Ilustrasi - BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2025 terjadi mulai bulan Juni. Ada 6 wilayah yang diperkirakan akan mengalami puncak kekeringan di bulan Agustus. (Foto: Pixabay)
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa puncakmusim kemarau akan terjadi pada bulan Juni hingga Agustus 2025. Ada 6 wilayah yang diprediksi mengalami puncak kekesingan di bulan Agustus mendatang.
Demikian disampaikan oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. “Puncakmusim kemarau akan terjadi pada Juni hingga Agustus 2025,” kata Dwikorita dilansir dari laman resmi BMKG, Rabu (23/4/2024).
Ia merinci, sejumlah wilayah yang akan mengalami puncakkekeringan di bulan Agustus mendatang, termasuk Jawa hingga Bali.
“Wilayah-wilayah seperti Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku diperkirakan mengalami puncakkekeringan pada Agustus,” jelasnya.
Untuk awal musim kemarau tahun 2025, kata dia, telah mulai terjadi sejak April dan akan berlangsung secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Namun, ia mengungkapkan bahwa durasi musim kemarau diprediksi lebih pendek dari tahun sebelumnya.
Menurutnya, terkait sifat musim kemarau2025, sekitar 60% wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal, 26% wilayah mengalami kemarau lebih basah dari normal, dan 14% wilayah lainnya lebih kering dari biasanya.
“Durasi kemarau diprediksi lebih pendek dari biasanya di sebagian besar wilayah, meskipun terdapat 26% wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama di sebagian Sumatera dan Kalimantan,” katanya.
Lebih lanjut, sebagai bentuk mitigasi terhadap risiko musim kemarau, Dwikorita juga menyampaikan rekomendasi penting bagi sejumlah sektor vital, termasuk di bidang pertanian.
“Di sektor pertanian, disarankan untuk melakukan penyesuaian jadwal tanam sesuai prediksi awal musim kemarau di tiap wilayah, pemilihan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan, serta optimalisasi pengelolaan air untuk mendukung produktivitas pertanian di tengah keterbatasan curah hujan,” katanya.
Sementara untuk wilayah yang mengalami musim kemarau lebih basah, lanjut dia, ini bisa menjadi peluang untuk memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi, dengan disertai pengendalian potensi hama.