Ilustrasi – Suasana langit di wilayah Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. BMKG menyebut bahwa awal bulan Februari 2026, mayoritas wilayah Indonesia masih diguyur hujan. (Foto: Akhmad Baihaqi Arsyad/Erakini).
JAKARTA, (ERAKINI) - Memasuki bulan Februari, banyak masyarakat bertanya-tanya apakah Indonesia masih berada dalam musimhujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa dalam sepekan ke depan, kondisi cuaca di Tanah Air masih sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global, regional, hingga lokal yang mendukung terjadinya di berbagai wilayah.
Melansir laman resmi BMKG pada Minggu (1/2/2026), pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase Netral menuju La Niña lemah. Hal ini ditunjukkan oleh nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar +8,6 serta indeks NINO 3.4 di angka -0,79. Kondisi tersebut dinilai signifikan dalam meningkatkan aktivitas pembentukan awan hujan, khususnya di kawasan Indonesia bagian timur.
Selain pengaruh La Niña lemah, monsun Asia diperkirakan masih cukup aktif hingga dasarian pertama Februari. BMKG juga mencatat masih berfungsinya fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS), yakni aliran massa udara dingin dari belahan bumi utara yang melintasi ekuator dan berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan.
Tak hanya itu, potensi terbentuknya daerah tekanan rendah di Teluk Carpentaria turut berperan dalam menciptakan area perlambatan angin atau konvergensi di wilayah selatan Indonesia. Aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin juga diprakirakan aktif, terutama di Samudra Hindia barat Jawa hingga selatan Nusa Tenggara Timur, Lampung, Laut Sulu, Laut Arafura, serta Papua bagian selatan. Kombinasi fenomena ini berpotensi meningkatkan intensitas hujan di wilayah-wilayah tersebut.
BMKG memprakirakan kondisi cuaca Indonesia secara umum akan didominasi oleh hujan ringan hingga sedang. Namun, masyarakat di sejumlah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat terjadi di:
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini untuk kondisi cuaca ekstrem, dengan rincian sebagai berikut:
- Status Siaga (hujan lebat hingga sangat lebat): Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur
- Potensi angin kencang: Nusa Tenggara Timur dan Maluku
Melihat potensi cuaca yang masih cukup aktif, BMKG mengingatkan masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk terus waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Risiko bencana hidrometeorologi seperti genangan air, banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor masih perlu diantisipasi.
Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, khususnya perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata. BMKG juga mengajak masyarakat untuk rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui situs www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infoBMKG.
Dengan berbagai indikator atmosfer yang masih aktif, BMKG menegaskan bahwa bulan Februari di Indonesia masih identik dengan musimhujan, sehingga kesiapsiagaan tetap menjadi kunci utama.