Tim Pengabdian Masyarakat Soegijapranata Catholic University (SCU) turun di daerah terdampak banjir dan longsor Sumatera Utara. Foto: Dok. SCU
SEMARANG, (ERAKINI) – Tim Pengabdian Masyarakat Soegijapranata Catholic University (SCU) menyebut penyakit kulit dan sejumlah penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan penyintas bencana banjir dan longsor di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.
Hal itu diungkapkan Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat SCU Ratna Shintia Defi yang memimpin tim di sana.
“Penyakit kulit seperti jamur, dermatitis iritan dan alergika, skabies, menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan,” kata dr. Ratna pada keterangan tertulisnya, Selasa (6/1/2026).
Di sisi lain, sambung dia,penyakit lain seperti ISPA, gangguan pencernaan, nyeri otot dan sendi, hipertensi, diabetes, kolesterol, serta penyakit jantung juga banyak ditemukan.
“Semestinya bisa ditangani dengan minum obat rutin. Namun, akhirnya terhenti karena lumpuhnya puskesmas dan akses jalan yang terputus,” lanjut dia.
Tim yang diturunkan SCU di Sumut itu terdiri dari mahasiswa, alumni dan dosen Fakultas Kedokteran (FK) serta Center for Trauma Recovery (CTR) Fakultas Psikologi (FPsi). Mereka memberikan pendampingan medis dan psikososial penyintas bencana di Sumut.
Lebih lanjut, hadirnya SCU menurut keterangan Ratna berupaya menghadirkan rasa aman melalui pendampingan bagi para penyintas.
“Pelayanan yang dilakukan secara menyeluruh, meliputi penanganan keluhan, pemantauan, dan dukungan, menjadi wujud kepedulian kami terhadap mereka yang terdampak bencana,” jelas dia.
Pihaknya pun akan tetap melakukan pemantauan kondisi para penyintas bencana secara bertahap. “Kami akan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan setempat serta menyusun laporan berdasarkan perencanaan intervensi lanjutan,” tambah dia.
Dia berharap pendampingan yang diberikan dapat berkontribusi pada proses pemulihan kesehatan para penyintas bencana secara berkelanjutan.
Wakil Koordinator Mahasiswa CTR FPsi SCU, Clara Ambar Pramudita menambahkan, kebutuhan dasar penyintas diharapkan dapat segera terpenuhi, mengingat hal tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap fungsi sosial dan psikis.
“Mereka semakin menyadari bahwa banyak pihak yang peduli, karena bencana itu itu kan salah satu kejadian traumatis. Harapannya dapat turut mempersiapkan para penyintas melanjutkan hidupnya kembali,” harapnya.
Keberangkatan tim SCU ke lokasi bencana Sumatera itu sebelumnya dilepas Rektor SCU Robertus Setiawan Aji Nugroho di Selasar Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan, Kota Semarang, Kamis (18/12/2025). Program ini turut didukung Kemendiktisaintek melalui skema hibah dan pendanaan dari Dirjen Pengembangan dan Riset.
Rombongan tiba di lokasi pada Jumat (19/12/2025) dan telah menangani hampir 400 penyintas bencana hingga Jumat (26/12/2025). Adapun daerah yang dikunjungi di Kab. Tapanuli Tengah antara lain Desa Parjalihotan di Kec. Pinangsori, Desa Hutanabolon dan Sigiring-Giring di Kec. Tukka, serta Kec. Sutahuis.
Sebanyak 6 mahasiswa CTR FPsi SCU turut melakukan screening psikososial dalam bentuk asesmen kondisi psikologis untuk mengidentifikasi penyintas yang membutuhkan perhatian khusus, dilanjutkan dengan pendampingan psikologi dasar untuk stabilisasi emosi, serta psikoedukasi. Berbagai bentuk dukungan secara psikis diberikan, mulai dari relaksasi, terapi sentuh, serta aktivitas kreatif.
Sementara, sebanyak 8 dokter yang di antaranya merupakan dosen dan lulusan FK SCU memberikan konsultasi, edukasi, dan pemeriksaan kesehatan, triase, tindakan medis minor, pemberian obat, serta penentuan rujukan jika pasien membutuhkan penanganan medis lanjutan.