Staf Khusus Menteri Agama (Stafsus Menag) Bidang Media dan Komunukasi Publik Wibowo Prasetyo (kanan) dalam acara Media Gathering Ditjen Bimas Islam bersama insan media yang mengangkat 'Isu-Isu Aktual Bimbingan Masyarakat Islam' di Bandung, Rabu (29/5/2024) malam. (Foto: Bimas Islam)
BANDUNG, (ERAKINI) - Sejumlah isu penting dan strategis menjadi sentral perhatian yang diprioritaskan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) untuk memberi pelayanan kepada masyarakat dengan baik dan maksimal.
Staf Khusus Menteri Agama () Bidang Media dan Komunukasi Publik menekankan, ada 4 yang menjadi PR besar , yaitu tentang Pengelolaan Zakat dan Wakaf, Stunting, Revitalisasi Kantor Urusan Agama (KUA) dan Revitalisasi Badan Kesejahteraan Masjid ().
Keempat isu besar tersebut, kata Wibowo, juga menjadi 'mandatory' dari Menteri Agama (Menag) RI yang tertuang dalam 7 prioritas Kementerian Agama.
Hal itu disampaikan oleh Wibowo dalam acara Media Gathering Ditjen Bimas Islam bersama insan media yang mengangkat 'Isu-Isu Aktual Bimbingan Masyarakat Islam' di Bandung, Rabu (29/5/2024) malam.
Dalam kesempatan itu, Wibowo kemudian memaparkan dan memperinci satu per satu isu penting yang harus menjadi fokus Bimas Islam.
"Pertama, soal pengelolaan Zakat dan Wakaf, ada potensi 300 triliun lebih dari sektor zakat yang nantinya bermanfaat untuk masyarakat terutama dalam sektor ekonomi. Potensi ini menjadi sangat luar biasa dan tentu perlu penguatan dan peta jalan yang lebih jelas yang harus dilakukan oleh Bimas Islam," papar Wibowo di Bandung, Rabu (29/5/2024) malam.
Isu penting yang kedua, lanjut Wibowo, yaitu terkait Stunting. Isu ini, kata dia, harus diemban bersama. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Agama adalah mengadakan bimbingan penyuluhan bagi calon pengantin.
"Sebelum menikah, membangun keluarga dan kemudian merencanakan untuk miliki anak, harus dipikirkan terlebih dahulu mengenai stunting," katanya.
Wibowo menekankan, target pemerintah untuk menurunkan angka Stunting di Indonesia bisa tercapai, paling tidak di angka yang disarankan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
"Ketiga, yaitu soal revitalisasi KUA baik secara fisik maupun manajemen. Itu menjadi mandatory Gus Men tentang KUA sebagai layanan semua umat. Saat ini sudah ada 1.106 KUA yang direvitalisasi dari total 5.972 kantor yang tersebar di seluruh Indonesia," ungkapnya.
Bagaimana KUA ini menjadi sentral layanan semua agama, tentunya juga untuk menanamkan sikap moderat bagi semua umat, pemahaman nilai-nilai moderasi bagaimana nanti menjadi insan yang moderat.
Tak hanya itu, KUA kini menjadi tempat favorit kaum muda untuk menggelar pernikahan dan itu sangat diminati. Selain karena tidak dipungut biaya, KUA sudah menyuguhkan visual yang kekinian dan layanan yang sangat baik.
"Karena tampilan fisik bagus, layanan sangat baik termasuk bagaimana menyiapkan customer service (CS) yang baik. Apalagi KUA-nya Instagramable dan gratis tanpa dipungut biaya apabila acara pernikahan dilangsungkan di KUA. Ini sangat diminati anak-anak muda zaman sekarang," katanya.
Yang juga tak kalah penting, kata Wibowo, adalah KUA harus dapat bersinergi dengan organisasi masyarakat dalam pembinaan keluarga Sakinah, misalnya melalui bimbingan remaja usia sekolah, bimbingan remaja usia nikah, bimbingan perkawinan calon pengantin dan bimbingan keluarga.
"Ini harus terus dikampanyekan agar calon yang menikah tahu betul bagaimana merencanakan sebuah keluarga dan tentunya menjadi bekal yang sangat penting," tuturnya.
Isu penting terakhir, lanjut Wibowo, adalah terkait revitalisasi Badan Kesejahteraan Masjid (BKM). Bagaimana meningkatkan peran dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan sarana pembinaan umat Islam di tanah air.
"Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah saja, namun bisa digunakan sebagai tempat sosialisasi. Menjadi tempat berkumpulnya komunitas, tempat pertemuan umat muslim dan agama lain, seperti menyelenggarakan kegiatan ekonomi dan sosial budaya, yang penting tidak untuk kegiatan politik. Ini sudah berjalan, dan sudah ada total 23.125 BKM Daerah mulai tingkat provinsi dan kecamatan," katanya.
Lebih lanjut, Wibowo menegaskan 4 isu penting dan strategis itu harus jadi PR besar Bimas Islam. Dan dalam kesempatan acara Media Gathering bersama insan media tersebut, Wibowo menyebut bahwa peran media sangat penting untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat terkait program prioritas dan strategis tersebut.
"Forum ini menjadi salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk syiarkan beberapa program kepada masyarakat dan pelayanan kepada publik agar lebih baik. Bimas Islam harus transparan kepada publik agar masyarakat tahu. Mudah-mudahan kegiatan ini rutin dilaksanakan, paling tidak bisa 3 bulan sekali," pungkas Wibowo.
Adapun acara Media Gathering Ditjen Bimas Islam dengan pembahasan 'Isu-Isu Aktual Bimbingan Masyarakat Islam' tersebut turut dihadiri oleh Kepala Biro HDI Kemenag RI Akhmad Fauzin, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Barat Ajam Mustajam dan sekitar 70 jurnalis wilayah Bandung dan sekitarnya.