3 Mantan Rais Aam PBNU yang Terkenal Alim dan Banyak Menelurkan Karya
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Salah satu agenda penting dalam permusyawaratan tertinggi NU tersebut adalah pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode mendatang.
Rais Aam dipilih oleh Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), yakni sembilan ulama sepuh yang mendapat amanah untuk menentukan sosok yang akan menduduki posisi tersebut.
Rais Aam merupakan jabatan tertinggi di lingkungan NU. Sosok yang mendudukinya memiliki peran strategis dalam menentukan arah organisasi dan membawa NU menghadapi berbagai tantangan di tengah masyarakat.
Dalam sejarahnya, NU pernah dipimpin sejumlah ulama yang dikenal alim, memiliki pengaruh besar, serta aktif melahirkan pemikiran dan karya tulis. Beberapa di antaranya bahkan menjadi rujukan dalam perkembangan pemikiran keislaman dan kehidupan kebangsaan di Indonesia.
Berikut tiga mantan Rais Aam PBNU yang dikenal alim dan aktif menelurkan karya.
1. KH M Ali Maksum (1980-1984)
KH Ali Maksum merupakan salah satu ulama besar Nahdliyin yang lahir di Lasem, Jawa Tengah, pada 1915.
Kiai Ali merupakan putra salah satu pendiri NU, KH Maksum Ahmad, dengan Nyai Hj Nuriyati. Dalam perjalanan keilmuannya, KH Ali Maksum pernah menjadi murid Syekh Dimyathi Tremas di Pacitan. Ia juga merupakan menantu ulama ahli Al-Qur'an, KHM Munawwir Krapyak Yogyakarta.
KH Ali Maksum kemudian mengembangkan pesantren milik ayahnya di Soditan, Lasem. Setelah pulang dari Makkah pada 1941, ia menekuni bidang tafsir. Keilmuan tersebut antara lain diwarisi dari gurunya, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki al-Hasani dan Syekh Umar Hamdan.


















