Menag Nasaruddin Umar menerima donasi kemanusiaan dari berbagai lembaga mitra saat Gelaran Doa Guru dan Donasi untuk Negeri pada Puncak HGN 2025, di TMII, Sabtu (6/12/2025). Foto: Erakini/Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Rangkaian peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 Kementerian Agama (Kemenag) resmi ditutup. Puncak HGN 2025 dirangkai dengan Doa Guru dan untuk Negeri di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (6/12/2025).
Gelaran Doa Guru dan Donasi untuk Negeri dengan tema “Merawat Semesta dengan Cinta” ini dihadiri ribuan guru madrasah mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Doa Guru dan Donasi ini juga diikuti sekitar 3.000 guru madrasah dari seluruh Indonesia secara hybrid.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan, Doa Guru dan Donasi untuk Negeri ini ditujukan bagi masyarakat Indonesia yang sedang tertimpa bencana, terutama di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
“Kemarin kita menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan hati di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dan inilah dunia yang kita tempati sekarang ini, kita hanya berusaha tapi Tuhan yang menentukan. Maka itu, doa para guru dan juga sekaligus pengabdian kita kepada negara ini sangat penting,” ujar Nasaruddin.
Nasaruddin menyampaikan bahwa Kemenag telah berhasil mengumpulkan donasi untuk bencana Sumatera dengan total Rp150 miliar. Donasi itu berasal dari masyarakat, anggaran kementerian, serta pejabat dan pegawai Kemenag. Mulai dari pejabat Eselon I yang menyumbangkan satu bulan tunjangan kinerja, donasi dari Dharma Wanita Kemenag, Asosiasi Penyuluh, Penghulu, hingga Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
“Itu semuanya memberikan semacam apresiasi dan rasa keprihatinan terhadap saudara-saudara kita yang terdampak bencana di tiga provinsi besar, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” kata Menag.
Menag mengungkapkan, tidak sedikit madrasah, rumah ibadah, pesantren, asrama, KUA, serta tempat-tempat layanan publik Kemenag yang terdampak bencana. Namun, jumlah pastinya masih dalam proses pendataan.
Donasi yang terkumpul ini akan dipergunakan untuk membantu masyarakat terdampak dan sesegera mungkin membangun kembali sarana dan prasarana pendidikan yang rusak.
“Tentu prioritas pertama itu adalah membangun madrasah-madrasah yang hancur, pesantren, asrama, KUA, tempat-tempat layanan. Termasuk juga teman-teman agama lain, ya, ada gereja dan sekolah keagamaan lainnya yang terdampak. Itu semuanya akan kita berikan bantuan,” ujar Menag.
Nasaruddin menyadari bantuan dari Kemenag ini tidak dapat mengatasi dampak bencana. Maka itu, ia mengajak masyarakat Indonesia, baik di tanah air maupun luar negeri, untuk sama-sama membantu meringankan beban yang terdampak bencana.
Kekuatan Doa Guru
Menag menyebutkan bahwa doa para pendidik merupakan “infrastruktur spiritual” yang tak pernah terlihat, namun selalu bekerja mempertahankan optimisme, karakter, dan daya tahan masyarakat Indonesia.
Doa guru menjadi kekuatan yang ikut menopang negeri di tengah berbagai ujian, termasuk bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. “Guru adalah pintu berkah. Doa mereka untuk murid seperti doa orang tua untuk anak,” katanya.
Menurut Menag, guru bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi orang tua intelektual dan spiritual yang memikul peran besar dalam menjaga moral bangsa.
“Di tengah pujian dunia atas kemajuan ekonomi Indonesia dan pengakuan internasional terhadap kepemimpinan nasional, negeri ini tetap diuji oleh bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dan justru dalam momen inilah nilai pengabdian guru terasa semakin kuat,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Menag kembali menegaskan pentingnya memasukkan perspektif ekoteologi ke dalam kurikulum madrasah. Ia menyebut bahasa agama sebagai medium efektif menanamkan kesadaran ekologis, mengingat kerusakan lingkungan adalah isu moral dan spiritual. “Merusak lingkungan adalah dosa, merawat lingkungan adalah pahala,” tegasnya.
Menag mendorong guru menjadi teladan cinta lingkungan, mengingat kualitas bumi akan menentukan kualitas manusia sebagai hamba dan khalifah. Program ekoteologi yang telah diluncurkan Kemenag menjadi prioritas strategis dalam membangun peradaban hijau melalui madrasah yang berkarakter 24 jam, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag Amien Suyitno melaporkan, dalam acara tersebut diperoleh penyaluran donasi kemanusiaan dari berbagai lembaga mitra dengan nilai lebih dari Rp410 juta. Rinciannya, BSI mendonasikan Rp250 juta, Bank Mandiri Syariah Rp60 juta, BTN dan BTN Syariah Rp50 juta, BJB Syariah Rp25 juta, dan Bank Mega Syariah sebesar Rp25 juta.
Selain donasi dari lembaga mitra, Ditjen Pendis akan mengalokasikan bantuan untuk bencana Sumatera sebesar Rp59,9 miliar. Nilai ini meningkat dari rencana awal sebesar Rp40 miliar. Setelah dilakukan penyisiran anggaran, Ditjen Pendis mendapatkan tambahan Rp19 miliar.
“Kami ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah mendonasikan bantuan, khususnya untuk saudara kita yang tertimpa bencana. Kita doakan mudah-mudahan mereka yang sedang tertimpa musibah terus bersabar sekaligus bisa kembali pulih seperti sediakala,” katanya.
Penghargaan bagi Guru Berprestasi
Puncak HGN 2025 ditutup dengan Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Penyerahan penghargaan bagi guru berprestasi dari berbagai kategori itu diserahkan langsung oleh Menteri Agama.
Anugerah GTK ini merupakan bentuk apresiasi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam peningkatan kualitas pembelajaran.
"Ini dalam rangka memberikan pemuliaan terhadap guru. Karena guru sangat berjasa dalam mencerdaskan bangsa. Karena itu kita berikan apresisasi," tegas Menag
Suasana haru dan hangat tampak mengiringi penghormatan kepada para pendidik yang menjadi teladan bangsa. Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem pendidikan Islam melalui spiritualitas, karakter, kepedulian lingkungan, kesejahteraan guru, dan kolaborasi nasional lintas sektor.