Kedatangan para ulama yang tergabung dalam Musyrif Diny disambut langsung Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (9/6/2026) siang. Foto: Erakini
TANGERANG, (ERAKINI) – Tim Musyrif Diny yang bertugas mendampingi pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi tiba kembali di Tanah Air dan menyampaikan evaluasi pelaksanaan haji tahun ini. Mereka menilai penyelenggaraan haji 2026 berhasil mewujudkan tiga target utama atau Tri Sukses Haji, yakni sukses ritual, sukses ekonomi sistem, serta sukses peradaban dan keadaban.
Kedatangan para ulama yang tergabung dalam disambut langsung dan Umrah di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (9/6/2026) siang.
Dalam keterangannya, Irfan menjelaskan bahwa Musyrif Diny merupakan tim yang terdiri dari para kiai dan alim ulama dari berbagai organisasi keagamaan yang dilibatkan pemerintah untuk memastikan seluruh pelaksanaan ibadah haji jemaah Indonesia berjalan sesuai syariat Islam.
"Alhamdulillah siang ini saya dan tim dari Kementerian Haji menyambut kedatangan sebagian dari Musyrif Diny, yaitu para kiai dan alim ulama yang kami undang untuk bergabung dengan kami dalam rangka memastikan semua ritual dan kegiatan para haji kita memang sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditentukan dalam agama," ujar Gus Irfan.
Menurut Menhaj, keberadaan Musyrif Diny menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan haji karena bertugas mengawal aspek ibadah sekaligus memberikan pendampingan keagamaan kepada jemaah. Musyrif Diny tahun ini beranggotakan 34 orang yang mewakili berbagai organisasi keagamaan di Indonesia.
Pemerintah juga meningkatkan keterlibatan perempuan dalam tim tersebut dengan menambah jumlah perwakilan perempuan menjadi delapan orang. "Tahun ini jumlah yang mewakili perempuan juga kita tingkatkan menjadi delapan sehingga betul-betul bisa memenuhi kepentingan dari jemaah haji perempuan kita," kata Gus Irfan.
Menhaj berharap berbagai evaluasi dan pengalaman yang diperoleh selama musim haji 2026 dapat menjadi modal penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pembinaan jemaah pada penyelenggaraan haji tahun-tahun mendatang.
Perwakilan Musyrif Diny Kiai Fathurrahman Kamal menjelaskan, Musyrif Diny mendapat mandat untuk mengawal dua dari tiga pilar utama yang menjadi fokus penyelenggaraan haji tahun ini. Pilar pertama adalah sukses ritual, yakni memastikan seluruh ibadah yang dijalankan lebih dari 221 ribu jemaah Indonesia sesuai dengan syariat dan fikih Islam.
Pilar kedua adalah sukses ekonomi sistem. Pilar ini berkaitan dengan tata kelola ekonomi dan ekosistem yang lebih tertib dan akuntabel. Namun pilar kedua ini bukan domain Musyrif Diny. "Kami di Musyrif Diny mendapatkan mandat dari pemerintah untuk memastikan bahwa setiap ritual dan setiap ibadah yang ditunaikan oleh masyarakat kita (jemaah haji) yang berjumlah 221 ribu-an itu harus dipastikan sesuai dengan syariat dan fikih dalam Islam," jelasnya.
Musyrif Diny juga berperan menjembatani beragam pandangan keagamaan dan fatwa yang berkembang di masyarakat Indonesia. Meski demikian, terdapat prinsip utama yang menjadi pegangan selama bertugas di Tanah Suci. Prinsip itu adalah Manhaj At-Taysir, yaitu pendekatan hukum Islam yang menekankan kemudahan bagi jemaah dalam menjalankan ibadah.
Menurut Fathurrahman, pendekatan tersebut sangat penting diterapkan mengingat tingginya jumlah jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan perempuan pada musim haji tahun ini.
"Kami sepakat untuk menggunakan paradigma hukum Islam yang memudahkan bagi jemaah kita, terlebih populasi lansia, disabilitas, termasuk juga kaum perempuan. Karena itu Manhaj At-Taysir sangat dibutuhkan dalam praktik ibadah haji di lapangan," ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut memungkinkan jemaah tetap dapat menjalankan ibadah secara sah tanpa mengabaikan kondisi kesehatan dan kemampuan masing-masing.
Selain sukses ritual, Musyrif Diny juga menaruh perhatian pada pilar ketiga, yaitu sukses peradaban dan keadaban. Kata Fathurrahman, haji tidak boleh berhenti sebagai ritual keagamaan semata, melainkan harus menjadi proses pembentukan karakter dan transformasi moral masyarakat Indonesia.
"Haji yang dilaksanakan oleh masyarakat kita dan difasilitasi oleh negara melalui Kementerian Haji tidak hanya menjadi ritual semata, tetapi suatu proses transformasi manusia Indonesia yang siap membangun peradaban dan siap menjadi duta moralitas bangsa," katanya.
Sebagai tindak lanjut, Musyrif Diny bersama Direktorat Jenderal Bina Haji berencana menyusun panduan pembinaan kemabruran haji yang dapat digunakan setelah jemaah kembali ke daerah masing-masing. Panduan tersebut diharapkan menjadi referensi untuk menjaga semangat ibadah dan nilai-nilai yang diperoleh selama menjalankan haji di Tanah Suci.
"Kami tentu sangat berterima kasih kepada Pak Menteri Haji beserta seluruh civitas Kementerian Haji Republik Indonesia atas kesuksesan haji pada tahun ini yang sangat luar biasa menurut kami, semuanya berjalan dengan baik," katanya.
Praktik Dam Lebih Tertib
Sementara itu, anggota Musyrif Diny Prof Afifuddin Muhammad Harisah menilai pelaksanaan haji tahun ini menunjukkan sejumlah perbaikan signifikan. Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah pengelolaan dam atau denda ibadah yang sebelumnya kerap menjadi sorotan karena kurang terkontrol dan rawan penyimpangan.
"Di antara yang kami amankan pada tahun ini adalah bagaimana praktik-praktik dam yang sebelumnya tidak terkontrol dan ada kasus-kasus manipulasi, pada tahun ini dirapikan dengan menegaskan bahwa dam di Tanah Air dan dam di Arab Saudi sudah dilakukan dengan cara-cara yang benar dan prosedural," ujarnya.
Menurut Afifuddin, pembenahan tersebut memberikan kepastian dan rasa nyaman bagi jemaah yang harus menunaikan dam. Afifuddin juga menilai misi peradaban dan keadaban dalam penyelenggaraan haji tahun ini berjalan dengan baik melalui pola penempatan jemaah yang lebih beragam.
Ia menjelaskan bahwa dalam satu sektor pemondokan di Madinah maupun Makkah tidak lagi didominasi jemaah dari daerah tertentu, melainkan terdiri atas berbagai kloter dari sejumlah provinsi.
"Terjadi pergaulan, terjadi akulturasi, terjadi muamalah yang baik di antara para jemaah yang berasal dari berbagai etnis dan suku di Indonesia," katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut memberikan pengalaman sosial dan budaya yang berharga bagi jemaah karena mereka belajar hidup berdampingan dengan masyarakat dari latar belakang yang berbeda.
"Ini sebuah misi yang sangat baik, tidak hanya berhaji ibadah saja, tapi juga menjadi sebuah pendidikan sosial dan pendidikan budaya bagi para jemaah haji kita menjadi orang-orang yang terbuka, orang-orang yang memiliki budaya yang baik, kemudian bisa berbaur dengan toleransi dan kesantunan yang jauh lebih baik insyaallah setelah mereka berhaji," tandasnya.
Afifuddin juga menegaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan ibadah haji sangat ditentukan oleh sinergi tiga unsur utama pembinaan ibadah, yakni Musyrif Diny, Pembimbing Ibadah (Bimbad) Sektor, dan Bimbad Kloter.
Ketiga struktur tersebut menjadi ujung tombak dalam memastikan jemaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan benar.
"Karena haji itu adalah ibadah, bukan wisata biasa, maka kuncinya adalah pada ibadah, dan ibadah ini ada pada keterlibatan dan fungsi tugas Musyrif Diny, Bimbad Sektor, dan Bimbad Kloter menjadi sebuah penentu daripada apa yang diharapkan dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Haji untuk haji kita Insya Allah ke depannya lebih baik lagi," tandasnya.