Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah RI, Prof Asrorun Niam Sholeh (Foto: MCH 2026).
MAKKAH, (ERAKINI) - Pemerintah Arab Saudi menetapkan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah jatuh pada 18 Mei 2026. Dengan demikian, puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah berlangsung pada 26 Mei 2026, sedangkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada 27 Mei 2026.
Menjelang fase puncak haji, seluruh jemaah haji Indonesia gelombang pertama kini telah berada di Makkah. Sementara itu, jemaah gelombang kedua dari Tanah Air langsung diberangkatkan menuju Makkah setibanya di Jeddah.
Berdasarkan data per 19 Mei 2026, sebanyak 184.773 jemaah dari 478 kelompok terbang (kloter) telah berada di Kota Makkah.
Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah RI, Prof Asrorun Niam Sholeh, menyampaikan lima pesan keagamaan kepada jemaah haji Indonesia agar dapat menjalankan ibadah dengan baik dan optimal.
Pesan pertama, kata Niam, adalah memperbanyak ibadah, dzikir, dan munajat kepada Allah SWT serta menjaga salat lima waktu berjamaah.
“Bagi yang sehat dapat ke Masjidil Haram dengan memanfaatkan fasilitas transportasi yang tersedia. Bagi yang ada uzur, salat jemaah dilakukan di masjid-masjid tempat tinggal selama di Makkah,” kata Niam kepada Media Center Haji di Makkah.
Prof Niam yang juga Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengatakan, seluruh pemondokan jemaah haji Indonesia berada di kawasan Tanah Haram yang memiliki keutamaan tersendiri.
“Tanah Haram tidak hanya Masjidil Haram,” kata Niam.
Pesan kedua, lanjut Niam, jemaah diminta terus mempelajari dan memahami tata cara manasik haji dengan benar. Ia juga meminta pembimbing ibadah mengintensifkan pembekalan fikih haji praktis, mulai dari syarat dan rukun haji, wajib haji, hingga larangan yang harus dihindari.
“Jangan hanya sekadar berangkat ke Tanah Suci tanpa membekali diri dengan ilmu manasik haji. Karena haji itu adalah ibadah mahdlah yang harus memenuhi syarat rukun serta ketentuan keagamaan,” kata Niam.
Pesan ketiga berkaitan dengan kesehatan jemaah. Niam meminta jemaah menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat, cukup istirahat, dan menjaga ketenangan pikiran.
“Jangan memforsir diri, aji mumpung,” kata Niam.
Prof Niam meminta jemaah memprioritaskan persiapan menghadapi rangkaian ibadah haji pada 8 hingga 13 Dzulhijjah, terutama saat berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Menurut dia, ibadah haji memiliki unsur ibadah jasmaniyah atau fisik sehingga membutuhkan kebugaran. Selain itu, haji juga mengandung unsur maliyah yang membutuhkan kemampuan biaya serta ruhiyah yang berkaitan dengan mental dan spiritual.
Pesan keempat, Niam mengajak jemaah memperbanyak doa untuk kelancaran ibadah haji, keluarga yang sakinah, serta masyarakat dan bangsa Indonesia yang damai dan sejahtera.
Ia juga meminta jemaah mendoakan para pemimpin bangsa agar mampu memimpin secara adil dan bijaksana.
“Jemaah haji mendoakan para pemimpin negeri untuk dapat memimpin dan membangun bangsa Indonesia dengan adil, bijaksana sehingga dapat mengantarkan bangsa Indonesia menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ujar Niam.
Adapun pesan kelima, jemaah diminta menjadikan ibadah haji sebagai momentum muhasabah dan perbaikan diri.