Profil KH Said Aqil Siroj, Alumnus Pesantren Lirboyo yang Mendunia
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur memiliki peranan yang cukup besar dalam upayanya membangun bangsa melalui pendidikan keagamaan. Tak ayal, banyak alumni pesantren ini yang berhasil menjadi tokoh terkemuka di Indonesia.
Sebut saja, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2015-2020 KH Said Aqil Siroj yang saat ini menjadi pengasuh pesantren Al-Tsaqafah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Sosok Said Aqil Siroj disebut-sebut sebagai kiai yang cerdas dan berpengaruh di Indonesia. Bahkan, Kiai Said diyakini mampu mengharumkan nama NU dan pesantren.
Dilansir dari NU Online pada Jumat (30/5/2025), di sebuah sudut tenang di Desa Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, pada 3 Juli 1953, lahirlah seorang bayi laki-laki yang kelak menjadi salah satu tokoh Islam paling berpengaruh di Indonesia. Putra dari pasangan KH Aqil Siroj dan Nyai Hj Syamsiyah itu diberi nama Said.
Lahir dalam kultur pesantren yang kuat, Said kecil tumbuh dalam asuhan langsung sang ayah, seorang ulama yang juga penerus dakwah dari Kiai Muhammad Said Gedongan—pejuang kemerdekaan dan penyebar Islam di Cirebon. Hidup dalam kesederhanaan, keluarga Said hanya memiliki sepeda ontel, bahkan untuk membeli rokok pun sering tak mampu.
“Zaman dulu mobil sangat langka. Setelah panen kacang hijau, ayah pergi ke pasar Cirebon,” kenang Kiai Said dalam bukunya Meneguhkan Islam Nusantara (Khalista, 2015).
Setelah menyelesaikan pendidikan agama di pesantren sekitar Cirebon, Said muda hijrah ke Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Di sana, ia berguru pada para ulama kharismatik seperti KH Mahrus Ali dan KH Marzuki Dahlan. Pendidikan formalnya dilanjutkan di Universitas Tribakti, lalu pindah ke Yogyakarta untuk belajar di IAIN Sunan Kalijaga dan Pesantren Al-Munawwir Krapyak di bawah bimbingan KH Ali Maksum.
Menuntut Ilmu Hingga Tanah Suci
Kehausan ilmunya tak terhenti di dalam negeri. Pada 1980, bersama istrinya, Nurhayati, Said menempuh studi di Makkah. Ia menimba ilmu di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qura hingga meraih gelar doktoral. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga di tengah keterbatasan beasiswa, ia bekerja sebagai kuli angkut karpet di toko milik warga Saudi.


















