Ilustrasi – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)
SEMARANG, (ERAKINI) – Pihak Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Jawa Tengah akhirnya mengakui bahwa ada bullying atau perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Prodi Anestesi.
Hal itu disampaikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Undip, dr. Yan Wisnu Prajoko dalam forum sidak di Aula FK Undip Semarang, Jumat (13/9/2024) petang yang dihadiri oleh anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago.
Yan Wisnu mengatakan perundungan di Anestesi itu berupa iuran uang yang dibebankan ke mahasiswa baru (maba) semester 1 sebesar Rp20-40 juta. Perundungan itu, kata dia, terjadi karena kesalahan sistem kerja yang berat, sehingga selama menjalani PPDS di RSUP dr. Kariadi ada pungutan uang dari junior untuk kebutuhan baik maba maupun senior.
"Hasil investigasi terhadap mahasiswa PPDS yang sudah diperiksa, konsepnya gotong royong," katanya dikutip dari Antara, Sabtu (14/9/2024).
Ia menjelaskan, bahwa iuran yang berasal dari mahasiswa Anestesi semester 1 itu digunakan untuk gotong-royong konsumsi dan membayar operasional lainnya seperti menyewa mobil hingga membayar kos. Setelah semester 2, kata dia, tidak lagi dan beralih ke mahasiswa semester 1 berikutnya.
“Anestesi antara 7-11 mahasiswa per semester, mereka menyampaikan ke tim investigasi, temuan yang signifikan itu," jelas Yan Wisnu.
Selain itu, pihaknya juga mengakui bahwa di Prodi Anestesi, iuran mahasiswa baru paling banyak, sementara di prodi lainnya, kata dia, tak ada iuran sebesar di Prodi Anestesi.
Diakui Yan Wisnu bahwa pihaknya pernah membatasi iuran teresbut dalam surat edaran pada 25 Maret 2024 lalu. Pada surat edaran yang terkait pencegahan perundungan itu, iuran bagi mahasiswa PPDS dibatasi hanya Rp 300 ribu.
"25 Maret saya buat surat edaran terkait itu, ada 3 poin tapi salah satunya saya membatasi, saya bisa mentoleransi saya tahulah kadang mereka perlu nyanyi, sepakbola, bulu tangkis itu tidak ada di biaya akademik kan tidak ada di UKT," jelasnya.
Pembatasan itu dilakukannya karena pihaknya mengakui sulit untuk menyetop iuran sepenuhnya. Dan dia pun berharap iuran itu dihapus. Ia menegaskan bahwa apa pun alasannya, pungutan tersebut bukanlah hal yang benar, sehingga itu masuk dalam bullying atau perundungan.
Kampus Undip tepatnya di PPDS Anestesi disorot banyak pihak usai kasus dokter Aulia Risma, dokter RSUD Kardinah Tegal yang ditemukan meninggal dunia pada Senin (12/8/2024) di kamar kosnya diduga karena mengalami perundungan. Awalnya, pihak Undip membantah bahwa dr. Aulia meninggal karena perundungan. Namun, saat ini pihak Undip mengakui dan meminta maaf atas adanya perundungan tersebut.