Para perwira tinggi TNI yang saat ini menjadi komandan pasukan di satuan elite matra Darat, Laut, dan Udara. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI - TNI memiliki sejumlah satuan elite dengan kemampuan tempur di atas rata-rata. Lantas siapa saja komandan para prajurit pilihan di satuan elite tersebut?
Satuan elite ini dimiliki masing-masing matra TNI, baik Angakat Darat (), Angkatan Laut (), dan Angkatan Udara (). Tugas ini berbeda dengan satuan pada umumnya. Pasukan dibentuk dan dilatih khusus untuk melakukan misi-misi tertentu.
Saat ini terdapat enam satuan eliteTNI yang tersebar di tiga matra. Berikut daftar komandan keenam satuan elite, dirangkum dari berbagai sumber, Jumat (20/9/2024).
1. Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Kopassus saat ini dikomandoi Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Djon Afriandi. Jenderal bintang 2 kelahiran 14 Juni 1972 ini menjabat Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus sejak 8 Maret 2024.
Mayjen Djon Afriandi merupakan lulusan SMAN 2 Bandung dan lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) 1995 atau penerima Adhi Makayasa. Kopassus adalah pasukan khusus milik matra TNIAD. Pasukan ini memiliki kemampuan gerak cepat dalam setiap medan tempur, pengintaian, dan anti-teror.
Kopassus identik dengan korps baret merah. Kopassus dibentuk pada 16 April 1952. Pasukan berjuluk hantu rimba ini cukup disegani, bahkan di dunia. Menurut buku bertajuk 'Kopassus untuk Indonesia', pasukan yang memiliki motto 'Lebih Baik Pulang Nama daripada Gagal di Medan Laga' ini dibekali kemampuan khusus, seperti bergerak dengan senyap di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan antiterror.
Prajurit Kopassus wajib memiliki kemampuan bertempur di segala medan perang, baik itu darat, laut, maupun udara. Anggota Kopassus mendapatkan berbagai pelatihan penting, seperti cara hidup di hutan, latihan pelolosan, pendaratan perahu karet, renang ponco, hingga bertahan hidup di laut. Selain taktik dan cara untuk survive, anggota Kopassus juga memiliki kemampuan menembak yang mumpuni.
2. Komando Pasukan Katak (Kopaska) Kopaska saat ini dikomandoi Laksamana Pertama (Laksma) Baroyo Eko Basuki. Ia menjabat Komandan Kopaska sejak 16 Januari 2023.
Pria kelahiran 29 Desember 1973 ini merupakan alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 1995. Jenderal bintang 1 ini sebelumnya menjabat Danlanal Banten (2018-2019), Wadanlantamal VI/Makassar (2019-2020), dan Wadan Kopaska (2020-2023).
Kopaska merupakan pasukan elite milik TNIAL yang dibentuk pada 31 Maret 1962. Kopaska sering dikenal sebagai pasukan tengkorak, karena mereka memiliki atribut identitas khas. Mulai dari pemakaian baret merah, kacamata hitam, dan masker motif tengkorak.
Semboyan Kopaska adalah "Tan Hana Wighna Tan Sirna" yang berarti "Tidak ada rintangan yang tidak dapat diatasi". Artinya, Kopaska siap mengatasi segala tantangan.
Kopaska dikenal juga sebagai pasukan khusus dan sangat mematikan. Tugas utama kopaska adalah peledakan/demolisi bawah air, termasuk sabotase/penyerangan rahasia ke kapal lawan dan sabotase pangkalan musuh.
3. Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) Kopasgat saat ini dipimpin Marsekal Muda (Marsda) Yudi Bustami. Ia menjabat Komandan Kopasgat sejak 29 November 2023.
Pria kelahiran 27 Januari 1967 ini merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 1989 dari kecabangan Kopasgat dan mahir dalam bidang Anti Teror (Detasemen Bravo 90). Jabatan terakhir jenderal bintang dua ini adalah Kepala Staf Komando Garnisun Tetap II/Bandung.
Kopasgat adalah pasukan khusus milik matra AU yang cukup disegani dunia. Ciri khas pasukan khusus ini, yaitu menggunakan baret warna jingga. Pasukan ini merupakan pasukan tempur untuk kebutuhan matra udara yang memiliki kemampuan terjun payung militer.
Awalnya, pasukan khususTNIAU bernama Korps Pasukan Khas (Kopaskhas). Nama Kopaskhas resmi berganti menjadi Kopasgat pada Januari 2022. Kopasgat sebagai pasukan pemukul siap diterjunkan di segala medan baik hutan, kota, rawa, sungai, maupun laut. Pasukan ini mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh pasukan khusus lainnya yaitu, Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD).
4. Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) Denjaka dipimpin Kolonel Marinir Rino Rianto sejak 9 November 2023. Rino Rianto merupakan alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) 1999.
Sebelum menjadi Komandan Denjaka, Kolonel Rino pernah menjabat sebagai Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Danpusdikif) Komando Pendidikan Marinir (Kodikmar) Kodiklatal. Saat berpangkat Letnan Kolonel, Rino Rianto pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon Intai Amfibi-2 Marinir. Ia juga pernah mengemban tugas sebagai pimpinan Batalyon Infanteri 10 Marinir. Kolonel Rio memiliki brevet pasukan khusus Angkatan Laut AS, brevet US Navy SEALs.
Pasukan elite ini merupakan milik TNIAL yang dibentuk pada 13 November 1984 dengan tugas khusus dalam operasi anti teror. Awalnya satuan elite ini diberi nama Pasukan KhususAL (Pasusla), yang dibentuk untuk menanggulangi segala bentuk ancaman di perairan Indonesia.
Dengan berbagai metode latihan yang diberikan, personel Denjaka yang memiliki keistimewaan lebih dibandingkan dengan prajurit lainnya. Prajurit Denjaka memiliki kemampuan fisik yang berfokus di laut. Mereka dituntut menguasai teknik khusus seperti pencapaian sasaran lewat teknik lintas udara, penguasaan metode bawah air, dan lintas atas air senyap.
5. Peleton Intai Tempur (Tontaipur) Tontaipur merupakan satuan elite lainnya milik TNIAD yang berada langsung di bawah Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).
Pangkostrad saat ini dijabat Letjen Mohamad Hasan. Pria kelahiran 13 Maret 1971 ini baru menjabat Pangkostrad sejak 24 Juli 2024. Letjen Hasan merupakan lulusan Akmil 1993 dari kecabangan Infanteri (Kopassus). Jenderal bintang 3 ini sebelumnya menjabat Pangdam Jaya.
Tontaipur dibentuk untuk operasi militer di segala medan, seperti laut, hutan, gunung, rawa, bahkan perkotaan. Tontaipur dibekali dengan senjata seperti senapan, pistol, sniper, bahkan jarum beracun.
Pembentukan Tontaipur diprakarsai Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu pada tahun 2001 saat ia menjabat Pangkostrad. Awalnya satuan ini dinamai Peleton Intai Keamanan (Tontaikam) Brigade, hingga akhirnya dijadikan Peleton Intai Tempur dan pada tahun 2005 ditingkatkan menjadi Kompi Taipur.
Prajurit pasukan ini memiliki keahlian khas, yaitu melakukan infiltrasi ke jantung musuh secara senyap untuk sabotase. Anggotanya direkrut dari satuan-satuan yang bertugas di Kostrad.
6. Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib)
Komandan Batalyon Intai Amfibi 1 Marinir (Danyontaifib 1 Mar) sejak 5 Januari 2023 dijabat Mayor Marinir Laili Nugroho.
Perwira menengah berpangkat satu melati di pundak itu sebelumnya menjabat Danyontaifib 1 Mar yang bertugas sebagai Pabandya Binkuatmarlan VI Binkuat Sopsal Mabes TNI Angkatan Laut. Mayor Marinir Laili Nugroho merupakan lulusan AAL 2025. Ia juga menempuh Pendidikan Reguler Sekolah Staf Dan Komando Angkatan Laut (Dikreg Seskoal) Angkatan 59 tahun 2021.
Yontaifib adalah satuan elite dalam Korps Marinir yang memiliki spesialisasi dalam operasi Pengintaian Amfibi dan Pengintaian Khusus. Di TNIADYontaifib setara dengan Kopassus Grup 3/Sandhi Yudha. Dahulunya satuan ini dikenal dengan nama KIPAM.
Yontaifib didirikan pada 13 Maret 1961 untuk melakukan pengintaian darat serta tugas-tugas operasi khusus dalam rangka pelaksanaan operasi pendaratan amfibi, operasi satuan tugas TNIAL lainnya.
Anggota Yonyaifib harus memenuhi kualifikasi secara mental, fisik, dan kesehatan. Ciri khas Yontaifib yaitu prajuritnya memakai baret ungu khas Marinir. Yontaifib berbeda dengan Marinir yang pada umumnya menggunakan Brevet 'Tri Media' di samping Pataka Korps Marinir.