Taufik Hidayat berbagi pengalaman jelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025. Kisah hidupnya yang penuh kerja keras dan disiplin, bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda. Foto: Dok Kemenpora
JAKARTA, (ERAKINI) – Taufik Hidayat berbagi kisah dan pengalaman jelang peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP)2025 pada 20 Oktober. Kisah hidupnya yang penuh kerja keras dan disiplin, bisa menjadi bagi generasi muda.
Taufik Hidayat dikenal sebagai salah satu atlet tunggal putra terbaik Indonesia. Lahir pada 10 Agustus 1981, ia menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih medali emas Olimpiade Athena 2004 dan gelar juara dunia 2005, menjadi satu-satunya tunggal putra Indonesia yang berhasil menyandingkan dua gelar prestisius tersebut secara berurutan.
Ia dikenal karena pukulan smash tercepatnya yang mencapai 305 km/jam di Kejuaraan Dunia 2006, serta backhand smash legendaris hingga 206 km/jam. Taufik resmi gantung raket pada 12 Juni 2013 usai berlaga di Indonesia Terbuka, turnamen yang enam kali ia menangi, yakni pada 1999, 2000, 2002, 2003, 2004, dan 2006.
Dalam podcast Djoernal ID Kemenpora, Taufik pun menceritakan perjalanan kariernya hingga menjadi Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) saat ini.
Dalam podcast yang dipandu Nina Melinda, Taufik mengaku setelah pensiun dari dunia bulu tangkis pada 2013, sempat tidak terpikir untuk terjun ke dunia politik.
“Sebenarnya setelah 2013 saya enggak kepikiran berpolitik. Awalnya cuma karena ada relasi kerja. Dari situ mulai terlibat, dan ternyata dunia politik sangat berbeda dengan dunia atlet, jadi harus menyesuaikan,” ujar Taufik.
Sebelum resmi menjadi Wamenpora, Taufik aktif di berbagai organisasi olahraga. Dari sana ia banyak belajar dan berproses. Selain karier, Taufik juga menceritakan masa kecilnya. Sebelum menekuni bulu tangkis, ia ternyata lebih menyukai sepak bola.
“Dahulu dilarang main bola karena pulang selalu panas-panasan atau hujan-hujanan. Kemudian diarahkan ke bulu tangkis, mulai suka dan serius. Walaupun kadang sempat curi-curi waktu main bola,” kenangnya.
Taufik melihat tren olahraga di kalangan generasi muda saat ini cukup positif. Banyak cabang olahraga baru yang mulai digemari, seperti padel, serta olahraga lari yang membuat masyarakat lebih bugar.
Menjelang Hari Sumpah Pemuda, Taufik berpesan agar generasi muda fokus pada hal-hal positif dan mengutamakan kerja keras serta disiplin. “Menurut saya, masa depan ada di tangan sendiri, dengan arahan orang tua. Kalau kerja keras dan disiplin, Insya Allah sukses,” ujarnya.
Menutup podcast, Taufik memberikan pesan inspiratif: “Orang sering melihat hasil saat seseorang berada di puncak, tapi lupa proses yang dilalui. Dalam olahraga, enggak ada yang instan. Semua butuh kerja keras dan waktu. Ada prosesnya,” tukasnya.
Perjalanan Karier
Perjalanan Taufik Hidayat dimulai dari klub SGS Bandung di bawah bimbingan pelatih legendaris Iie Sumirat. Sejak usia 17 tahun, ia sudah menunjukkan bakat luar biasa dengan menjuarai Brunei Terbuka dan menembus semifinal Kejuaraan Asia serta Indonesia Terbuka 1998.
Setahun berselang, Taufik meraih gelar Indonesia Terbuka pertamanya dan tampil di final All England serta Singapura Terbuka, meski harus kalah dari Peter Gade dan Hariyanto Arbi.
Kariernya mencapai puncak pada tahun 2000, ketika Taufik menempati peringkat satu dunia pada usia 19 tahun, setelah menjuarai Malaysia Terbuka, Kejuaraan Asia, dan kembali menjadi juara Indonesia Terbuka. Ia juga berhasil menembus final All England kembali.
Di panggung Olimpiade, Taufik tampil empat kali. Debutnya di Sydney 2000 berakhir di perempat final. Namun, empat tahun kemudian, ia menebus kegagalan itu dengan merebut medali emas Olimpiade Athena 2004, menyingkirkan lawan-lawan tangguh seperti Peter Gade dan Boonsak Ponsana, sebelum menaklukkan Shon Seung-mo di partai final. Pada tahun yang sama, ia juga menjuarai Indonesia Terbuka dan Kejuaraan Asia.
Pada Kejuaraan Dunia 2005, Taufik memperlihatkan dominasi dengan mengalahkan Lin Dan dari Tiongkok di final, menegaskan posisinya sebagai pemain tunggal putra terbaik dunia saat itu.
Prestasi Taufik berlanjut dengan medali emas di Pesta Olahraga Asia 2006 di Doha dan Kejuaraan Asia 2007. Ia juga menyabet emas di SEA Games 2007 di Nakhon Ratchasima. Meski kembali gagal di Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012, namanya tetap melegenda, termasuk karena rivalitasnya dengan Lin Dan yang menjadi sorotan media internasional.