Kisah Perjuangan Syarifah, Anak Kurang Mampu yang Dapat Beasiswa Penuh di UGM
Abdul Rahman Ahdori
BALIKPAPAN, (ERAKINI) - Syarifah Nazwa tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025 dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Sarjana Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika ia juga memperoleh beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi, yang membebaskannya dari seluruh biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT).
“Alhamdulillah, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Saya sudah ingin kuliah di UGM sejak SMP,” ujar Nazwa yang juga alumnus SMA Negeri 1 Balikpapan seperti dilansir dari situs resmi UGM pada Kamis (19/6/2025).
Nazwa mengatakan, keinginannya untuk melanjutkan studi di UGM tidak didasarkan semata pada statusnya sebagai kampus ternama. Ia lebih melihat UGM sebagai tempat yang memberikan ruang besar bagi tumbuhnya cita-cita dan semangat belajar.
“Saya merasa UGM tempat yang tepat untuk berkembang, apalagi saya memang suka belajar hal-hal yang berhubungan dengan angka,” ujarnya.
Berjuang di Tengah Keterbatasan
Nazwa merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana di kawasan Balikpapan Selatan. Sejak SMP, ia tinggal bersama kakek dan bibinya di Kota Balikpapan, demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Di tengah perjuangannya menempuh pendidikan, Nazwa harus menghadapi kenyataan pahit: kedua orang tuanya berpisah. Sang ibu dan adik-adiknya tinggal di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sementara sang ayah tidak diketahui keberadaannya.
Meski demikian, situasi itu tidak mematahkan semangatnya. Nazwa tetap fokus menata masa depan dan membangun harapan lewat pendidikan. Ia berusaha menjaga nilai-nilai akademiknya tetap stabil.
“Saya rutin belajar 2 sampai 3 jam setiap malam, dan juga ikut bimbingan belajar. Target saya sejak awal memang jalur SNBP,” katanya.
Usahanya membuahkan hasil. Ia konsisten masuk 10 besar di kelas hingga akhirnya berhasil meraih kursi di UGM. Sempat muncul kekhawatiran karena dirinya tidak lolos beasiswa KIP Kuliah, namun Nazwa tetap berpikir positif dan mencari alternatif bantuan pendidikan lainnya.
“Alhamdulillah dapat beasiswa UKT. Saya percaya pintu kebaikan bisa terbuka dari mana saja,” tuturnya.
Siap Jalani Hidup Mandiri di Yogyakarta
Menjadi mahasiswa UGM juga berarti Nazwa harus hidup mandiri jauh dari keluarga. Meski sempat cemas, ia justru menjadikan situasi ini sebagai tantangan baru.
“Saya siap belajar mandiri, bergaul, ikut organisasi, dan cari pengalaman baru. Saya juga sudah baca-baca soal budaya Jogja dan kehidupan kampus agar bisa cepat beradaptasi,” ungkapnya.
Kebahagiaan Nazwa juga dirasakan oleh bibinya, Faradia Irzayana Yahya, yang selama ini mendampinginya. Faradia mengaku bangga dan terharu saat mengetahui keponakannya lolos ke kampus impian. Namun, ada pula kekhawatiran karena Nazwa harus merantau ke Yogyakarta.
“Senang karena impian Nazwa tercapai, meski ada rasa khawatir juga. Saya hanya bisa berdoa semoga dia tetap rajin, semangat, dan bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu,” pungkasnya.
















