Jemaah haji Indonesia saat diberangkatkan ke Arafah untuk wukuf pada 14 Juni 2024. Foto: MCH/Dok
JAKARTA, (ERAKINI) - Penyelenggaraan ibadahhaji 2024 dinilai berjalan lancar dan sukses. Sejumlah inovasi yang dilakukan Kementerian Agama mampu meningkatkan pelayanan kepada jemaah dan mencegah kejadian menonjol sebagaimana terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Beberapa indikator suksesnya penyelenggaraan Haji 2024 antara lain berkurangnya jumlah jemaah yang wafat, tingkat serapan kuota, hingga pergeseran jemaah dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina yang berjalan lancar.
Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag) Hilman Lathif mengungkapkan, jumlah jemaah haji yang wafat tahun ini menurun drastis. Sejauh ini, jumlah jemaah haji 2024 yang meninggal sebanyak 433 orang. Angka ini menurun drastis dibanding pelaksanaan haji 2023 yang hampir mencapai 800 orang.
Menurut Hilman, berkurangnya jemaah haji 2024 yang meninggal dunia tidak terlepas dari upaya Kemenag dalam melakukan pemeriksaan kesehatan intensif kepada semua jemaah sebelum pemberangkatan.
“Upaya Kemenag menekan angka kematian dengan melakukan penguatan program istithaah (kemampuan) dengan pemeriksaan kesehatan yang komprehensif, cukup membuahkan hasil, walaupun walaupun faktanya 47.000 jemaah masuk kategori lansia (usia 65 tahun ke atas)," ujar Hilman kepada wartawan saat acara Coffee Morning Sukses Haji 2024, di Jakarta Senin (15/7/2024).
Proses pemulangan jemaah haji ke Tanah Air hingga kini masih berlangsung. Saat ini masih terdapat sebagian jemaah haji Indonesia di Arab Saudi dan dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada 21 dan 22 Juli 2024. Hilman berharap semua jemaah yang masih berada di Arab Saudi kembali ke Tanah Air dengan selamat.
"Untuk yang meninggal, semua sudah terdaftar asuransi dan akan mendapatkan klaim sejumlah uang yang mereka setor. Misalnya, mereka setor Rp56 juta maka akan dapat Rp56 juta. Kalau meninggal di atas pesawat, mereka akan mendapatkan tambahan dari maskapai," jelas Hilman.
Indikator kedua kesuksesan penyelenggaraan haji 2024 adalah tingkat serapan kuota haji yang mencapai 99,98 persen. Hilman mengatakan, tahun ini Indonesia mendapatkan kuota haji 241.000 jemaah, atau yang terbesar dari seluruh negara. Kuota itu dibagi menjadi 213.320 untuk reguler dan 27.680 jemaah haji khusus.
Untuk jemaah haji reguler, dari jumlah kuota 213.320 orang yang gagal berangkat hanya 45 orang. Mereka tidak bisa berangkat karena berbagai alasan, seperti sakit ini meninggal dunia.
"Ini adalah angka terkecil sepanjang sejarah. Biasanya 1.000-an sampai 1.500 yang tidak bisa berangkat. 45 jemaah reguler yang tak bisa berangkat haji berbagai al, karena sakit, meninggal dunia, dan alasan lain yang tidak bisa digantikan dengan jemaah lain," jelasnya.
Indikator ketiga, pemberangkatan jemaah berjalan lancar. Hilman mengatakan, mulai dari pemberangkatan dari Tanah Air sampai pelayanan Bus Shalawat di Makkah dan mobilisasi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), berjalan dengan lancar.
Hanya, Hilman mengakui ada beberapa keterlambatan jadwal pemberangkatan karena masalah teknis di internal maskapai Garuda Indonesia. Meski demikian, petugas di Tanah Suci dengan responsif dapat mengatasinya, baik itu layanan hotel maupun konsumsi.
"Penyelenggaraan haji di Tanah Air juga alhamdulillah lancar. Ada beberapa pesawat yang mengalami keterlambatan, tapi sejauh ini jemaah bisa diterbangkan ke Tanah Suci," ucapnya.
Hilman juga menyebutkan tidak ada kejadian serius di Armuzna. Puncak haji di Armuzna memang selalu menjadi tantangan berat. Sebab, jumlah jemaah Indonesia sangat besar, sedangkan space atau ruang yang tersedia di Armuzna sangat terbatas.
Dia bersyukur, layanan di Armuzna dapat berjalan lancar. Walaupun terdapat beberapa kekurangan, seperti tenda yang melebihi kapasitas, Hilman menyebut masih wajar karena memang kondisi jumlah jemaah bertambah, sementara ruang tidak mengalami perubahan.
Kata dia, berbagai temuan Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI merupakan persoalan lumrah yang terjadi di Makkah.
"Memang ada beberapa tenda yang kapasitasnya tidak sesuai, tapi langsung kita intervensi dan tangani. Kalau padatnya, dari dulu sudah padat. Tidur berjejer kayak ikan, dari zaman nabi sudah begitu. Tapi jejernya rapat. Kalau padatnya tidak bisa dihilangkan, kecuali kuota dikurangi," tukasnya.
Begitu juga persoalan toilet yang membuat jemaah mengantre berjam-jam. Lagi-lagi hal ini karena keterbatasan toilet yang tidak sebanding dengan jumlah jemaah.
"Kepadatan di jemaah khusus juga padat. Bukan hanya maktab 1 tapi semua, karena hampir 2 juta orang ngumpul secara bersamaan," jelasnya.
Soal AC yang tidak berfungsi, Hilman juga menyatakan sudah ditangani dengan cepat. "Kalau ada keluhan di Aplikasi Kawal Haji kita langsung datangi dan cek di lokasi, lalu ditandai. Setelah itu langsung koordinasi dengan Kerajaan Arab Saudi," tandasnya.
Hal lain yang patut disyukuri, lanjut Hilkan, pergeseran jemaah dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina, yang berjalan lancar dan tepat waktu. Tahun ini tidak ada lagi keterlambatan pergeseran jemaah dari Muzdalifah ke Mina seperti tahun lalu.
Pergerakan jemaah dari Muzdalifah ke Mina pada tahun lalu berlangsung hingga 13.30 waktu Arab Saudi. Sementara pada tahun ini, pergerakan jemaah dari Muzdalifah ke Mina sudah selesai pada pukul 07.37 WAS.
Tahun ini, Kemenag juga membuat inovasi kebijakan murur sebagai upaya menjaga keselamatan jemaah atas potensi kepadatan di tengah terbatasnya area Muzdalifah. Murur adalah konsep melintas di Muzdalifah (tanpa turun) dalam fase pergerakan jemaah dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Dengan skema murur jemaah tidak turun untuk mabit di Muzdalifah, tapi hanya melintas saja dengan bus. Dari Arafah, jemaah bergerak menuju Muzdalifa tetap berada di bus dan lanjut menuju Mina. Namun, murur diutamakan bagi jemaah lansia, risti, disabilitas dan para pendamping.
Ke depannya, Kemenag akan terus melakukan perbaikan dalam penyelenggaraan haji, di antaranya menyiapkan agar jemaah haji saat berada di Mina dapat tinggal di hotel terdekat, bukan di tenda. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan keselamatan jemaah haji selama menunaikan ibadah haji.