Nama Mbah Riyan menjadi perhatian publik setelah menerima MUI Awards, penghargaan yang diberikan atas kontribusi dan karya ilmiahnya. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) – Nama Mbah Riyan menjadi perhatian publik setelah menerima , penghargaan yang diberikan atas kontribusi dan karya ilmiahnya. Yang justru menjadi sorotan bukan penghargaan tersebut, melainkan keputusannya untuk tidak menghadiri acara penerimaan penghargaan.
Sikap itu memunculkan banyak perbincangan. Di tengah budaya yang kerap mengagungkan popularitas dan pengakuan publik, Mbah Riyan memilih tetap berada di jalan sunyi, jauh dari sorotan kamera.
Selama ini Mbah Riyan tinggal di sebuah sudut sederhana di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Meski berstatus seorang ulama, kesehariannya nyaris tak menarik perhatian. Warga mengenalnya sebagai sosok bersahaja yang kerap bekerja serabutan, termasuk menjadi tukang bangunan, dan menghabiskan waktu luang dengan memancing.
Penampilannya sederhana, jauh dari kesan tokoh besar. Tidak ada kemewahan, atribut keulamaan yang mencolok, ataupun simbol kebesaran yang membuat orang mudah mengenali kapasitas keilmuannya.
Namun, di balik kehidupan yang tenang itu, Mbah Riyan yang memiliki nama ilmiah Ibnu Harjo Al-Jawi ternyata merupakan seorang ulama muhaqqiq dengan karya-karya yang mendapat pengakuan di dunia keilmuan Islam.
Banyak tetangga di sekitar tempat tinggalnya tidak mengetahui bahwa sosok sederhana yang mereka jumpai sehari-hari adalah seorang ulama dengan kontribusi besar dalam kajian keislaman, khususnya di bidang tahqiq atau verifikasi ilmiah terhadap manuskrip dan teks-teks klasik.
Dalam tradisi keilmuan Islam, seorang muhaqqiq bukan sekadar penulis, melainkan ilmuwan yang meneliti, memverifikasi, membandingkan naskah, serta menghidupkan kembali karya-karya ulama klasik agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Ibnu Harjo Al-Jawi dikenal melalui karya-karya akademik yang serius dan menjadi rujukan penting di berbagai bidang keislaman. Salah satu karyanya adalah "Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu", yang membahas konsep istihsan dalam ushul fiqh.
Selain itu, ia juga menghasilkan sejumlah karya tahqiq dan ta’liqat (catatan ilmiah), antara lain:
1. Dilalah Qarinah Al-Muwadlabah ‘Inda Al-Ushuliyyin.
2. Radd Al-Hadits Al-Dla’if bi Al-Kulliyyah Fitnah Kabirah Mu’ashirah.
3. Is’af Al-Muthali’ bab Ijtihad karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawi (w. 1338 H).
4. Is’af Al-Muthali’ bab Taqlid karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawi.
5. Is’af Al-Muthali’ bab Akidah karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawi.
6. Is’af Al-Muthali’ bab Tasawuf karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawi.
7. Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyat karya Syaikh Abul Hasan Al-Bakri Al-Syafi’i (w. 952 H).
8. Tuhfah Al-Nubala’ fi Tafahhumi Hukmi Taqbil Dloroih Al-Auliya’.
9. Al-Taufiq Al-Jaliy Baina Al-Asy’ari wa Al-Hambali karya Syaikh Abdul Ghani Al-Nabulusi Al-Hanafi (w. 1143 H).
Karya-karya tersebut menunjukkan keluasan bidang kajian yang ia tekuni, mulai dari ushul fiqh, hadis, akidah, tasawuf, hingga dialog dan perdebatan teologis klasik.
Menariknya, karya-karya Ibnu Harjo Al-Jawi lahir bukan untuk mengejar popularitas atau pengakuan publik. Seluruh ikhtiar ilmiahnya diarahkan untuk menjaga khazanah intelektual Islam agar tetap hidup dan dapat diakses lintas generasi.
Pilihan hidupnya yang sederhana menjadi cerminan bahwa kedalaman ilmu tidak selalu berjalan seiring dengan ketenaran. Ia tetap bekerja, hidup bersama masyarakat, dan menjalani keseharian tanpa membangun citra sebagai tokoh besar.
Kisah Mbah Riyan menjadi pengingat bahwa nilai seseorang tidak selalu tampak dari penampilan, jabatan, atau popularitas. Di balik sosok tukang bangunan yang sederhana, tersimpan seorang ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga warisan keilmuan Islam.
Dalam tradisi para ulama, kemasyhuran bukanlah tujuan, melainkan konsekuensi dari ketulusan berkarya. Ilmu yang ditulis dengan keikhlasan akan terus hidup, bahkan ketika penulisnya memilih tetap berada di jalan sunyi.