Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi bersama Sekretaris Wilayah Sangha Agung Indonesia Provinsi DKI Jakarta dan Banten YM Bhadranatha Thera, melakukan penanaman pohon di di Vihara Bakti Pramuka Komplek Perkemahan Cibubur, area Kempi 5, Jakarta Timur, Rabu (1/4/2026). Foto: Erakini
Gerakan ini menjadi bagian dari program penghijauan berkelanjutan yang digalakkan bersama unsur Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI), lembaga sosial, serta masyarakat luas.
Aksi tersebut dilatarbelakangi meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, terutama di tengah maraknya bencana alam, seperti banjir bandang dan tanah longsor dalam beberapa waktu terakhir. Penanaman pohon dinilai sebagai salah satu solusi strategis untuk memperbaiki kualitas lingkungan, menjaga keseimbangan alam, serta meningkatkan kualitas udara demi keberlanjutan kehidupan.
Gerakan ini juga menjadi bagian dari peringatan 67 tahun pengabdian Sangha Agung Indonesia. Dalam momentum tersebut, Sangha Agung Indonesia mengajak seluruh unsur Keluarga Buddhayana Indonesia untuk melaksanakan kegiatan penanaman pohon secara serentak pada periode 1 Maret hingga 1 April 2026.
Untuk itu, MBI Provinsi DKI Jakarta menyemarakkan gerakan tersebut melalui rangkaian kegiatan di tiga lokasi berbeda, yakni Prasadha Jinarakhita (9 Maret 2026) dengan penanaman 3 pohon; Bundaran PIK dekat Exit Tol Row 85 (29 Maret 2026) dengan penanaman 108 pohon Eucalyptus Rainbow; serta Bumi Perkemahan Cibubur (1 April 2026) dengan penanaman 676 pohon terdiri dari mahoni, mangga, alpukat, nangka, jambu, dan matoa
Khusus di Bumi Perkemahan Cibubur, kegiatan dipusatkan di Vihara Bakti Pramuka Komplek Perkemahan Cibubur, area Kempi 5, dengan dukungan bibit dari Kementerian Kehutanan, Rabu (1/4/2026).
Rangkaian acara diawali dengan penandatanganan prasasti penanaman pohon, dilanjutkan meditasi jalan menuju lokasi sebagai simbol kesadaran ekologis, sebelum akhirnya dilakukan penanaman pohon secara bersama-sama.
Kesadaran Kolektif Menjaga Alam
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kemenag, Supriyadi, dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini sebagai bagian dari implementasi program prioritas Kemenang, yakni ekoteologi.
Supriyadi mengajak umat untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan melalui aksi nyata penanaman pohon sebagai bagian dari praktik keagamaan. Ia menekankan pentingnya menjaga ekosistem sebagai wujud pengamalan ajaran dharma dalam kehidupan sehari-hari.
“Pertama tentu kita bersyukur, hari ini dalam cuaca yang cerah kita bisa hadir di Wihara Pakti Pramuka, sebuah wihara bersejarah yang memberikan warna tersendiri di ruang publik, karena berada di kawasan Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur,” ujar Supriyadi.
Menurutnya, lokasi wihara yang berada di kawasan alam terbuka menghadirkan suasana berbeda dibandingkan wihara di perkotaan. Karena itu, pemilihan tempat tersebut untuk kegiatan penanaman pohon sangat tepat sebagai bentuk pengabdian nyata kepada lingkungan.
Supriyadi menjelaskan, konsep ekoteologi menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap ekosistem. Pendekatan ini dinilai penting untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga alam.
“Kalau persoalan ekosistem tidak didekati dengan nilai keimanan dan dharma, manusia bisa saja seenaknya memanfaatkan alam. Padahal kerusakan ekosistem yang terjadi saat ini sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, melalui pendekatan keagamaan, umat diharapkan memiliki kesadaran untuk merawat dan melestarikan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual.
Supriyadi juga menyinggung pengalaman saat pandemi COVID-19, ketika oksigen menjadi kebutuhan yang sangat mahal dan langka. Hal itu, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam.
“Dengan pohon yang semakin banyak, oksigen juga akan semakin banyak. Kita pernah merasakan betapa mahalnya oksigen saat pandemi. Ini menjadi pelajaran bagi kita semua,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ajaran dharma mengajarkan tentang keterhubungan antar makhluk hidup. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa dukungan alam semesta.
Karena itu, ia berharap kegiatan penanaman pohon tidak berhenti pada seremoni semata, tetapi juga diikuti dengan komitmen untuk merawat tanaman hingga tumbuh dengan baik.
“Jangan sampai pohon yang ditanam tidak dirawat. Kalau tidak dirawat, pertumbuhannya tidak maksimal. Menanam harus dengan penuh kesadaran dan cinta kasih, agar memberi manfaat bagi semua makhluk,” kata Supriyadi.
Tanam 6.700 Pohon
Sementara itu, Sekretaris Wilayah Sangha Agung Indonesia Provinsi DKI Jakarta dan Banten sekaligus Ketua Panitia, YM Bhikkhu Bhadranatha Thera, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan pengabdian Sangha Agung Indonesia yang telah dilaksanakan di berbagai daerah.
Hingga saat ini, kata dia, lebih dari 6.700 pohon telah ditanam di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah binaan Sangha Agung Indonesia.
“Untuk wilayah DKI Jakarta, sebelumnya telah ditanam 108 pohon di kawasan PIK, dan hari ini kita menanam sekitar 670 pohon di Cibubur,” ujarnya.
Bhikkhu Bhadranatha menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi wujud nyata kepedulian terhadap alam semesta. Pohon-pohon yang ditanam diharapkan tidak hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup serta sumber kehidupan di masa depan.
“Semoga apa yang kita lakukan hari ini membawa manfaat besar, tidak hanya bagi manusia, tetapi bagi seluruh makhluk di alam semesta,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, MBI berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Semangat ekoteologi yang diusung diharapkan mampu memperkuat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.
Aksi penanaman pohon ini menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk komunitas keagamaan, demi keberlanjutan kehidupan di masa depan.