Direktur Ekonomi Syariah dan BUMN Bappenas Rosy Wediawaty (kanan) dalam acara Training of Trainer Ekonomi Syariah yang digelar Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi) dan Bank Indonesia di Sari Pasific, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (14/11/2025). (Foto: Forjukafi)
JAKARTA, (ERAKINI) - Indonesia menargetkan menjadi negara dengan ekosistem terbaik di dunia pada 2029. Ambisi tersebut diproyeksikan dapat mendorong menggeser posisi dan Arab Saudi yang selama ini mendominasi peringkat global.
Dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report edisi Juli 2025, Malaysia masih bertahan di posisi pertama selama 11 tahun berturut-turut. Arab Saudi menyusul di peringkat kedua, sementara Indonesia menempati peringkat ketiga. Indikator penilaian mencakup empat sektor utama: makanan halal, keuangan syariah, pariwisata ramah muslim, dan fesyen modest.
Direktur Ekonomi Syariah dan BUMN Bappenas Rosy Rosy Wediawaty mengatakan pemerintah kini semakin serius mendorong pertumbuhan ekonomi syariah. Menurut dia, langkah awal yang paling krusial adalah memasukkan pengembangan ekonomi syariah ke dalam dokumen perencanaan nasional maupun daerah.
“Dulu sama sekali tidak ada ekonomi syariah di dokumen perencanaan. Padahal dokumen itu menjadi acuan pembangunan. Kalau di perencanaan saja tidak muncul, siapa yang akan menjalankan?” ujar Rosy dalam Training of Trainer Ekonomi Syariah yang digelar Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi) dan Bank Indonesia di Sari Pasific, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (14/11/2025).
Ia menjelaskan, kesadaran pemerintah mulai tumbuh dengan melihat negara-negara non-muslim seperti Jepang, Korea Selatan, Filipina, dan Thailand yang sudah lebih dahulu fokus pada sektor ekonomi syariah.
“Potensinya besar, ini potensi perputaran uang yang bisa meningkatkan kesejahteraan. Karena itu kita targetkan mengejar Malaysia,” ucapnya.
Rosy menuturkan, mengejar peringkat kedua dinilai lebih mudah karena selisih skor dengan Arab Saudi relatif kecil. Namun untuk bersaing dengan Malaysia, Indonesia membutuhkan upaya lebih besar.
Salah satu langkah yang kini dilakukan adalah memperkuat koordinasi hingga tingkat daerah, termasuk memasukkan ekonomi syariah dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).
Sementara itu, Deputi Direktur Promosi dan Kerja Sama Strategis Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Inza Putra, menilai Indonesia tidak kalah dari Malaysia dalam penyelenggaraan program-program ekonomi syariah berskala internasional.
Ia mencontohkan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang disebut lebih terstruktur dibanding Malaysia International Halal Showcase (MIHAS).
“ISF itu ada VESA, ada Road to ISF. Kalau MIHAS ya langsung MIHAS saja, tidak ada pra-kegiatan. Sekarang mereka memang punya VESA, tapi kita lebih komprehensif,” ujar Inza.
Menurut Inza, semakin banyaknya kementerian dan lembaga yang aktif mengembangkan program ekonomi syariah menjadi sinyal positif bagi percepatan target nasional.
Dia optimistis target Indonesia untuk menjadi negara nomor satu dalam ekonomi syariah dapat tercapai pada akhir 2029.
“Dengan regulasi yang semakin kuat, insya Allah kita bisa mengalahkan Malaysia segera. Akhir 2029, insya Allah,” ujarnya.