BMKG mencatat fenomena El Nino semakin menguat pada Dasarian II Agustus 2026. Foto: BMKG
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena El Nino semakin menguat pada Dasarian II Agustus 2026. Kondisi tersebut ditandai dengan indeks Nino3.4 yang mencapai +2,99, meningkat dibandingkan Juli yang berada di angka +2,20.
Saat ini sebanyak 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau hingga Dasarian II Agustus 2026.
Analis dan Peneliti iklim BMKG
Rini Eka Saputri pada Senin (24/8/2026) melaporkan, hasil monitoring pada Dasarian (10 hari) II Agustus 2026 menunjukkan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) mencapai +0,394, meningkat dibandingkan Juli 2026 yang berada di angka +0,242.
Sementara itu, nilai anomali suhu muka laut (SSTA) di wilayah Nino3.4 tercatat +2,99, naik dari +2,20 pada Juli. Kondisi tersebut menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Meski demikian, BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini curah hujan tinggi untuk Dasarian III Agustus 2026. Baik kategori Waspada, Siaga maupun Awas tidak memiliki wilayah yang masuk dalam peringatan tersebut.
Sebaliknya, BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian III Agustus 2026.
Pada kategori Waspada, sejumlah wilayah di Kalimantan bagian tengah dan utara, sebagian kecil Sulawesi dan Maluku, serta Papua bagian selatan berpotensi mengalami kekeringan.
Kategori Siaga meliputi sejumlah wilayah di Sumatera bagian selatan, Jawa bagian barat dan tengah, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi bagian utara dan selatan, sebagian besar Kepulauan Maluku, serta Papua bagian selatan.
"Sementara kategori Awas diperkirakan terjadi di sebagian besar Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, serta sebagian kecil Kalimantan Selatan dan Maluku," katanya.
BMKG mencatat curah hujan pada Dasarian II Agustus 2026 didominasi kategori rendah. Sebanyak 90,29 persen wilayah berada pada kategori curah hujan rendah, 9 persen kategori menengah, dan 0,71 persen kategori tinggi.
Dari sisi sifat hujan, sebanyak 88,61 persen wilayah berada di bawah normal. Sementara 4,70 persen berada pada kategori normal, 3,18 persen atas normal, dan 3,51 persen jauh di atas normal.
Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan yang lebih rendah dibandingkan kondisi normalnya.
Wilayah Masuk Musim Kemarau
Wilayah yang telah memasuki musim kemarau mencakup sebagian Aceh dan Sumatera Utara, sebagian besar Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung dan Lampung.
Kemarau juga berlangsung di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT.
Di Kalimantan, musim kemarau terjadi di Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara.
Kondisi serupa terjadi di Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, sebagian besar Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, serta sejumlah wilayah Papua, termasuk Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan dan Papua Selatan.
Sebaliknya, BMKG memprediksi curah hujan pada Dasarian III Agustus hingga Dasarian II September 2026 umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni 0–150 milimeter per dasarian.
Pada Dasarian III Agustus 2026, hujan kategori rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian diprediksi terjadi di sebagian Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku dan Papua.
Kondisi serupa diprediksi berlanjut pada Dasarian I dan II September 2026, terutama di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku dan sebagian Papua.
BMKG juga memprediksi sejumlah wilayah berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan sepanjang September hingga November 2026.
Pada September, peluang tersebut cukup tinggi di Bengkulu bagian selatan, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Jawa, Bali, NTB dan NTT.
Kondisi serupa diperkirakan terjadi di Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian besar Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya bagian barat dan selatan, sebagian Papua Barat, sebagian kecil Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua Selatan.
Pada Oktober 2026, wilayah dengan peluang curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan meliputi Sumatera Selatan bagian selatan, Lampung, Jawa, Bali, NTB, sebagian besar NTT, Kalimantan Selatan bagian selatan, Sulawesi Tengah bagian timur, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku bagian selatan dan Papua Selatan bagian selatan.
Sementara pada November 2026, kondisi tersebut berpeluang terjadi di sebagian Jawa Timur, khususnya Madura, NTB bagian timur, sebagian NTT, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, serta sebagian kecil Papua Selatan bagian selatan.
Untuk Desember 2026 hingga Februari 2027, BMKG tidak memprediksi adanya wilayah dengan peluang tinggi mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan.