Ilustrasi - Risiko kekeringan mengancam di musim kemarau 2026. BMKG menyampaikan bahwa curah hujan sejumlah wilayah di Indonesia diprediksi kurang dari 50 mm pada bulan Agustus 2026-Januari 2027. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sejumlah wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan sangat rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per bulan, selama periode Agustus 2026 hingga Januari 2027. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa musim kemarau masih akan mendominasi sebagian besar wilayah Tanah Air dan berpotensi meningkatkan risiko , krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Prediksi tersebut menunjukkan bahwa kawasan Indonesia bagian selatan hingga timur menjadi wilayah yang paling terdampak oleh minimnya curah hujan dalam beberapa bulan ke depan. Pada Agustus 2026, peluang terjadinya curah hujan di bawah 50 milimeter per bulan diperkirakan cukup tinggi di sejumlah wilayah, meliputi bagian selatan Sumatera Selatan, Pulau Belitung, Lampung, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sejumlah wilayah Papua, termasuk Papua Barat Daya bagian barat dan selatan, sebagian Papua Barat, Papua Pegunungan bagian barat, hingga Papua Selatan. Situasi ini menandakan puncak musim kemarau masih berlangsung kuat di berbagai kawasan Indonesia.
Memasuki September 2026, area dengan potensi curah hujan sangat rendah diperkirakan semakin meluas. Selain Sumatera Selatan, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung, wilayah Bengkulu bagian selatan juga mulai masuk dalam kategori rawan hujan minim.
Di Pulau Kalimantan, daerah yang diprediksi mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter mencakup Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta sebagian besar Kalimantan Timur. Sementara itu, hampir seluruh Pulau Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua diprakirakan masih berada dalam dominasi kondisi kering.
Pada Oktober 2026, meski sebagian wilayah mulai memasuki masa peralihan musim, sejumlah daerah masih berpotensi mengalami curah hujan sangat rendah. Wilayah yang diperkirakan tetap mengalami hujan kurang dari 50 milimeter per bulan antara lain Lampung, Pulau Jawa, Bali, NTB, sebagian besar NTT, serta kawasan selatan Kalimantan Selatan. Selain itu, potensi kekeringan juga diprediksi terjadi di Sulawesi Tengah bagian timur, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku bagian selatan, serta Papua Selatan bagian selatan.
Memasuki November, ketika sebagian besar wilayah Indonesia umumnya mulai memasuki musim hujan, sejumlah daerah diperkirakan masih mengalami curah hujan sangat rendah. Daerah yang perlu mewaspadai kondisi tersebut meliputi Lampung bagian selatan, Banten bagian selatan, Jawa Barat bagian utara, Daerah Istimewa Yogyakarta bagian timur, Jawa Tengah bagian selatan, serta beberapa wilayah di Jawa Timur. Selain itu, NTB bagian timur, sebagian wilayah NTT, Sulawesi Selatan bagian selatan, dan Sulawesi Tenggara bagian selatan juga diprediksi masih mengalami kondisi kering dengan curah hujan di bawah 50 milimeter per bulan.
Minimnya curah hujan selama beberapa bulan berturut-turut berpotensi meningkatkan ancaman kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air baku, terganggunya sektor pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan vegetasi kering.
Masyarakat, pemerintah daerah, serta sektor pertanian diimbau mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, termasuk pengelolaan cadangan air, efisiensi penggunaan air irigasi, serta peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di musim kemarau.