Jemaah haji Indonesia saat akan berangkat ke Tanah Suci (Foto: Kemenhaj)
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat kepuasan jemaah haji Indonesia pada penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi mencapai skor 91,45 poin. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi sejak pengukuran Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) dilakukan pada 2019.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, peningkatan indeks tahun ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas layanan yang dirasakan langsung oleh jemaah selama menjalankan ibadah haji di Arab Saudi.
"Kalau kita lihat untuk indeks IKJHI luar negeri, tentunya di tahun 2026 ini scoring-nya mengalami peningkatan yang luar biasa dari 88,46 tahun lalu menjadi 91,45," ujar Amalia dalam pemaparan hasil survei kepuasan layanan haji di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Berdasarkan data BPS, skor IKJHI pada 2019 tercatat sebesar 85,91 poin, kemudian meningkat menjadi 90,45 poin pada 2022. Nilai tersebut sempat turun menjadi 85,83 poin pada 2023 sebelum kembali naik menjadi 88,20 poin pada 2024 dan 88,46 poin pada 2025. Pada 2026, indeks melonjak menjadi 91,45 poin atau meningkat 2,99 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Amalia menjelaskan, capaian tersebut menunjukkan bahwa secara umum jemaah haji Indonesia menilai seluruh layanan yang diterima selama di Arab Saudi berada pada kategori "sangat memuaskan".
"Kalau kita lihat bahwa dibandingkan dengan tahun lalu, lompatan indeksnya ini relatif besar dan ini yang terbesar dibandingkan dengan tahun-tahun lalu," tuturnya.
Selain mengumumkan capaian IKJHI, BPS juga memperkenalkan metodologi baru dalam pengukuran kepuasan layanan haji melalui Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI). Menurut Amalia, perubahan metode dilakukan agar penilaian terhadap kualitas layanan haji menjadi lebih komprehensif.
"Mulai tahun 2026 kami memperkenalkan Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia sebagai indikator baru untuk mengukur kualitas layanan haji secara lebih komprehensif, mulai dari proses layanan sampai dengan output-nya," kata dia.
Namun demikian, pada masa transisi BPS tetap menghitung IKJHI agar perkembangan tingkat kepuasan jemaah dari tahun ke tahun tetap dapat dipantau.
"Karena ini masa transisi, kita juga tetap menghitungkan IKJHI sehingga perkembangan dengan tahun-tahun sebelumnya masih bisa dibandingkan," ucapnya.
Amalia mengungkapkan, BPS melakukan proses backcasting atau penghitungan ulang terhadap data 2019-2025 menggunakan metodologi baru agar tersedia deret waktu yang konsisten untuk IKLHI. Namun, ia menegaskan bahwa skor IKLHI tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan IKJHI karena menggunakan metode penghitungan yang berbeda.
Dengan metode baru tersebut, IKLHI luar negeri tahun 2026 tercatat sebesar 82,71 poin, meningkat dibandingkan tahun 2025. Nilai tersebut terdiri atas indeks proses sebesar 82,39 poin dan indeks output sebesar 83,0 poin.
Berdasarkan lokasi pengamatan, tingkat kepuasan tertinggi diperoleh di bandara dengan skor 84,76 poin. Sementara itu, indeks di Madinah mencapai 82,53 poin, Makkah 82,59 poin, dan Armuzna sebesar 79,70 poin, yang menjadi nilai terendah di antara seluruh titik pengamatan.
Dari sisi jenis layanan, seluruh aspek memperoleh nilai di atas 81 poin. Layanan transportasi menjadi aspek dengan tingkat kepuasan tertinggi, yakni 83,13 poin. Adapun layanan kesehatan memperoleh skor terendah, yaitu 81,93 poin.
BPS juga mencatat adanya peningkatan kualitas layanan di kawasan Armuzna dibandingkan penyelenggaraan haji tahun sebelumnya. Layanan petugas haji memperoleh nilai tertinggi di kawasan tersebut dengan skor 81,91 poin atau meningkat 1,4 poin dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, layanan konsumsi mencatat peningkatan paling besar, yakni naik 4,85 poin menjadi 81,16 poin.
"Para jemaah menilai konsumsi yang diterima jauh lebih berlimpah dibandingkan tahun lalu. Bahkan saya dapat cerita, mau mengambil es krim pun bisa berkali-kali. Ini luar biasa sekali layanan tahun ini, dan itu juga terekam dalam survei kami," ujar Amalia.
Dalam survei tersebut, BPS juga mencatat karakteristik jemaah haji Indonesia tahun 2026. Sebanyak 55,86 persen jemaah merupakan perempuan, 65,15 persen berpendidikan SMA ke bawah, dan 67,83 persen berada pada rentang usia 41 hingga 64 tahun.