Ilustrasi - BMKG menyampaikan bahwa El Nino kian menguat. Masyarakat di wilayah Banten dan Jawa Barat diimbau siaga akan adanya potensi angin kencang pada periode 20–23 Juli 2026. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang yang berpeluang terjadi di wilayah Banten dan Jawa Barat pada periode 20–23 Juli 2026. Peringatan ini disampaikan di tengah dominasi yang semakin meluas di berbagai daerah Indonesia, seiring menguatnya pengaruh fenomena iklim global yang berpotensi memperparah kondisi kering dalam beberapa waktu ke depan.
Berdasarkan analisis BMKG, kondisi cuaca nasional dalam sepekan mendatang masih didominasi oleh curah hujan kategori rendah. Pada Dasarian III Juli 2026, sekitar 76,54 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan rendah, sementara 23,36 persen berada pada kategori menengah. Adapun wilayah yang diperkirakan menerima curah hujan tinggi hanya sekitar 0,09 persen dari total wilayah Indonesia.
Kondisi minim hujan tersebut diprediksi mencakup sebagian besar Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua. Situasi ini menunjukkan bahwa musim kemarau masih menjadi pola cuaca dominan yang memengaruhi sebagian besar kawasan Nusantara.
Di sisi lain, perkembangan iklim global turut memberikan kontribusi terhadap berkurangnya peluang pembentukan awan hujan di Indonesia. BMKG mencatat nilai indeks Nino3.4 mingguan masih berada pada angka +1,47, sementara nilai 30-days running average Southern Oscillation Index (SOI) tercatat sebesar -27,4. Kedua indikator tersebut menunjukkan kecenderungan penguatan fenomena El Niño yang terus berlangsung sejak pertengahan Mei lalu.
Para ahli meteorologi memprediksi fenomena tersebut berpotensi berkembang menjadi El Niño kuat sepanjang tahun 2026. Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya dapat berupa berkurangnya intensitas hujan di banyak wilayah Indonesia, peningkatan suhu udara, serta meningkatnya risiko kekeringan di sejumlah daerah.
Meski demikian, BMKG menjelaskan bahwa peluang hujan belum sepenuhnya hilang. Sejumlah dinamika atmosfer masih mampu memicu pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah tertentu.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), misalnya, diperkirakan masih aktif di wilayah Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Kehadiran fenomena ini berpotensi meningkatkan pembentukan awan konvektif yang dapat memicu hujan.
Selain MJO, aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial juga diprakirakan berkembang di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga kawasan Samudra Pasifik di utara Papua. Dukungan kondisi suhu muka laut yang relatif hangat, ditambah adanya belokan angin serta zona konvergensi, masih membuka peluang terbentuknya awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Secara umum, kondisi cuaca di Tanah Air diprakirakan didominasi cuaca cerah berawan hingga hujan ringan. Namun demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang yang dapat terjadi di beberapa daerah.
Wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, Papua Pegunungan, serta Papua.
Khusus untuk wilayah Banten dan Jawa Barat, BMKG mengingatkan adanya potensi angin kencang yang perlu diwaspadai masyarakat selama periode 20 hingga 23 Juli 2026. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, baliho roboh, hingga gangguan aktivitas transportasi dan masyarakat.
Memasuki musim kemarau yang semakin dominan, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan mengurangi paparan sinar matahari langsung. Penggunaan pelindung tubuh, topi, payung, maupun tabir surya sangat dianjurkan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Selain itu, masyarakat diminta memperhatikan kebutuhan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat cuaca panas yang berkepanjangan.
BMKG juga menyoroti meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan seiring mengeringnya vegetasi di berbagai wilayah. Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan meningkatkan pengawasan terhadap kemunculan titik panas atau hotspot yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran besar.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, baik untuk membersihkan lahan, membuka area perkebunan, maupun membakar sampah rumah tangga. Larangan tersebut menjadi semakin penting terutama di kawasan lahan gambut, semak belukar, hutan, serta area kering yang sangat rentan terbakar.
Apabila ditemukan indikasi kebakaran atau munculnya titik api, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum api meluas dan sulit dikendalikan.
Di tengah dominasi musim kemarau, BMKG mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi secara lokal. Hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang masih mungkin muncul secara tiba-tiba di sejumlah daerah.
Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap berbagai dampak yang dapat ditimbulkan, seperti pohon tumbang, genangan air, sambaran petir, hingga kerusakan fasilitas umum. Saat cuaca buruk terjadi, masyarakat disarankan untuk tidak berteduh di bawah pohon besar, papan reklame, maupun bangunan yang kondisinya rapuh.
BMKG mengajak masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca melalui kanal resmi, baik melalui situs BMKG, aplikasi InfoBMKG, maupun media sosial resmi @infobmkg. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem, kekeringan, maupun ancaman kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi meningkat selama musim kemarau tahun ini.