Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar (kiri); Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media, dan Pengembangan SDM Ismail Cawidu (tengah); dan Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad dalam konferensi terkait The Wonder of Harmony, di Jakarta, Rabu (5/11/2025): Foto: Erakini
JAKARTA, (ERAKINI) - Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam meluncurkan 18 program untuk memperkuat kerukunan, kebinekaan, moderasi, dan harmoni antarumat beragama.
Kegiatan ini merupakan implementasi dari Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, serta dalam rangka mendorong Asta Protas Menteri Agama, khususnya yang menyangkut kerukunan dan cinta kemanusiaan.
“Toleransi, kerukunan, dan cinta kemanusiaan merupakan modal sosial yang harus dirawat dan dijaga sepanjang masa. Karena kerukunan dan cinta kemanusiaan itu bukan sesuatu yang tiba-tiba turun dari langit, tetapi harus terus kita jaga, kita edukasi, kita usahakan untuk betul-betul terwujud,” ujar Abu Rokhmad dalam konferensi pers, Rabu (5/11/2025).
Abu Rokhmad mengungkapkan bahwa kegiatan The Wonder of Harmony sudah diawali dengan Kompetisi Film Islami Tingkat Nasional 2025. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kontribusi sineas muda dalam transformasi penyiaran keagamaan Islam melalui seni film yang kreatif, inovatif, serta berdampak positif bagi bangsa dan negara.
Kemudian dilanjutkan dengan Ekspo Syiar Budaya Islam. Expo ini menampilkan sejumlah aspek budaya Islam, seperti seni, arsitektur, literatur, pakaian adat, dan talkshow sebagai media syiar penyebaran nilai-nilai Islam. Salah satu kegiatan besar yang digelar di Bulan Toleransi ini adalah Ijtima Ulama Tafsir Al-Qur’an pada 19–21 November 2025 di Jakarta.
“Ini kegiatan yang cukup besar, sifatnya akademik memang, yaitu pertemuan ulama tafsir Al-Qur’an seluruh Indonesia. Sebagaimana mungkin teman-teman sudah mendengar, Kementerian Agama sedang melakukan penyempurnaan Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama yang usianya sudah lebih dari 20 tahun. Sedang kita lakukan review atau penyempurnaan tafsir,” jelasnya.
The Wonder of Harmony akan ditutup dengan program Rumah Ibadah Ramah Pemudik Nataru. Program ini menghadirkan suasana aman, nyaman, dan penuh keharmonisan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik Natal dan Tahun Baru.
“Melalui kolaborasi lintas umat dan dukungan berbagai unsur keagamaan, rumah ibadah difungsikan sebagai ruang istirahat sekaligus simbol kebersamaan dalam semangat toleransi,” kata Abu Rokhmad.
Selain memperkuat hubungan harmonis antarumat beragama, program ini menegaskan bahwa rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat ibadah semata, tetapi juga pusat kepedulian dan persaudaraan di tengah keberagaman bangsa.
Berikut Daftar 18 Agenda Kegiatan The Wonder of Harmony:
1. Kompetisi Film Islami Tingkat Nasional 2025 (Gedung Kemenag, 3–4 dan 10 November 2025)
2. Ekspo Syi’ar Budaya Islam (Gedung Kemenag, 4–10 November 2025)
3. Bimbingan Remaja Usia Nikah (UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 11 November 2025)
4. Workshop Pemetaan Potensi Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan (Jakarta, 12–14 November 2025)
5. Ngaji Budaya dan Tradisi Islam (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 15 November 2025)
6. Harmony Fun Walk CFD Makassar (Makassar, 16 November 2025)
7. Ijtima Ulama Tafsir Al-Qur’an (Jakarta, 19–21 November 2025)
8. Interfaith Harmony melalui Ormas Kepemudaan Islam (Bogor, 20–22 November 2025)
9. Penyerahan Sertifikasi Tanah Wakaf (Surakarta, Surabaya, Banten, 20 & 26 November 2025)
10. Sakinah Family Run 5K (Bandung, 23 November 2025)
11. Festival Majelis Taklim (Masjid Istiqlal, Jakarta, 25–27 November 2025)
12. Kick Off Kota Wakaf Ambon “Harmonisasi Umat Beragama di Kota Ambon” (Aula Pemkot Ambon, 25 November 2025)
13. Workshop Majelis Taklim Berwawasan Ekoteologi (Jakarta, 28 November 2025)
14. Bimas Islam Bersholawat (Surabaya, 28 November 2025)
15. Car Free Day Malang (UIN Malang, 30 November 2025)
16. Konser “Toleransi dan Cinta Kemanusiaan” (UIN Alauddin Makassar, 5 Desember 2025)
17. Bersih-Bersih Rumah Ibadah (Seluruh Indonesia, waktu tentatif)
18. Rumah Ibadah Ramah Pemudik Nataru (Seluruh Indonesia, waktu tentatif)
Indonesia Rawan Intoleransi
Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media, dan Pengembangan SDM, Ismail Cawidu, mengatakan bahwa rangkaian kegiatan ini sangat penting mengingat Indonesia masih menghadapi persoalan intoleransi.
"Tantangan yang dihadapi oleh kita dalam masalah ini banyak. Misalnya, kompleksitas sosial dan keberagaman. Ini sudah dari dulu kita alami. Kemudian ekstremisme dan radikalisme, juga masih ada di bagian kita. Kemudian rendahnya literasi toleransi," bebernya.
Karena itu, ia menilai seluruh pihak, terutama media, perlu menguatkan pemahaman toleransi di tengah masyarakat. Terlebih masih terdapat perbedaan pemahaman tentang toleransi, bahkan dalam satu agama.
"Ini (edukasi) penting kita lakukan untuk memberikan pendidikan. Kemudian ujaran kebencian, dalam dunia digital itu luar biasa yang kita hadapi. Mungkin juga disebut tantangan global," tandasnya.
Ismail menyebutkan bahwa toleransi dan kerukunan beragama merupakan modal utama pembangunan nasional. Program penguatan toleransi bahkan ditempatkan sebagai prioritas utama dalam program kerja Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Agama.
Sejarah menunjukkan bahwa harmoni sosial berperan penting menjaga stabilitas dan kemajuan bangsa. Namun demikian, Indonesia dinilai masih memiliki potensi besar menghadapi ancaman intoleransi.
"Misalnya dalam bidang intoleransi bidang agama dan percayaan, ini yang selalu menghampiri kita. Ada juga intoleransi di bidang politik dan ideologi, misalnya polarisasi politik dan sebagainya. Ada di bidang etnis dan suku juga, kemudian gender dan orientasi seksual, banyak sekali," bebernya.
Oleh karena itu, Ismail mengapresiasi upaya Ditjen Bimas Islam dalam menjaga dan memperkuat toleransi melalui 18 program penguatan harmonisasi. Program serupa juga perlu diperluas ke seluruh lintas agama.
“Saya berharap tidak hanya Bimas Islam yang mengambil peran, tetapi juga Bimas Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, dan seluruh masyarakat,” katanya.
Masyarakat juga diminta aktif dalam literasi toleransi, menghormati perbedaan, mengembangkan dialog, serta bijak menggunakan media sosial. “Kita harus bersama-sama menjaga keberagaman sebagai kekuatan bangsa,” tukasnya.