Sidang lanjutan kasus kuota haji tambahan 2024 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (10/9/2026). (Foto: Ahdori/Erakini)
JAKARTA, (ERAKINI) - Kuasa hukum terdakwa kasus dugaan korupsi pengelolaan kuota haji tambahan 2023-2024, Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut, Melissa Anggraini, mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai kuota tambahan haji 2024 awalnya muncul secara mendadak dalam pertemuan Presiden ke-7 RI Joko Widodo dengan Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), 19 Oktober 2023.
Bahkan terkait ini, Gus Yaqut yang saat itu menjabat Menag sama sekali tidak mengetahui karena tidak diajak mengikuti pertemuan bilateral di Arab Saudi.
Pernyataan Melissa itu merespons keterangan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Ario Bimo Nandito Ariotedjo alias Dito Ariotedjo yang menyampaikan bahwa pembahasan kuota haji tambahan muncul mendadak saat menjadi saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (10/9/2026).
"Iya, tadi kami juga sudah menggali, ternyata pada saat pertemuan Presiden bersama dengan para menteri yang lainnya termasuk di antaranya ada Dito, itu Presiden secara spontan menyampaikan terkait dengan permintaan kuota tambahan karena pada saat itu ditanya oleh Kementerian Saudi ingin apa, ya. Kemudian disebutkan beberapa hal di antaranya adalah penambahan kuota," ujar Melissa kepada wartawan.
Melissa menjelaskan, pada saat itu tidak ada pembahasan mengenai teknis pembagian kuota tambahan, termasuk jumlah kuota yang akan diberikan kepada Indonesia.
"Nah, pada saat itu memang tidak pernah membahas secara teknis ini seperti apa, berapa angkanya, karena tentu pada saat itu juga terungkap ya, tadi tidak ada kehadiran Menteri Agama dalam pertemuan itu," tuturnya.
Karena itulah, kata Melisa, Gus Yaqut tidak mendapatkan informasi bahwa dalam pertemuan tersebut akan ada permintaan tambahan kuota haji.
"Gus Yaqut tidak tersampaikan, tidak terinformasikan bahwa akan ada permintaan kuota tambahan. Dito menyebutkan tadi ini spontan, ya," ujar Melissa.
Lebih lanjut, Melissa mengatakan, bahwa dalam persidangan juga ditunjukkan video mengenai pernyataan Jokowi terkait hasil permintaan tambahan kuota haji tersebut. Dalam video itu, Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia akan memperoleh tambahan kuota sebanyak 20.000 jemaah.
Namun, pada tahap tersebut belum ditentukan apakah tambahan kuota itu akan dialokasikan untuk jemaah haji reguler ataupun khusus.
Melissa lalu menyinggung keterangan saksi-saksi sebelumnya yang menyebut bahwa hingga 21 Desember 2023 belum ada kepastian mengenai jumlah kuota tambahan yang akan diberikan Arab Saudi kepada Indonesia.
"Nah, dalam keterangan saksi-saksi kemarin terang sekali dari Direktur Luar Negeri menyampaikan bahwa sampai tanggal 21 Desember belum ada titik terang kuota ini mau diberikan berapa. Jadi semuanya masih menunggu," ujarnya.
Menurut Melissa, pembagian kuota tambahan dengan skema 50:50 antara haji reguler dan haji khusus baru ditentukan melalui kajian teknis.
Diketahui, dalam persidangan sesi pertama dengan terdakwa Gus Yaqut, Dito mengungkap bahwa dirinya pernah mendampingi Jokowi dalam pertemuan bilateral dengan pemerintah Arab Saudi pada akhir 2023.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemudian menggali apakah dalam pertemuan tersebut Jokowi dan pimpinan Arab Saudi turut membicarakan pelaksanaan ibadah haji bagi Indonesia.
Dito mengatakan, pembahasan mengenai haji tidak berlangsung dalam agenda utama pertemuan bilateral. Menurut dia, pembicaraan mengenai tambahan kuota haji muncul saat agenda makan siang yang menjadi bagian akhir dari rangkaian pertemuan.
"Sebenarnya lebih spesifik tidak ada. Itu terjadi pada saat makan siang. Maksudnya pada saat agenda terakhir," ujar Dito dalam persidangan.
Dito menjelaskan, pembahasan itu bermula ketika pimpinan Arab Saudi menanyakan kembali poin-poin konkret yang perlu menjadi fokus kedua negara setelah agenda utama pertemuan selesai.
"Tidak ada. Itu hanya pada saat itu yang saya dengar dan ikuti karena pertemuan sudah selesai, dari Raja Arab menanyakan kembali kira-kira poin-poin apa saja yang harus menjadi fokus konkret dari pertemuan kedua pimpinan negara tersebut," katanya.