Ilustrasi - Momen Iduladha di rumah tahanan (rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Gus Yaqut Cholil Qoumas mendapatkan bawaan istimewa yaitu tempe goreng dari sang istri, Eny Retno Yaqut. (Foto: Instagram/gusyaqut).
JAKARTA, (ERAKINI) – Suasana Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah atau Rabu (27/5/2026) di Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diwarnai kunjungan keluarga dari Mantan Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), yaitu , Yaqut. Ia datang menjenguk suaminya dan berharap seluruh persoalan yang dihadapi keluarganya dapat berakhir dengan baik.
Usai menjenguk Gus Yaqut pada Rabu, Eny tampak tenang saat menyampaikan kondisi suaminya kepada awak media. Ia mengatakan membawa sejumlah makanan sederhana untuk sang suami, salah satunya tempe goreng, karena kondisi kesehatan Gus Yaqut yang memiliki riwayat penyakit gerd dan sempat mengalami demam. "Macem-macem sih bawanya, tapi yang penting ada tempe goreng, insya Allah aman," tutur Eny.
Ia mengungkapkan bahwa momentum Iduladha kali ini terasa berbeda bagi keluarganya. Namun demikian, keluarga tetap berusaha menjalani situasi dengan penuh ketabahan dan rasa syukur.
Menurut Eny, pada momen Lebaran Iduladha kali ini pihak keluarga mendapat waktu kunjungan lebih lama dibanding biasanya. Jika kunjungan reguler berlangsung sekitar dua jam, kali ini mereka memperoleh kesempatan selama tiga jam untuk bertemu Gus Yaqut.
Eny menuturkan bahwa selama lebih dari dua bulan masa penahanan, dirinya dan keluarga tidak pernah membahas perkembangan perkara hukum saat bertemu Gus Yaqut. Pertemuan keluarga lebih banyak diisi dengan cerita ringan, kebersamaan bersama anak-anak, dan hal-hal yang meneduhkan jiwa. Ia mengatakan, biarlah menjadi ranah kuasa hukum yang mencatat bahwa dalam dua bulan terakhir, Gus Yaqut baru menjalani dua kali proses pemeriksaan.
Dalam kesempatan tersebut, Eny mengenang pengalaman saat mendampingi Gus Yaqut ketika memimpin pelaksanaan ibadah haji tahun 2023. Ia mengaku masih teringat bagaimana suaminya sangat memikirkan kondisi jemaah haji Indonesia, khususnya ketika ribuan jemaah tertahan di Muzdalifah akibat kemacetan. Eny mengatakan Gus Yaqut kala itu sangat terpukul melihat para jemaah kepanasan dan kesulitan mendapatkan bantuan.
"Ya Allah Gusti, kula kedah pripun malih? (Ya Allah Gusti, saya harus berbuat apa lagi?, red)” ucap Eny menirukan kalimat rintihan Gus Yaqut kala itu yang terus terngiang.
Ia menyebutnya sebagai air mata seorang Amirul Hajj yang merasa dadanya sesak karena memikirkan nasib puluhan ribu jemaah yang kepanasan dan kehausan. Kini, kata dia, terasa kontras dengan jeruji besi yang mengurungnya saat ini.
Menurutnya, kenangan tersebut membuat dirinya merasa sedih melihat kondisi yang kini dialami Gus Yaqut. "Kalau mengingat betapa Abah memikirkan jemaah haji kita sampai setulus dan sesungguh-sungguh itu, sekarang dibeginikan, pasti hati saya sedih dan miris sekali," ungkap Eny Yaqut lirih.
Meski demikian, Eny mengaku tetap berusaha ikhlas dan menyerahkan seluruh persoalan kepada Allah SWT. Ia berharap segala kebaikan yang pernah dilakukan Gus Yaqut selama mengabdi dapat menjadi penolong bagi keluarganya. "Saya hanya berdo'a, jika lah ada kebaikan yang pernah Abah lakukan untuk jamaah haji Indonesia, semoga Allah ridho, dan menjadikannya sebagai penolong kami", imbuhnya.
Di akhir perbincangannya dengan para wartawan, Eny yang sebagai seorang istri dan ibu berharap agar di hari yang mustajabah ini, pintu-pintu langit terbuka untuk mendengar untaian doa keluarganya. Ia mengetuk pintu hati kita semua untuk sudi menyelipkan doa, agar ma'unah (pertolongan) Allah segera menyapa mereka sekeluarga.
"Doakan Abah diberi kekuatan lahir batin oleh Allah. Doakan juga saya dan anak-anak diberi kesabaran dalam menjalani ujian ini. Semoga semua berakhir baik; yang benar akan terlihat benar, demikian juga sebaliknya," tutup Eny.