Tradisi unik di Pasuruan, dimana masyarakat menghormati hewan kurban melalui Manten Sapi. Foto: Istimewa
JAKARTA, (ERAKINI) - Pemerintah sudah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1446 H jatuh pada Jumat, 6 Juni 2025. Idul Adha merupakan salah satu momen sakral bagi umat Islam, yang juga diperingati dengan beragam tradisi unik di berbagai daerah Indonesia.
Selain berkurban, umat Muslim di Tanah Air juga merayakan Idul Adha dengan penuh kekhidmatan dan kebersamaan, melalui beragam . Di sejumlah daerah, perayaan Idul Adha memiliki kekhasan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi ini mencerminkan kekayaan budaya yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai Islam. Semuanya tetap mengusung pesan pengorbanan, rasa syukur, dan kepedulian. Dirangkum Erakini, Senin (2/6/225), berikut 14 tradisi unik dan penuh makna perayaan Idul Adha di berbagai daerah Indonesia:
1. Meugang (Aceh)
Aceh memiliki tradisi bernama Meugang, yang dilaksanakan menjelang Idul Adha maupun Idulfitri. Pada momen ini, masyarakat menyembelih hewan ternak seperti kambing atau sapi, lalu mengolah dagingnya menjadi masakan khas untuk dinikmati bersama keluarga.
Meugang sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Aceh terhadap Allah SWT sekaligus menjadi momen untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan solidaritas sosial masyarakat.
2. Tradisi Serentak (Banten)
Di Banten, terdapat tradisi Serentak. Masyarakat berkumpul di masjid-masjid besar untuk melaksanakan salat Idul Adha secara bersama-sama. Setelah salat, mereka melanjutkan dengan melaksanakan prosesi pemotongan hewan kurban secara serentak.
3. Dolanan Sapi (Jawa Barat)
Di beberapa daerah di Jawa Barat, terdapat tradisi Dolanan Sapi. Pada hari Idul Adha, anak-anak mengadakan pertunjukan teater tradisional yang menggambarkan proses pemotongan hewan kurban. Pertunjukan ini biasanya melibatkan boneka sapi yang terbuat dari anyaman bambu.
4. Apitan (Semarang)
Masyarakat Semarang mengekspresikan rasa syukur dalam tradisi Apitan. Dalam acara ini, berbagai hasil pertanian dan peternakan diarak dan dibagikan kepada warga.
Tradisi Apitan merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil bumi dari Allah SWT. Apitan mengajarkan nilai berbagi dan kebersamaan dalam merayakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan.
5. Gamelan Sekaten (Surakarta)
Di Surakarta, perayaan Idul Adha disemarakkan dengan lantunan Gamelan Sekaten. Gamelan Sekaten di Surakarta bukan hanya sekadar perayaan musik tradisional, tetapi juga simbol keagungan Islam di Jawa.
Dalam tradisi ini, musik gamelan mengiringi perayaan Idul Adha dan acara keagamaan lainnya. Tabuhan gamelan dimulai setelah salat Idul Adha selesai, dan acara ini menjadi bagian penting dari warisan budaya Jawa.
6. Grebeg Gunungan (Yogyakarta)
Tradisi Grebeg Gunungan di Yogyakarta memperlihatkan kemegahan budaya kraton.
Gunungan ini diarak dari Keraton menuju Masjid Gede Kauman, dikawal oleh para prajurit keraton.
Setelah pembacaan doa, hasil bumi tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol syukur dan berkah bersama. Grebeg Gunungan mengajarkan nilai solidaritas dan berbagi di antara masyarakat Yogyakarta.
7. Toron dan Nyalase (Madura)
Di Madura, suasana Idul Adha diramaikan dengan dua tradisi penting, yakni Toron dan Nyalase. Toron adalah kebiasaan para perantau Madura untuk pulang kampung menjelang Idul Adha, menciptakan momen kumpul keluarga yang hangat.
Setelah berkumpul, mereka melanjutkan dengan tradisi ziarah ke makam leluhur (Nyalase), yaitu penyembelihan hewan kurban yang dilakukan di halaman rumah atau masjid. Daging kurban kemudian dimasak menjadi hidangan khas seperti sate dan gulai kambing, lalu disantap bersama keluarga dan tetangga.
8. Manten Sapi (Pasuruan)
Di Pasuruan, masyarakat memiliki cara unik menghormati hewan kurban melalui tradisi Manten Sapi. Sapi-sapi yang akan dikurbankan dimandikan dan dihias dengan kain serta aksesoris sehari sebelum penyembelihan. Mereka kemudian diarak menuju tempat penyembelihan. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap rezek
Tradisi Manten Sapi di Pasuruan menjadi bentuk penghormatan terhadap hewan kurban. Prosesi ini mengajarkan nilai penghargaan terhadap makhluk hidup dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.
9. Mepe Kasur (Banyuwangi)
Di Banyuwangi, tradisi Mepe Kasur menjadi simbol penolakan terhadap bala dan keharmonisan rumah tangga. Kasur-kasur dijemur di depan rumah dengan tujuan mendapatkan keselamatan dan keberanian. Mepe Kasur mengajarkan nilai kebersamaan dan kesadaran akan perlunya menjaga keharmonisan rumah tangga.
10. Accera Kalompoang (Gowa)
Masyarakat Gowa, Sulawesi Selatan juga memiliki tradisi sendiri ketika hari Idul Adha tiba. Tradisi sakral ini bernama Acer Kalompoang.
Tradisi Kalompoang berlangsung selama dua hari berturut. Tradisi ini merupakan upaya untuk mempersatukan keluarga kerajaan dengan pemerintah melalui mencuci benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Gowa. Acara ini juga bertujuan untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Gowa.
11. Ngejot (Bali)
Di Bali, warga berbagi makanan, minuman, dan buah kepada tetangga. Hidangan dikemas rapi dan diantarkan ke rumah-rumah tetangga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Tradisi Ngejot ini bukan hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga menunjukkan cara masyarakat Bali menyelaraskan kearifan lokal dengan nilai-nilai Islam. Ngejot mengajarkan nilai saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai.
12. Kaul Negeri dan Abda'u (Maluku)
Tradisi Kaul Negeri dan Abda'u di Maluku Tengah, melibatkan pemuka adat dan agama di Negeri Tulehu yang menggendong 3 ekor kambing dengan kain setelah melakukan salat Idul Adha. Mereka berjalan mengelilingi desa bersama lantunan takbir serta shalawat menuju ke masjid.
Setelah itu penyembelihan hewan kurban berlangsung setelah Ashar. Perayaan tradisi ini berfungsi untuk menolak bala dan meminta perlindungan Allah SWT. Tradisi ini menjadi simbol kekuatan dan kebersamaan masyarakat Maluku.
13. Suku Sasak (Lombok)
Di Lombok Nusa Tenggara Barat, masyarakatnya memiliki tradisi Sasak Sembah. Setiap Idul Adha, mereka melaksanakan upacara tradisional yang melibatkan pemotongan hewan kurban dengan cara adat khas Suku Sasak.
14. Tradisi Paccapecci (Makassar)
Paccapecci adalah tradisi menghias hewan kurban dengan berbagai hiasan dan warna-warni. Masyarakat kemudian memamerkan hewan kurban yang dihiasi kepada masyarakat sebelum akhirnya mereka memotong dan mendermakan kepada yang membutuhkan.