Adinda Yusria Rachma (kiri) bersama sang ibunda (Foto: UGM)
YOGYAKARTA, (ERAKINI) - Wajah Adinda Yusria Rachma (18) berseri-seri saat ditemui di rumahnya di Kampung Tompeyan, Kota Yogyakarta. Dia baru saja meraih pencapaian besar dalam hidupnya yakni diterima sebagai mahasiswa baru Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), tanpa melalui tes.
Tak hanya itu, Adinda juga menerima BeasiswaUKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau dikenal sebagai 0. ini membebaskannya dari kewajiban membayar uang kuliah selama menempuh pendidikan.
“Waktu lihat nama saya lolos SNBP, rasanya kayak mimpi. Tapi ternyata belum selesai, beberapa hari kemudian saya cek dan ternyata saya juga dapat beasiswa. Senang tentunya karena bisa meringankan beban Ibu,” ujar Adinda, seperti dilansir dari situs resmi UGM, Minggu (13/6/2025).
Tumbuh dengan Semangat dari Ibu
Di balik kebahagiaan itu, tersimpan perjalanan hidup yang tidak mudah. Sejak usia 2,5 tahun, Adinda dibesarkan oleh ibunya seorang diri. Ayahnya meninggal dunia saat ia masih terlalu kecil untuk mengingat wajahnya.
Sang ibu, Eny Setyawati (57), adalah seorang guru Taman Asuh Anak Al Fatihah di lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan penghasilan terbatas dan waktu istirahat yang minim, Eny tetap konsisten mengantar anak-anaknya menggapai pendidikan terbaik.
“Saya tanamkan ke anak-anak, kalau bisa kerjalah di bidang yang bermanfaat entah pendidikan atau kesehatan. Karena itu ladang amal untuk bekal hidup panjang, bukan hanya di dunia,” tutur Eny.
Nasihat itu melekat kuat di benak Adinda. Pengalaman sang ibu sebagai pengasuh juga menginspirasi Adinda memilih jalan di dunia kesehatan. “Saya ingin membantu orang, terutama dalam situasi darurat,” katanya.
Ketertarikan Adinda pada dunia kesehatan semakin kuat saat ia aktif di OSIS dan Palang Merah Remaja (PMR) di SMA Negeri 8 Yogyakarta. Ia sering mengikuti pelatihan pertolongan pertama, simulasi bencana, dan kegiatan sosial lain yang membentuk panggilan hatinya.
Namun, aktivitas organisasi sempat berdampak pada nilai akademik. Adinda pun berbenah. Ia mulai membatasi kegiatan di luar pelajaran dan meningkatkan kebiasaan belajar malam. “Semester akhir saya push diri sendiri supaya masuk peringkat eligible. Akhirnya bisa masuk UGM sesuai harapan saya dan keluarga,” katanya dengan senyum lega.
Simbol Harapan di Kampus Kerakyatan
Bagi keluarga kecil ini, UGM bukan sekadar universitas bergengsi. Ini adalah simbol harapan yang semula tampak jauh, tetapi kini menjadi kenyataan. Adinda adalah anak pertama di keluarga yang berhasil menembus gerbang UGM. Kakaknya kini menempuh studi di Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Keduanya dibiayai dari penghasilan sang ibu yang bersahaja.
“Masuk UGM itu juga salah satu cita-cita Ibu. Jadi saya merasa ini bukan cuma kemenangan saya, tapi juga hadiah kecil untuk beliau,” ujar Adinda.
Di kampus nanti, Adinda telah menyiapkan visi yang jelas. Ia ingin mendalami praktik keperawatan, menangani pasien, serta aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan kegiatan kerelawanan, terutama di daerah bencana. Ia juga ingin terlibat dalam riset lapangan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat.
“Saya ingin bantu langsung masyarakat yang benar-benar membutuhkan tenaga medis. Itu salah satu alasan saya masuk keperawatan, bukan cuma karena saya suka, tapi karena saya merasa ini jalan saya untuk berkontribusi,” katanya.
Bukti Nyata Kampus Inklusif
Adinda menyadari perjuangan belum selesai, namun kini ia melangkah dengan pijakan lebih kuat. Ia merasa diterima oleh UGM bukan karena latar belakang, melainkan semangat dan kemampuannya.
“UGM membuktikan bahwa kampus kerakyatan itu nyata. Saya bersyukur banget jadi bagian dari kampus ini,” ucapnya.
Kisah Adinda Yusria Rachma menjadi cermin nilai-nilai kerakyatan, kemandirian, dan keberlanjutan yang diusung UGM. Melalui program beasiswaUKT Bersubsidi, kampus ini membuka pintu bagi anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang, memberi ruang bagi mereka yang berprestasi untuk tumbuh dan mengabdi. Pendidikan, sekali lagi, terbukti mampu mengubah nasib—bukan oleh keajaiban, melainkan lewat kerja keras, keyakinan, dan dukungan dari lingkungan yang tepat.