Letusan gunung berapi kerap membuat wilayah sekitarnya mengalami hujan abu, seperti yang terjadi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) - Letusan gunung berapi kerap membuat wilayah sekitarnya mengalami hujan abu, seperti yang terjadi akibat erupsiGunung Anak Krakatau. Abu vulkanik yang menyebar ke wilayah Jabodetabek berdampak pada aktivitas masyarakat dan mengancam kesehatan.
Lantas apa saja bahaya abu vulkanik dan bagaimana cara melindungi diri dari paparannya? Berikut pembahasannya dirangkum Erakini, Senin (7/9/2026):.
Indonesia termasuk dalam kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Letak Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng bumi, membuat rawan mengalami bencana alam, seperti gunung meletus.
Abu vulkanik disemburkan ke udara saat erupsi atau letusan gunung berapi. Material abu dapat menyebar hingga jarak yang jauh dari letusan karena kondisi iklim daerah tersebut.
Hal ini membuat dampak abu vulkanik dari letusan gunung, termasuk Gunung Anak Krakatau, dapat dirasakan hingga ke wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi.
Partikel debu vulkanik berdiameter kurang dari 2 milimeter (mm). Partikel ini terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan gelas vulkanik yang terasa mirip butiran pasir hingga bubuk halus.
Beberapa gas berbahaya juga bisa terbawa dalam abu vulkanik Krakatau maupun gunung berapi sejenisnya, seperti karbon dioksida (CO2) dan sulfur dioksida (SO2) yang bahkan dapat menyebabkan hujan asam.
Apa Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan? Abu vulkanik bersifat keras, abrasif (mengikis), dan tidak larut dalam air. Hal inilah yang menyebabkan abu dari letusan gunung berapi ini berdampak buruk bila terhirup atau masuk ke dalam tubuh.
Bahaya abu vulkanik dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada jumlah dan lamanya paparan serta kondisi kesehatan masing-masing.
Jika berada di wilayah yang terdampak debu vulkanik Gunung Anak Krakatau, berikut ini beberapa bahayanya yang perlu diwaspadai:
1. Gangguan Pernapasan Akut
Gejala Asma
Bahaya abu vulkanik yang utama adalah meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kelompok yang paling rentan antara lain anak-anak, orang dewasa yang lebih tua, serta orang dengan penyakit paru-paru, seperti asma, bronkitis, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Paparan abu vulkanik juga dapat memperburuk gejala asma dan menyebabkan gangguan pernapasan akut, terutama pada orang yang memiliki saluran pernapasan sensitif.
Beberapa gejala akut atau jangka pendek yang umumnya muncul, yakni pilek, hidung berair, batuk kering atau berdahak, sakit tenggorokan, sesak napas, dan napas berbunyi nyaring (mengi).
Kondisi ini juga meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan atas dan bawah. Fungsi paru-paru yang terganggu juga bisa membuat proses bernapas menjadi tidak nyaman.
2. Masalah Penglihatan
Bahaya abu vulkanik pada kesehatan mata disebabkan karena bentuk partikelnya yang tajam dan runcing. Sifat abrasif dari abu juga bisa menyebabkan konjungtivitis.
Konjungtivitis terjadi saat lapisan transparan pada mata (konjungtiva) mengalami peradangan sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman dan mengganggu penglihatan.
Beberapa tanda mata yang terkena konjungtivitis akibat abu vulkanik antara lain rasa mengganjal seperti ada benda asing dalam mata, mata merah, mata terasa nyeri dan gatal, dan mata berair hingga mengeluarkan kotoran.
Paparan abu vulkanik juga bisa menyebabkan abrasi kornea, yakni kondisi tergoresnya kornea. Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan ini bisa menyebabkan kerusakan kornea permanen.
Saat erupsi, gunung berapi dapat melepaskan abu sekaligus gas vulkanik seperti sulfur dioksida (SO₂) yang dapat berkontribusi terhadap sifat asam pada abu.
Konsentrasi dan jenis senyawa kimia yang meningkatkan derajat keasaman (pH) abu vulkanik bervariasi, tergantung pada lokasi, sumber, dan jenis gunung berapinya.
Beberapa ciri iritasi kulit akibat paparan abu vulkanik yakni kulit terasa gatal, bengkak, kemerahan, dan munculnya bercak ruam yang panas atau perih.
4. Silikosis
Silikosis adalah bahaya jangka panjang akibat abu vulkanik. Masalah paru-paru ini disebabkan oleh paparan debu silika pada saluran pernapasan dalam waktu yang lama.
Silika merupakan zat kimia yang terdapat dalam abu vulkanik. Zat ini utamanya tersedia dalam bentuk kristal silika bebas dan silikon dioksida (SiO2).
Gejala penyakit silikosis yang perlu diwaspadai antara lain batuk berdahak atau kering, napas berbunyi nyaring (mengi), sesak napas, nyeri dada, demam, dan penurunan berat badan.
Paparan silika jangka panjang bisa menimbulkan luka dan jaringan parut dalam paru-paru. Jika tidak segera ditangani, hal ini dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan bahkan kematian.
Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik
Terdapat banyak cara yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari bahaya abu vulkanik. Cara mengatasi abu vulkanik dapat dilakukan dengan mengurangi paparan dan membersihkan abu dengan langkah yang tepat.
Berikut ini beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan;
1. Tetap berada di dalam ruangan yang tidak terkena abu dan tutup semua celah, seperti pintu, jendela, dan ventilasi.
2. Gunakan masker N95 atau masker medis. Pastikan masker berukuran pas sehingga bisa menutupi hidung dan mulut dengan rapat.
3. Pakailah kacamata pelindung, kacamata renang, atau kacamata biasa untuk melindungi mata dari dampak abu vulkanik.
4. Lepaskan lensa kontak bila sedang menggunakannya ketika letusan gunung terjadi.
5. Bersihkan abu vulkanik dengan cara membasahinya terlebih dahulu. Jangan menyapu dengan cara kering karena bisa membuat debu beterbangan kembali.
Memperhatikan panduan keselamatan gunung meletus dapat membantu Anda dan orang terdekat selamat saat menghadapi bencana alam. Tetap tenang dan selalu perhatikan instruksi darurat yang ada.