Rektor UIN Banten Prof Muhammad Ishom (Foto: UIN Banten)
SERANG, (ERAKINI) - Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, menelusuri sejumlah manuskrip dan artikel sejarah untuk mengetahui dampak dan tsunami Krakatau terhadap wilayah Banten.
Dari penelusuran tersebut, Prof Ishom menyebut wilayah pesisir utara Banten yang terdampak erupsi Krakatau dan tsunami pada 1883 secara signifikan berada di kawasan Ciwandan, Cilegon.
"Beberapa hari ini saya iseng-iseng berhadiah menelusuri dan membaca manuskrip dan artikel untuk cari data dampak Krakatau di wilayah Serang Banten khususnya," kata Prof Ishom, Senin (7/9/2026).
Menurut dia, berdasarkan data yang ditelusurinya, tsunami akibat letusan Krakatau pada 1883 mencapai ketinggian sekitar 40 meter dan berdampak pada kawasan Ciwandan, Cilegon.
Penelusuran mengenai dampak Krakatau tersebut kemudian membuat Prof Ishom teringat pada kisah sejarah Sultan Maulana Hasanuddin dalam menentukan lokasi pusat pemerintahan Kesultanan Banten.
Dalam naskah sejarah yang dibacanya, Sultan Maulana Hasanuddin disebut melakukan pengamatan terhadap sejumlah wilayah sebelum akhirnya memilih Teluk Banten sebagai lokasi pusat pemerintahan.
Prof Ishom juga mengaitkan kisah tersebut dengan kemampuan Sultan Maulana Hasanuddin dalam memahami kondisi geografis dan tata letak wilayah.
"Saya berpikir tentang naskah sejarah Sultan Maulana Hasanuddin yang menceritakan proses penentuan wilayah pusat kota pemerintahan Surosowan yang digambar sang Sultan terlebih dahulu keliling dari Gunung Pongkor, Ujung Kulon sampai Lampung, hingga akhirnya memilih Teluk Banten," ujarnya.
Prof Ishom menjelaskan, sebagian masyarakat mungkin memahami kisah tersebut dari sisi mistik. Namun, ia memiliki pandangan lain. Guru besar Peradilan Islam ini menilai Sultan Maulana Hasanuddin memiliki pengetahuan ilmu falak yang mendalam dan menggunakannya sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi pusat pemerintahan.
"Mungkin sebagian orang memahaminya secara mistik, akan tetapi menurut saya Sultan Maulana Hasanuddin memiliki ilmu falak plus yang mendalam," tuturnya.
Tak berhenti di sana, Prof Ishom melihat pemilihan lokasi Surosowan sebagai pusat pemerintahan bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan spiritual, tetapi juga dapat dilihat dari perspektif pengetahuan mengenai tata letak wilayah.
Pemahaman tersebut membuat Sultan Maulana Hasanuddin dapat menentukan lokasi istana dengan mempertimbangkan berbagai aspek.
"Sehingga Surosowan selamat dari bencana alam karena sang Wali paham tata letak istana dari berbagai sudut pengetahuan," katanya.