Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) didampingi Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjutak dan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Minggu (11/1/2026). (Foto: Akhmad Baihaqi Arsyad/Erakini).
Hal itu ditegaskan oleh Gus Irfan usai pembukaan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, yang dirangkaikan dengan Studium General di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Minggu (11/1/2026).
"Pelanggaran yang paling berat adalah, kalau di diklat indisipliner, kalau di Saudi meninggalkan tugas. (Apabila melanggar, red) pertama tentu diperingatkan. Bahkan di sini pun, di diklat ini, apabila diperingatkan 1-2 kali tidak bisa, maka kita pulangkan, tidak jadi berangkat. Di Saudi juga sama, 1-2 kali diperingatkan tidak bisa, maka kita pulangkan sebelum waktunya," tegas Gus Irfan di kawasan Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Minggu (11/1/2026).
Adapun acara diklat ini merupakan bagian dari proses penguatan kapasitas, integritas dan profesionalisme petugas haji yang akan bertugas dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H / 2026 M, sekaligus menjadi momentum penyampaian arah kebijakan dan penekanan strategis pimpinan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI kepada para calon petugas.
Dalam kesempatan itu, Gus Irfan menyampaikan bahwa diklat PPIH Arab Saudi 1447 H/ 2026 M berlangsung selama 30 hari, yang mana 20 hari dilakukan di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta dan 10 hari dilakukan secara daring. "Hari ini, kita mulai diklat 30 hari, 20 hari di sini, 10 hari online," jelasnya.
Tak hanya sampai di situ, kata Gus Irfan, diklat akan dilanjutkan dengan online berikutnya terkait dalam penyiapan bahasa Arab untuk calon petugas haji. "Salah satu kendala kemarin adalah petugas haji kita kurang dalam bahasa Arab, jadi kita berikan bahasa Arab. Para petugas akan dilatih oleh tutor khusus dari lembaga bahasa," jelasnya.
Gus Irfan menyebut bahwa dalam pelaksanaan diklat calon petugas haji, akan ada tutor khusus, terutama di petugas haji perempuan dan lansia. "Untuk ramah perempuan ada tutor khusus. Untuk ramah lansia ada tutor khusus. Ramah disabilitas ada tutor khusus," katanya.
Kemudian, lanjut dia, para calon petugas juga sudah diberi informasi mengenai tugas dan penempatannya sejak diklat di asrama haji. "Sejak di sini (asrama haji, red) mereka sudah tahu mereka akan dibagi tugas di mana, posisinya di mana, kepala posnya siapa, temannya siapa saja, sehingga berangkat pun mereka sudah tahu tugasnya," katanya.
Menurut Gus Irfan, tantangan terbesar adalah bagaimana kita menyiapkan jemaah haji terkait dengan kesehatannya. Karena ini salah satu titik yang disorot oleh pemerintah Arab Saudi. "Kita berharap kedisiplinan, kesamaptaan fisik dari peserta dipersiapkan dengan matang dan ini memang diperlukan. Tanpa fisik yang kuat, tanpa disiplin yang kuat, mereka tak akan bisa melaksanakan tugas sebaik-baiknya," kata Gus Irfan.
Sebagai informasi, PPIH Arab Saudi untuk pelaksanaan Ibadah Haji 1447 H / 2026 M ada lebih dari 4.000 yang mana 185 di antaranya adalah dari unsur TNI dan Polri.