Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar dalam acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Lembaga Keagamaan di Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (6/8/2025). (Foto: Akhmad Baihaqi Arsyad/Erakini).
Dalam sambutannya, Menteri Agama () menyampaikan bahwa agama seperti nuklir dan menjadi faktor pemersatu yang paling efektif. "Agama itu adalah faktor pemersatu yang paling efektif antara satu dengan yang lain. Jangan dibalik. Agama itu seperti nuklir. Nuklir itu bisa memberikan jasa yang luar biasa," ujar Nasaruddin dalam Silatnas bertajuk 'Merawat Kerukunan Menuju Indonesia Emas 2045', di Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (6/8/2025).
Menag melanjutkan, pembangkit tenaga listrik yang paling murah itu adalah nuklir, dibanding dengan bahan bakar, bensin, minyak dan sebagainya. Nuklir itu, kata dia, sangat murah.
"Makanya itu, negara-negara besar seperti Amerika, Rusia, Cina, Jerman, itu murah listriknya. Kenapa? Tenaga nuklir sangat berjasa. Tapi nuklir juga bisa menjadi bahan bom yang sangat menghancurkan. Nah jadi tergantung nuklir itu nanti kita mau pakai untuk jasa kemanusiaan untuk kemanusiaan itu sendiri, atau juga pemusnah kemanusiaan itu," ujar Menag.
Menag juga menegaskan bahwa apabila agama menekankan aspek perbedaan antara satu agama dengan agama yang lain, terlebih mendoktrinkan perbedaan yang menjurus kepada konflik maka itu bukan mengajarkan agama.
"Kalau ada orang yang mengajarkan agama, agama apapun itu, tapi kalau menekankan aspek perbedaan antara satu agama dengan agama yang lain, apalagi mendoktrinkan perbedaan yang menjurus kepada konflik, yang menghina atau mencela agama lain, maka sesungguhnya itu bukan mengajarkan agama, tapi mengajarkan kebalikan agama itu sendiri. Jangan sampai nanti kita sadar atau tidak sadar, kita mengindoktrinasikan suatu perbedaan terhadap anak-anak kita berdasarkan agama," pesannya.
Pihaknya, kata dia, ingin menekankan agama itu sebagai faktor sentripetal, bukan sebagai faktor sentifugal. Sentifugal itu, kata dia, mengajak orang untuk dari satu titik berserahkan satu sama lain. Tapi agama itu harus menjadi faktor sentipetal, dari berbagai bagian menjadi satu kesatuan yang utuh, itu sentipetal.
"Kami sangat-sangat yakin, jika setiap umat beragama itu menghayati, mendalami agamanya masing-masing, maka akan sampai kepada satu titik temu yang luar biasa, maka itu semakin dalam kita semua, dan para umat kita memahami agamanya masing-masing, maka pasti mereka akan lebih gampang menemukan titik temu antara satu agama dengan agama yang lain, daripada menemukan perbedaan antara satu agama dengan agama yang lain," katanya.
Menurut Menag, persoalan kerukunan itu persoalan hati. Sebanyak apapun undang-undang yang ditelurkan untuk itu, atau sekecil apapun dikurangi undang-undang yang ada, tapi kalau hati tidak berkomunikasi, kalau hati tidak berbicara, maka tidak bernyata.
Karena itu, pada kesempatan tersebut, Kementerian Agama kmemperkenalkan suatu konsep baru untuk mencapai kerukunan sejati. Kerukunan sejati itu harus di-back up oleh keluhuran, dan anda sendiri yang sangat-sangat dalam tentang agama kita masing-masing.
"Saya berkesimpulan, semua agama itu untuk manusia. Sebetulnya agama itu bukan untuk Tuhan. Justru Tuhan menurunkan agama untuk manusia. Jadi agama itu untuk kemanusiaan. Sebetulnya kita juga bisa mengatakan bahwa agama itu tidak ada urusannya dengan Tuhan. Kita menjadi orang kafir 100%, tidak akan mengurangi wibawa dan ketuhanannya Tuhan. Kita jadi malaikat, jadi iblis, tidak akan menampak ketuhanannya Tuhan," katanya.
Menag menyebut, Agama itu hadir untuk memanusiakan manusia dan untuk menuburkan niat dan pikiran anak manusia itu. Karena itu kita di Kementerian Agama mencoba untuk menyisir kurikulum berbasis cinta.
"Kalau umat kita itu masih menekankan banyaknya perbedaan antara agamanya dengan agama-agama yang lain, itu pertanda dangkalnya pemahaman umat kita. Kedalam pemahaman agama, seseorang tidak ditandai dengan atribut-atribut yang digunakan tokoh-tokoh yang bersambung. Tetapi kita akan melihat tutur kata, bahasa tubuh, kebajikan, kealiban orang itu. Karena itu kurikulum cinta ini bukan hanya untuk di sebuah ruang yang namanya sekolah. Kurikulum cinta itu juga berlaku di masjid, di rumah-rumah ibadah yang lain, berlaku di lingkungan RT, di lingkungan rumah tangga," katanya.
Dalam kesempatan itu, Menag mengajak semua pihak untuk menjadikan rumah ibadah masing-masing sebagai rumah kemanusiaan. Kemanusiaan, kata dia, hanya satu, enggak ada warnanya.
Menurutnya, perlu ada semacam konsep yang sangat mendasar yang ditanamkan, ditancapkan dalam benak anak-anak.
"Jangan sejak ini kita mendoktrinkan perbedaan, karena negara plural seperti Indonesia ini sangat riskan, jika yang ditekankan adalah sebuah perbedaan, principle of negation. Namin, yang kita perlukan dalam filosofi guru-guru kita itu adalah principle of identity. Selama ini kita masih mengajarkan agama dengan menekankan aspek principle of negation, perbedaan. Nah, kita mari dalam kurikulum kita ini, filosofinya berangkat dari principle of identity," katanya.