Pondok Pesantren Cipasung merilis maklumat yang menyoroti pentingnya menjaga ketertiban organisasi dan mengedepankan musyawarah dalam menyikapi dinamika yang berkembang di tubuh Nahdlatul Ulama (NU). Foto: Ilustrasi/Ist
TASIKMALAYA, (ERAKINI) —Pondok Pesantren Cipasung merilis maklumat yang menyoroti pentingnya menjaga ketertiban organisasi dan mengedepankan musyawarah dalam menyikapi dinamika yang berkembang di tubuh Nahdlatul Ulama (NU).
Maklumat bernomor 239.MLK/SEKRE/PPC/XII/2025 itu ditandatangani oleh Pengasuh Pesantren, , pada Senin (8/12/2025).
Dalam maklumat tersebut, Cipasung menyampaikan bahwa NU adalah amanah para kiai, ulama, dan santri, sehingga seluruh unsur organisasi dipandang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ketenangan dan menghindari langkah-langkah yang dapat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Pesan ini ditegaskan melalui ajakan untuk kembali pada mekanisme musyawarah dan mengedepankan pendekatan yang mencerminkan akhlakul karimah.
Menata Relasi Syuriyah–Tanfidziyah Maklumat memberi perhatian khusus pada hubungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah. Cipasung menegaskan bahwa peran kedua unsur tersebut telah diatur jelas dalam sistem jam’iyyah:
1. Syuriyah diibaratkan sebagai penjaga nilai, arah, dan keteduhan organisasi.
2. Tanfidziyah berfungsi menjalankan keputusan organisasi dengan penuh tanggung jawab.
Cipasung menekankan bahwa relasi keduanya harus dibangun di atas saling menghormati, saling mendukung, dan menghindari sikap atau tindakan yang dapat memperuncing perbedaan.
Musyawarah Sebagai Mekanisme Penyelesaian Maklumat mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang menekankan pentingnya musyawarah dan pemenuhan komitmen organisasi. Dalam pandangan Cipasung, dinamika organisasi tidak dapat diselesaikan melalui manuver atau pernyataan yang memancing kegaduhan, tetapi melalui forum musyawarah yang sesuai dengan AD/ART serta peraturan jam’iyyah yang berlaku.
Cipasung mengingatkan bahwa mekanisme organisasi merupakan “akad” yang harus dijaga kesuciannya, sehingga seluruh keputusan dan langkah strategis semestinya berada dalam koridor yang telah disepakati bersama.
Seruan Islah untuk Meredakan Ketegangan
Salah satu penekanan utama dalam maklumat adalah ajakan menempuh islah, baik pada level struktur maupun di lingkungan warga NU secara umum. Cipasung menilai bahwa islah adalah langkah yang secara syar’i dan organisatoris paling tepat untuk meredakan ketegangan internal dan mengembalikan keteduhan jam’iyyah.
Seruan ini disampaikan tanpa menunjuk pihak tertentu, tetapi menekankan perlunya semua unsur menunjukkan kebijaksanaan dan menahan diri dari tindakan yang dapat memperkeruh suasana.
Fokus pada Agenda Keumatan Maklumat juga mengingatkan bahwa NU memiliki tanggung jawab besar terhadap umat, termasuk dalam merespons bencana yang terjadi di sejumlah daerah. Karena itu, Cipasung melihat perlunya mengalihkan energi organisasi dari polemik internal menuju agenda-agenda pelayanan masyarakat.
Posisi Cipasung dalam Tradisi NU
Sebagai informasi, Cipasung dikenal sebagai salah satu pesantren yang kerap memberikan pandangan moral terhadap dinamika NU. Sikap pesantren ini sering dipandang sebagai dorongan agar NU kembali pada ketertiban organisasi dan nilai dasar jam’iyyah. Namun dalam maklumat terbaru, pesan utama yang ditekankan adalah perlunya NU menjaga kesatuan dan mengedepankan mekanisme yang telah ditetapkan.
Melalui maklumat ini, Cipasung berharap agar NU dapat kembali menata langkah secara tenang, terukur, dan sesuai aturan organisasi, sehingga peran jam’iyyah dalam menjaga keteduhan masyarakat tetap terpelihara.