Dwi Andreas Santosa (DAS) merupakan pengamat yang kerap menyampaikan kritik terhadap kinerja pemerintah di bidang pertanian. Ia punya khas baju hitam yang kerap dipakai dalam banyak kesempatan. Foto: Dok IPB University
JAKARTA, (ERAKINI) - Dwi Andreas Santosa (DAS) merupakan pengamat yang kerap menyampaikan kritik terhadap kinerja pemerintah di bidang pertanian. Ia punya khas baju hitam yang kerap dipakai dalam banyak kesempatan.
Dikutip dari laman resmi IPB University, Jumat (18/4/2025), merupakan lulusan S1 Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1986. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister (S2) Universitas Padjajaran (Unpad) lulus 1991. Empat tahun kemudian, meraih gelar Doktor (S3) dari Technische Universitaet Braunscweig tahun 1995.
Di IPB, Prof Dwi Andreas memiliki bidang keahlian Mata Kuliah Fisiologi dan Genetika Mikrob Tanah BTK1521, Rekayasa Genetika Mikrob BTK1523 , Bioteknologi Lingkungan BTK1524, Bioteknologi dan Keamanan Hayati BTK1526 , dan Bioteknologi Pertambangan dan Reklamasi Lahan BTK1528.
Dirangkum dari berbagai sumber, selain pengamat pertanianDAS juga tercatat sebagai Research Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Selama ini Prof Dwi Andreas kerap mengkritik program Kementerian Pertanian (Kementan), seperti impor beras, produksi jagung, hingga proyek food estate. Bahkan, ia dengan keras menyebut proyek food estate gagal karena melanggar kaidah akademis.
Kaidah akademis yang ia maksud, yakni kelayakan tanah dan agroklimat, kelayakan infrastruktur, kelayakan sosial dan ekonomi, serta kelayakan teknologi. "Seluruh food estate di Indonesia melanggar empat pilar pengembangan lahan pangan," kata Andreas dalam acara Outlook Ekonomi Sektor-sektor Strategis 2024 di Jakarta pada 23 Januari 2024.
Dwi Andreas Santosa juga mengkritik program Brigade Swasembada Pangan atau Brigade Pangan. Ia menilai program itu tidak jelas dari sisi ketersediaan lahan. Menurut dia, lahan pertanian yang akan digunakan untuk program Brigade Pangan di wilayah Merauke, Papua,
kurang tepat karena butuh waktu sangat panjang untuk dapat memberdayakan swasembada pangan.
DAS juga diketahui menjabat Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AP2TI). DAS aktif dalam memperjuangkan nasib petani. DAS pun punya cara tersendiri dalam memperjuangkan hak-hak petani di Indonesia, yakni melalui filosofi baju hitam yang selalu ia kenakan dalam setiap kesempatan, seperti mengajar dan seminar.
Dalam sebuah kesempatan kepada Lembaga Pers Mahasiswa IPB pada 19 September 2024, DAS menceritakan bahwa baju warna hitam yang kerap ia pakai melambangkan keprihatinan dan sesuatu yang belum selesai.
Bermula pada tahun 2005, saat Dwi Andreas Santosa mengaku memenuhi undangan para petani di Kediri dan mendengarkan keluh kesah para petani yang merasa diintimidasi.Dwi Andreas Santosa juga membagikan pengalamannya bertemu dengan Budi, seorang penyuluh pertanian pada saat itu yang juga mengembangkan benih jagung hibrida dan mengalami intimidasi dari aparat.
“Jika kondisi petani belum membaik, saya tidak akan pernah berhenti memakai pakaian berwarna hitam,” kata Prof Dwi Andreas Santosa.
Pakaian hitam ini juga merupakan cara DAS untuk menunjukkan ketidaksetujuan terhadap kebijakan pertanian yang dianggap tidak menguntungkan para petani.
Lahir dari keluarga sederhana membuat Prof Dwi Andreas Santosa memiliki rasa empati terhadap nasib petani. Ia bertekad memberikan perubahan serta pengaruh kepada nasib para petani ke depannya menjadi lebih baik.