Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar saat peluncuran Gerakan Satu Pengawas Satu Madrasah Praktik Baik Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Bandung pada Selasa (9/6/2026). (Foto: Kemenag).
BANDUNG, (ERAKINI) – Kementerian Agama (Kemenag) RI meluncurkan langkah besar dalam memperkuat pendidikan karakter di lingkungan madrasah melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Sebanyak 4.700 pengawas madrasah dari berbagai daerah di Indonesia akan dilibatkan secara aktif untuk memastikan implementasi kurikulum tersebut berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi dunia pendidikan.
Komitmen tersebut ditandai dengan peluncuran Gerakan Satu Pengawas Satu Madrasah Praktik Baik Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang diresmikan oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, di Bandung pada Selasa (9/6/2026).
Dalam sambutannya, Menag menegaskan bahwa pengawas madrasah memiliki peran vital dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan kemanusiaan.
“Pengawas adalah orang-orang terbaik yang mengawal mutu pendidikan madrasah. Pendidikan harus melahirkan cinta, bukan kebencian,” pesan Menag di Bandung, Selasa (9/6/2026).
Peluncuran Buku Saku KBC bagi Pengawas Madrasah menjadi penanda dimulainya gerakan tersebut. Buku saku ini telah terintegrasi dengan Madrasah Digital Supervision (MDS) sebagai instrumen pendampingan dan pengawasan implementasi KBC.
Menag mengajak seluruh pengawas madrasah untuk mengawal implementasi KBC secara berkelanjutan. Menurutnya, pengawas memiliki posisi strategis dalam memastikan program-program penguatan karakter berjalan efektif di satuan pendidikan.
Ditegaskan oleh Menag bahwa KBC merupakan pengembangan dari konsep ekoteologi yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam semesta, dan Tuhan. “Kalau semua kitab suci, termasuk Al-Qur’an, dipadatkan menjadi satu kata, maka kata itu adalah cinta,” ujar Menag.
Implementasi KBC, kata dia, akan memberikan dampak positif di lingkungan madrasah dan pesantren. Ia menyebut budaya tawuran, perundungan, kekerasan fisik, hingga berbagai bentuk intoleransi harus terus ditekan melalui penguatan pendidikan yang berlandaskan nilai kasih sayang.
Menag pada kesempatan tersebut turut menyampaikan apresiasi kepada para pengawas madrasah atas kontribusinya dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Berbagai capaian madrasah di tingkat nasional dan internasional, menurutnya tidak lepas dari peran para pengawas yang konsisten melakukan pembinaan dan pendampingan.