Ilustrasi - BMKG memprediksi kemarau di tahun 2025 ini akan lebih singkat dari tahun sebelumnya. (Foto: Pixabay)
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau di tahun 2025 ini akan lebih singkat dari tahun sebelumnya. Terkait hal itu, BMKG menyampaikan sejumlah rekomendasi penting bagi sejumlah sektor vital.
Hal itu disampaikan oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati berdasarkan pemantauan dan analisis dinamika iklim global dan regional yang dilakukan BMKG hingga pertengahan April 2025.
“Awal musimkemarau tahun 2025 telah mulai terjadi sejak April dan akan berlangsung secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Kendati demikian, musimkemarau tahun 2025 diprediksi akan berlangsung lebih singkat dari biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia,” kata Dwikorita dikutip dari laman resmi BMKG, Selasa (22/4/2025).
Ia mengatakan, awal musimkemarau di Indonesia diprediksi tidak terjadi secara serempak. Pada bulan April 2025, sebanyak 115 Zona Musim (ZOM) akan memasuki musimkemarau. Jumlah ini akan meningkat pada Mei dan Juni, seiring meluasnya wilayah yang terdampak, termasuk sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua.
“Puncak musimkemarau akan terjadi pada Juni hingga Agustus 2025, dengan wilayah-wilayah seperti Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku diperkirakan mengalami puncak kekeringan pada Agustus,” katanya.
Terkait sifat musimkemarau2025, sekitar 60% wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal, 26% wilayah mengalami kemarau lebih basah dari normal, dan 14% wilayah lainnya lebih kering dari biasanya.
“Durasi kemarau diprediksi lebih pendek dari biasanya di sebagian besar wilayah, meskipun terdapat 26% wilayah yang akan mengalami musimkemarau lebih panjang, terutama di sebagian Sumatera dan Kalimantan,” tambahnya.
Sebagai bentuk mitigasi terhadap risiko musimkemarau, pihaknya menyampaikan sejumlah rekomendasi penting bagi sejumlah sektor vital.
BMKG menyarankan agar melakukan penyesuaian jadwal tanam sesuai prediksi awal musimkemarau di tiap wilayah, pemilihan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan, serta optimalisasi pengelolaan air untuk mendukung produktivitas pertanian di tengah keterbatasan curah hujan.
“Untuk wilayah yang mengalami musimkemarau lebih basah, ini bisa menjadi peluang untuk memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi, dengan disertai pengendalian potensi hama,” imbuhnya.
Sektor Kebencanaan
BMKG mengimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ini menjadi hal yang sangat krusial, terutama di wilayah yang diprediksi mengalami musimkemarau dengan sifat normal hingga lebih kering dari biasanya. Pada periode saat ini dimana masih ada hujan, perlu ditingkatkan upaya pembasahan lahan-lahan gambut untuk menaikkan tinggi muka air dan pengisian embung-embung penampungan air di area yang rentan terbakar.
Sektor Lingkungan dan Kesehatan
BMKG mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi penurunan kualitas udara di wilayah perkotaan dan daerah rawan karhutla, serta dampak suhu panas dan kelembapan tinggi yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat.
Sektor Energi dan Sumber Daya Air
Di sektor ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengelola pasokan air secara bijak dan efisien demi menjamin keberlanjutan operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sistem irigasi, dan pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat selama periode musimkemarau berlangsung.
Dwikorita berharap informasi ini dapat digunakan oleh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan seluruh pihak terkait dalam menyusun langkah-langkah antisipatif dan adaptif menghadapi musimkemarau2025.
“Semoga informasi ini dapat menjadi panduan bagi para pengambil kebijakan dalam merancang strategi antisipatif dan adaptif untuk menghadapi musimkemarau2025,” katanya.