Peringatan Hari Anak Nasional dan Girls in ICT Day 2026 di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta Pusat. (Foto: Komdigi).
JAKARTA, (ERAKINI) - Transformasi digital Indonesia tidak hanya berbicara tentang teknologi dan infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana menyiapkan generasi muda agar mampu tumbuh dan berkembang secara optimal di tengah pesatnya perkembangan dunia digital. Kesadaran inilah yang mendorong pemerintah untuk memperkuat pembangunan talenta digital sejak usia sekolah melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, industri, hingga organisasi masyarakat.
Langkah tersebut diyakini menjadi fondasi penting dalam melahirkan generasi yang tidak sekadar mahir menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk beraktivitas secara aman, produktif, kreatif, dan bertanggung jawab di ruang digital.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital, Boni Pudjianto, menegaskan bahwa membangun generasi digital Indonesia bukanlah tugas yang dapat diselesaikan oleh satu institusi semata. Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan memiliki peran strategis dalam mempersiapkan anak-anak menghadapi tantangan dan peluang di era digital.
"Hari ini adik-adik mengikuti kegiatan peringatan bersama Hari Anak Nasional dan Girls in ICT Day 2026 dengan tema Tunas Indonesia Cakap Digital. Kehadiran seluruh peserta menjadi bukti bahwa membangun generasi digital Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama. Amanah ini juga kami titipkan kepada para kepala sekolah dan guru di seluruh Indonesia," ujar Boni Pudjianto dalam acara peringatan Hari Anak Nasional dan Girls in ICT Day 2026 di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta Pusat dikutip dari laman resmi Komdigi, Kamis (23/7/2026).
Penguatan literasi digital, kata dia, harus dilakukan secara berkelanjutan agar anak-anak memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi secara positif sekaligus memahami berbagai risiko yang ada di ruang digital. Sebagaimana arahan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, membangun ruang digital yang ramah anak tidak cukup hanya dengan membatasi usia akses, tetapi juga harus memastikan anak memiliki kecakapan untuk mengenali risiko, menjaga data pribadinya, menggunakan teknologi secara beretika, serta mampu menyeimbangkan aktivitas di ruang digital dengan kehidupan sosialnya sehari-hari.
Menurutnya, ruang digital menyimpan banyak peluang bagi pembelajaran, kreativitas, dan inovasi, namun juga memiliki berbagai tantangan yang memerlukan pendampingan dari orang tua maupun guru. "Ruang digital bukan ruang yang hampa. Banyak sisi positif, tetapi juga ada sisi negatif. Karena itu, mari kita dampingi anak-anak agar mampu menelusuri dan memanfaatkan dunia digital secara baik dan benar," tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter anak dalam menggunakan teknologi. "Faktor keluarga sangat menentukan tumbuh kembang anak. Orang tua perlu selalu menjaga dan mendampingi anak-anak di ruang digital. Kita mengharapkan ruang digital ke depan semakin aman, inklusif, produktif, dan memberdayakan seluruh anak Indonesia," ungkapnya.
Boni Pudjianto dalam kesempatan tersebut menjelaskan BPSDM Komdigi terus memperluas penguatan literasi digital melalui program Pandu Literasi Digital yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, komunitas, serta sekolah dalam meningkatkan kapasitas masyarakat.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi kunci untuk membangun ekosistem digital nasional yang sehat dan berkelanjutan. "Kami meyakini ekosistem digital harus dibangun bersama-sama. Hanya melalui kolaborasi pemerintah, industri, organisasi masyarakat, dan dunia pendidikan kita dapat memajukan pendidikan Indonesia sekaligus melahirkan generasi digital yang unggul," jelasnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada berbagai mitra yang mendukung penyelenggaraan kegiatan, antara lain International Telecommunication Union (ITU), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta perusahaan dan organisasi seperti Google, Meta, Canva, TikTok, Blibli, Betadine, Nutrifood, dan Indonesia Child Online Protection (IDCOP).
Sinergi lintas sektor tersebut diharapkan terus diperkuat untuk memperluas akses pembelajaran digital yang berkualitas bagi anak-anak Indonesia. "Semoga ke depan kita bersama-sama semakin memperkuat langkah dalam mewujudkan generasi Tunas Indonesia Cakap Digital yang cerdas, kreatif, dan berkarakter," katanya.