Pilpres 2024, Pengamat: NU dan Jokowi Berpotensi Jadi Penentu Kemenangan
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI)-Pakar sosiologi politik sekaligus dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) Kuskridho Ambardi menyebut Nahdlatul Ulama (NU) dan Presiden Joko Widodo berpotensi sebagai penentu kemenangan calon presiden (capres) 2024.
Menurut Kuskridho hal ini didasarkan pada survei di berbagai lembaga yang menyatakan jarak keterpilihan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo berselisih tipis dan masih masuk dalam batas galat (margin of error).
“Data dari lembaga survei kredibel menunjukkan bahwa jarak Pak Prabowo dan Pak Ganjar masih dalam rentang margin of error. Kalau dengan Mas Anies memang agak jauh jaraknya, jadi kita coba menganalisis yang jaraknya dekat dulu, antara Pak Ganjar dan Pak Prabowo,” kata dia dalam keterangan diterima di Jakarta, Kamis (30/8/2023).
Dengan hasil survei yang masih dalam rentang batas galat, kata dia, maka apabila survei Ganjar ditambah 2 persen dan Prabowo dikurangi 2 persen atau sebaliknya; diperlukan suara tambahan 5–7 persen bagi Prabowo maupun Ganjar untuk memenangkan Pilpres 2024.
“Ketika 5 sampai 7 persen itu dibutuhkan, NU sebagai basis massa terbesar di Indonesia, saya kira sangat bisa,” ujar Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2010–2019 itu.
Kuskridho menganalisis bahwa dukungan dari NU sangat diperlukan karena organisasi yang telah berusia 2 abad itu memiliki basis massa loyal tradisional yang bisa digerakkan oleh sebuah tim.
NU, lanjutnya, memiliki pengalaman menggerakkan massa dan banyak tokoh NU yang memiliki pengalaman elektoral.
Dia pun menjelaskan karena pengurus Pengurus Besar NU (PBNU) terikat khitah untuk tidak berpolitik praktis, mereka tidak bisa secara terang-terangan menggerakkan warga NU, sehingga legislatif suara nahdliyin tersebar di banyak partai politik di setiap pemilihan.
















