Presiden Prabowo Subianto menunjuk Muhammad Qodari sebagai Wakil Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Saat pelantikan, Qodari sempat salah waktu. Foto: Antara
JAKARTA, (ERAKINI) - Presiden Prabowo Subianto menunjuk Muhammad Qodari sebagai Wakil Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Sebelum ditugasi di KSP, Qodari bersama sejumlah tokoh politik dan profesional lainnya mengikuti pembekalan calon wakil menteri di kediaman Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis, 17 Oktober 2024.
Saat pelantikan Kabinet Merah Putih , Qodari sempat salah waktu. Nama Qodari disebut dalam daftar 48 menteri dan pejabat setingkat menteri yang dilantik di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/10/2024) pukul 10.00 WIB.
Namun Qodari dibacakan oleh Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kementerian Sekretaris Negara, Ninik Purwanti. Namun Qodari baru menghadiri acara pelantikan wakil menteri pada pukul 15.00 WIB.
"Setahu saya undangannya siang ini (pelantikan wamen), karena posisinya sebagai Wakil KSP kan, sama dengan teman-teman wamen," kata Qodari.
Qodari dikenal sebagai pengamat politik dan peneliti yang sering tampil sebagai narasumber di media untuk membahas isu-isu politik di Indonesia.
Dirangkum dari berbagai sumber, Rabu (23/10/2024), Qodari menempuh pendidikan di Jurusan Psikologi Sosial Universitas Indonesia. Ia kemudian melanjutkan studi master di Political Behaviour di University of Essex, Inggris.
Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, Qodari sering dijadikan rujukan oleh wartawan untuk analisis dan ulasan politik, serta diakui memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam menangkap isu-isu yang berkembang.
Qodari yang lahir 15 Oktober 1973 menyelesaikan program sarjana (S-1) di Universitas Indonesia
tahun 1997. Selanjutnya program pasca sarjana (S-2)di University of Essex, Inggris tahun 2002, dengan mendalami bidang political behavior.
Qodari kemudian mendapatkan gelar Doktor Ilmu Politik tahun 2016 di Fisipol, Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan predikat yang sangat memuaskan. Ia mengangkat disertasi berjudul "Split-Ticket Voting dan Faktor-Faktor yang Menjelaskannya Pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia Tahun 2014".
Pada November 2006, ia mendirikan Indo Barometer, lembaga survei yang mengamati perilaku sosial-politik masyarakat Indonesia. Sebelumnya, ia pernah menjabat di berbagai posisi, termasuk Wakil Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), dan peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
Qodari pernah melempat wacana "Jokowi-Prabowo 2024" (Jokpro2024), yang cukup menarik perhatian publik.
Salah satu alasannya mendukung Jokowi berpasangan dengan Prabowo adalah untuk menghindari polarisasi politik kembali terjadi di tengah masyarakat. Qodari khawatir polarisasi politik seperti yang terjadi di Pilpres 2014, Pilkada DKI Jakarta 2017, serta Pilpres 2019, kembali terulang.
Riwayat Pendidikan:
S-1 bidang Psikologi Sosial dari Universitas Indonesia (1997).
S-2 bidang Political Behaviour di University of Essex, Inggris (2002).
S-3 bidang Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2006)
Karier:
Direktur Eksekutif Indobarometer (IB)
Wakil Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) (Juli 2005-Oktober 2006)
Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (Juli 2003- Juni 2005)
Chief Editor Majalah Kandidat, Campaign and Election Magazine (Agustus 2003-Juni 2004)
Peneliti di Centre for Strategic and International Studies/CSIS (November 2002-Juli 2003)
Kolomnis dan Pengamat Politik (sejak 1999-sekarang)
Peneliti Institut Studi Arus Informasi/ISAI (Mei 1999-September 2001).