Yaqut Cholil Qoumas saat membuka Sistem Seleksi Elektronik (SSE) Ujian Masuk (UM) PTKIN 2024 di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Senin (24/6/2024). Foto: UIN Bandung
Jumlah pendaftar dan peserta ujian UM PTKIN dalam kurun waktu tiga tahun terakhir cenderung menurun. Pada tahun 2022 jumlah pendaftar tercatat sebanyak 100.879 siswa. Lalu, tahun 2023 sebanyak 97.115 siswa, dan tahun 2024 berjumlah 93.819 siswa. Tetapi, dari sisi peminat mengalami peningkatan sebesar 10% dari 110.101 pada tahun 2023 menjadi 111.124 di tahun ini.
“Pasti ada sesuatu yang kurang dari kita. Bisa jadi cara kita mensyiarkan pentingnya kuliah di PTKIN ini masih kurang, atau kita masih sering menggunakan cara-cara lama dari cara-cara baru agar anak-anak SMA itu tertarik masuk UIN atau PTKIN,” ujar Menag saat membuka Sistem Seleksi Elektronik (SSE) Ujian Masuk (UM) PTKIN 2024 di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Senin (24/6/2024), dikutip dari laman kemenag.go.id.
“Sebenarnya kita bisa belajar dari cerita sukses madrasah. Madrasah hari ini menjadi tempat belajar yang diburu oleh anak-anak kita, bahkan sudah melampaui sekolah-sekolah umum. Pasti ada success story ada di dalam madrasah yang bisa kita ambil hikmah atau cara kita mempromosikan PTKIN, sehingga jumlah peminat dan pendaftar sama,” sambung Gus Men, sapaan akrab Menag.
Menurut Gus Men, sudah saatnya PTKIN menjemput bola. Tidak hanya menunggu namun melakukan kolaborasi, baik melibatkan sekolah umum maupun madrasah unggulan.
"Kolaborasi dan berfikir keras menjadi keharusan untuk peningkatan UM-PTKIN. Saya memiliki optimisme kuat, apa yang diajarkan PTKIN berbeda dengan PTN, kita memiliki kekhususan yang tidak ada di PTN, dan saya menyakini di tengah gempuran ideologi budaya yang borderless tidak ada batasan itu, ilmu-ilmu yang diajarkan di PTKIN bisa menjadi benteng pertahanan terakhir bagi bangsa besar ini, dan ini tinggal cara kita mengemasnya seperti apa untuk ikut mencerdaskan bangsa,” tegasnya.
Menurut Gus Men, sistem seleksi elektronik ujian masuk PTKIN jika di-breakdown lagi, sudah cukup menjadi cara mengajak anak-anak berkuliah di PTKIN.
“Secara tidak langsung sebenarnya kita menyadari warna digital itu jadi dunia anak sekarang, tetapi di lain sisi, cara mempromosikan perguruan tinggi kita belum mengikuti dunia anak-anak kita. Saya tidak banyak menemui, misalnya PTKIN yang secara agresif mau memberitakan atau menyampaikan, cerita PTKIN di media sosial seperti Instagram, Facebook, Tiktok tentang PTKIN,” ucapnya.
Gus Men melihat tidak banyak PTKIN yang sangat agresif melakukan penetrasi di media sosial. Karenanya, ia meminta masing-masing PTKIN perlu membuat tim yang secara khusus bermain di media sosial, lebih aktif membicarakan soal kampus.
“Tidak cukup kalau hanya mengandalkan forum-forum offline, berapa yang bisa kita jangkau, intervensi ke media sosial itu penting dan yang tidak kalah penting adalah kontennya,” tandas Gus Men.
“Jadi, kontennya jangan kaku-kaku, kontennya harus memiliki cara berfikir anak-anak sekarang tanpa harus menyebut PTKIN mana saya sudah melihat PTKIN yang sudah mulai bermain di media sosial, tetapi kontennya kurang menarik,” ucapnya.
Selain itu, kata Gus Men, perlu meningkatkan kolaborasi dengan sekolah-sekolah menengah atas, atau sekolah umum maupun madrasah. Bagaimana pihak sekolah-sekolah itu menyampaikan ke anak didiknya apa sih PTKIN itu.
“Kita datangi sekolah-sekolah, kita kampanyekan PTKIN itu langsung kepada anak-anak. Kemudian dengan merekrut alumni-alumni, terutama alumni-alumni yang memiliki nama besar, itu salah satu menarik cara anak-anak mau kuliah di PTKIN,” terangnya.
Hal yan tidak kalah penting lainnya, lanjut Gus Men, adalah beasiswa. Tawaran beasiswa dalam situasi ekonomi seperti sekarang ini pasti sangat menarik. “Kita harus cari cara di saat situasi seperti ini. Beasiswa ini bisa menjadi daya tarik buat anak-anak kita,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2024, Nyayu Khodijah, menjelaskan, seleksi UM-PTKIN 2024 diikuti oleh 92.252, termasuk 64 peserta berkebutuhan khusus.
“Dari jumlah pendaftar 93.819 orang, yang berhasil mengikuti ujian hari ini berjumlah 92.252 orang yang terdiri dari 33.944 laki-laki, 58.308 perempuanm dan 64 difabel. Alhmdulilah, untuk peminat adanya peningkatan dari tahun lalu 110.101 jadi 111.124 pada tahun sekarang, dengan daya tampung 85.919 yang terdiri dari 1.306 program studi, 58 PTKIN, 1 PTN dan 17.379 sekolah,” jelasnya.
Mata uji SSE UM-PTKIN 2024 terdiri atas penalaran akademik 30 menit dengan jumlah soal 30, penalaran matematika 20 menit untuk 15 soal, literasi membaca 40 menit untuk 24 soal, literasi ajaran Islam 30 menit untuk 30 soal,” tuturnya.
Pelaksanaan SSE UM-PTKIN 2024 ini memiliki keunggulan di antaranya penggunaan bot (robot), help desk UM-PTKIN, aplikasi, soal ramah disabilitas, pemaketan instrumen ujian yang lebih realiable, serta soal listening pada literasi membaca.
Selain itu, pemutakhiran aplikasi SSE UM-PTKIN, aplikasi layanan dan bantuan, pengembangan aplikasi SSE UM-PTKIN berbasis android, pelibatan Kabid Penma, Kabid PD Pontren, Duta Kampus dalam sosialisasi, peningkatan mutu seleksi melalui audit internal.