"Terima kasih Bapak Presiden Prabowo Subianto, Ka LPTTN Sugiono dan Waka LPTTN Prasetyo Hadi atas hadiah ultah ke 35 SMA TN: kembali ber-Beasiswa 100 persen," tulis pernyataan yang diterima .
Diketahui, selama ini terdapat beberapa ketentuan bagi siswa yang diterima masuk SMA Taruna Nusantara. Berdasarkan pedoman penerimaan calon siswa tahun ajaran 2025/2026, terdapat 3 ketentuan terkait biaya masuk SMA Taruna Nusantara, yaitu:
a. Tidak ada biaya Uang Pangkal, Uang Komite Sekolah, dan Iuran Sekolah.
(Beasiswa akan diberikan kepada penerimanya selama menjalankan pendidikan di SMA Taruna Nusantara dan memenuhi standar evaluasi akademik maupun non-akademik yang ditetapkanoleh Lembaga dan Sekolah).
b. Wajib Upload Berkas Slip Gaji/Penghasilan orang tua/wali yang disahkan oleh instansi tempat bekerja, atau Rekening Koran 3 Bulan terakhir, atau Surat Pernyataan Penghasilan perbulan yang ditandatangani Kepala Desa/Lurah/RT/RW setempat.
c. Sumbangan Sukarela sesuai kesanggupan (bersifat sukarela tidak wajib), Sumbangan Sukarela dibayar hanya 1 kali setelah dinyatakan menjadi siswa SMA Taruna Nusantara.
d. Tidak ada biaya Kontribusi Khusus.
2. Iuran Sekolah
a. Wajib membayar Biaya Uang Pangkal Rp50.000.000 dan Uang Komite Sekolah Rp1.000.000 dibayar sekaligus dan dibayarkan satu kali saat diterima.
b. Wajib membayar Biaya Iuran sekolah sekolah Rp5.000.000,00/bulan, dibayar paling lambat setiap tanggal 5 pada bulan berjalan.
SMA Taruna Nusantara merupakan sekolah unggulan berasrama (boarding school) berbasis semi-militer. SMA Taruna Nusantara berdiri pada 14 Juli 1990. Namun, ide pembuatan sekolah ini dicetuskan oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan saat itu, Jenderal TNI LB Moerdani pada tanggal 20 Mei 1985 di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta.
Jenderal TNI LB Moerdani mempunyai visi untuk membangun sekolah yang mendidik manusia-manusia terbaik dari seluruh Indonesia dan menghasilkan lulusan yang dapat melanjutkan cita-cita para Proklamator.
Untuk merealisasikan ide ini, maka dibuatlah MoU (nota kesepahaman) antara TNI dan Taman Siswa. Perguruan Taman Siswa dipilih karena merupakan organisasi kependidikan pertama di Indonesia. Dalam nota kesepahaman itu disepakati untuk membuat suatu lembaga bernama Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara (LPTTN).
Dalam perjalanannya, SMA Taruna Nusantara akhirnya bisa berdiri. Diresmikan oleh Pangab (Panglima Angkatan Bersenjata) saat itu, Jenderal Try Sutrisno, pada tahun 1990. Kampus itu menempati lahan seluas 18,5 hektare dan terdiri dari komplek akademis, asrama siswa, dan komplek perumahan pamong dan guru, di atas tanah milik Akademi Militer, yang berlokasi tidak jauh dari tempat itu.
Selama 6 tahun pertama, Taruna Nusantara hanya menerima laki-laki sebagai siswanya dengan jumlah sekitar 245 orang. Namun, mulai tahun 1996, LPTTN membuat kebijaksanaan baru dengan menerima angkatan putri pertama sebanyak 70 orang. Untuk mengakomodasi perubahan ini, area sekolah inipun diperluas menjadi 23 hektare.
Untuk menarik pemuda-pemudi terbaik dari seluruh strata sosial, LPTTN menawarkan beasiswa penuh kepada pelajar yang diterima dengan dukungan dana dari TNI yang mempunyai latar belakang politik dan keuangan yang kuat. Para tenaga pengajar (pamong) juga mendapat gaji yang di atas rata-rata serta fasilitas lainnya.
Namun, setelah krisis ekonomi dan perubahan politik di tahun 1997, LPTTN mengalami kesulitan keuangan sehingga pada tahun 2001 menghentikan kebijakan beasiswa penuh ini. Sekarang, pelajar terpilih yang mempunyai kesulitan keuangan tetap mendapatkan beasiswa yang diberikan baik oleh individual, perusahaan, maupun pemerintah daerah.
Walaupun sekolah ini sering disebut sebagai sekolah semi-militer, kurikulum yang digunakan tidak 100% dari militer. SMA Taruna Nusantara memakai sistem kurikulum yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan, sehingga bisa dibilang SMA Taruna Nusantara sama dengan SMA lainnya. Tetapi, ada beberapa perbedaan yang cukup mencolok, seperti kesatuan dari seluruh elemen pendidikan dan sistem yang khas yang dilaksana kan dalam kehidupan sehari-hari serta kegiatan sekolah pada umumnya.
Bertolak belakang dengan kepercayaan umum, lulusan sekolah ini tidak punya kewajiban untuk memilih militer sebagai kelanjutan pendidikannya. Bahkan, sebagian besar lulusan SMA Taruna Nusantara melanjutkan pendidikannya di sekolah non-militer, walaupun bisa dikatakan kalau yang memilih militer sebagai kelanjutan studinya jauh lebih besar dari SMA lain pada umumnya.