Foto bersama usai Pelantikan IKA PMII Ciputat di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Minggu (14/12/2025). (Foto: IKA PMII Ciputat)
JAKARTA, (ERAKINI) - Ketua Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII), Fathan Subchi, berharap PMII Cabang Ciputat untuk terus menjaga dan mempertahankan tradisi intelektual sebagai karakter utama dalam gerakan organisasi.
Menurut Fathan, tradisi intelektual telah menjadi ciri khas PMII, khususnya di Cabang Ciputat dan Yogyakarta, sehingga perlu dirawat secara berkelanjutan di tengah dinamika perubahan zaman.
“Tradisi gerakan intelektual PMII ini menjadi ciri dan karakteristik Cabang Ciputat dan Yogyakarta. Ini harus terus dijaga dan dipertahankan,” ujar Fathan saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan Pengurus IKA PMII Cabang Ciputat di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Minggu (14/12/2025).
Ia menjelaskan, salah satu kekuatan tradisi intelektual PMII Ciputat terletak pada kaderisasi berbasis kampus. Namun, saat ini perguruan tinggi menghadapi tantangan baru dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sistem pendidikan.
“Kehadiran teknologi kecerdasan buatan, termasuk GPT, tidak lagi berada di pinggiran sistem pendidikan nasional, melainkan telah masuk ke dapur pendidikan dan memengaruhi cara berpikir, tata kelola, hingga kebijakan anggaran,” kata Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI tersebut.
Fathan menilai, masuknya teknologi ke jantung pendidikan menuntut keseriusan negara dan seluruh pemangku kepentingan. Ia mengingatkan agar kebijakan pendidikan tidak dijalankan secara parsial dan pragmatis, khususnya dalam pengelolaan anggaran.
“Kalau teknologi sudah masuk ke dapur pendidikan, maka pengelolaannya harus satu visi. Jangan anggaran pendidikan terus disiasati atau diperlakukan sebagai ruang kompromi politik,” ujarnya.
Ia juga mengkritisi pola pengelolaan pendidikan yang dinilai masih mengulang persoalan lama tanpa evaluasi mendasar. Fathan mengibaratkan kebijakan yang bermasalah seperti perahu bocor yang pernah menimbulkan masalah, tetapi kembali digunakan tanpa perbaikan yang serius.
Lebih lanjut, Fathan menilai pendekatan pendidikan di Indonesia masih terlalu menekankan aspek yuridis dan administratif. Sementara itu, pengembangan substansi keilmuan, riset, dan inovasi justru belum menjadi prioritas utama.
Dalam konteks kepemimpinan perguruan tinggi, Fathan mendorong para rektor dan pimpinan kampus agar lebih dekat dengan pusat-pusat keilmuan dan teknologi. Menurut dia, dialog antara akademisi, ilmuwan, dan pengembang teknologi menjadi kunci agar kampus tidak terjebak pada rutinitas birokrasi semata.
“Kampus jangan hidup dari masalah. Kampus harus menjadi ruang solusi, bukan sekadar institusi yang sibuk mengelola konflik dan ketergantungan,” tegasnya.
Fathan juga menyinggung pengalaman sejumlah negara maju, seperti Korea Selatan, yang mampu melakukan lompatan besar di bidang pendidikan dan teknologi berkat kehadiran negara yang kuat, konsisten, dan berpihak pada riset serta inovasi.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga riset nasional, termasuk kampus-kampus teknologi terkemuka. Dengan arah kebijakan yang jelas dan dukungan yang utuh, kata dia, perguruan tinggi dapat fokus pada penciptaan ilmu pengetahuan dan kepemimpinan perubahan.
Menutup sambutannya, Fathan menyebut tantangan pendidikan nasional saat ini bukan semata persoalan teknologi, melainkan keberanian untuk keluar dari pola lama dan ketergantungan struktural.
“Ini soal apakah kita terus bergantung pada sistem lama, atau berani melompat ke masa depan dengan tata kelola pendidikan yang sehat, berdaulat, dan visioner,” pungkasnya.