendiri. Pengalaman itu membuatnya sempat menjauh dari dunia buku. Namun, semangat menuntut ilmu tidak pernah padam. Tepat sebelum lulus SMA Taruna Nusantara, Eliza meraih beasiswa penuh sebagai Freeman Asian Scholar di Wesleyan University, Connecticut, Amerika Serikat.
Di Amerika, Eliza semakin giat membaca dan berlatih menulis dalam bahasa Inggris. Pengalaman internasional itu memperkaya cara pandangnya dalam berkarya. Sekembalinya ke Indonesia, ia sempat bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan, sambil terus melanjutkan kiprahnya di dunia literasi.
Kini, Eliza Vitri Handayani bukan hanya dikenal sebagai novelis, tetapi juga sebagai direktur artistik yang aktif mendorong inklusivitas melalui seni dan tulisan. Dari pengalaman ditentang hingga akhirnya mendunia, perjalanan Eliza menjadi bukti bahwa tekad kuat dan keberanian mempertahankan idealisme bisa membuka jalan sukses yang tak terduga.