Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mulai melakukan audit konstruksi terhadap 80 bangunan pondok pesantren (ponpes) tua di berbagai daerah. Foto: Instagram@pu_ciptakarya
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Dewi Chomistriana mengatakan, audit akan dilakukan secara bertahap mengingat jumlah ponpes di Indonesia mencapai lebih dari 42 ribu.
“Sampai Desember ini ada 80 pondok pesantren yang akan diaudit. Kami melakukan review dokumen perencanaan dan memberikan rekomendasi perbaikan,” kata Dewi saat meninjau Ponpes Tremas di Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jumat (10/10/2025), dikutip dari Antara.
Menurutnya, pesantren yang diaudit tersebar di beberapa provinsi, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Aceh, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
“Kami mendampingi proses persetujuan pembangunan gedung. Jika nanti ditemukan kekurangan, akan diputuskan apakah perlu dilakukan intervensi fisik atau tidak,” ujarnya.
Sebelumnya, bangunan tiga lantai di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, ambruk pada 29 Agustus 2025 dan menelan 67 korban jiwa dari total 171 orang yang tertimpa reruntuhan.
Pada hari ini, Kemen PU bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan melakukan pengecekan keandalan bangunan di Ponpes Tremas, Pacitan. Sehari sebelumnya, tim audit juga telah melakukan pemeriksaan di beberapa ponpes di Jombang dan Kediri.
Ponpes Tremas menjadi perhatian karena merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1820. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan keamanan dan kelayakan struktur bangunan, termasuk pada gedung baru yang saat ini masih dalam tahap konstruksi.
“Hasil sementara menunjukkan pelaksanaan pembangunan di Ponpes Tremas telah memenuhi kaidah teknis konstruksi. Kami juga mengapresiasi pihak pesantren yang melibatkan tenaga kerja bersertifikat di bidang konstruksi,” ujar Dewi.
Meski demikian, Dewi menambahkan bahwa belum semua pondok pesantren bisa segera diaudit karena keterbatasan waktu dan sumber daya.
“Jumlah ponpes di Indonesia mencapai lebih dari 42.800 lembaga, jadi kami memprioritaskan yang memiliki santri di atas 1.000 orang atau bangunan bertingkat lebih dari empat lantai,” tukasnya.