Ilustrasi - Gelombang panas ekstrem menghantam Eropa dan WHO telah mencatat lebih dari 1.300 kematian. BMKG memberikan penjelasan terkait apakah mungkin atau tidak fenomena serupa terjadi di Indonesia. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Gelombang panas luar biasa yang melanda Eropa menjadi perhatian dunia setelah menyebabkan ribuan korban dan memecahkan rekor suhu di sejumlah negara. Fenomena cuaca ekstrem tersebut memunculkan pertanyaan besar: apakah kondisi serupa dapat terjadi di Indonesia?
Laporan terbaru dari World Health Organization menunjukkan bahwa sedikitnya 1.300 kematian tambahan telah tercatat di berbagai negara Eropa akibat suhu yang melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Beberapa negara bahkan mencatat temperatur yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk Jerman yang mencapai 41,7 derajat Celsius dan Polandia yang menembus 40,5 derajat Celsius.
Peristiwa ini kembali memperkuat kekhawatiran global terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata dan berpotensi menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan manusia.
Menurut para pakar meteorologi, lonjakan suhu ekstrem di Eropa dipicu oleh fenomena yang dikenal sebagai heat dome atau kubah panas. Kondisi ini terjadi ketika massa udara panas terperangkap di bawah sistem tekanan tinggi sehingga terus mengalami pemanasan dan sulit tergantikan oleh udara yang lebih sejuk.
Fenomena tersebut sering diperkuat oleh pola atmosfer yang disebut omega block, yakni kondisi ketika sistem cuaca terkunci di suatu wilayah selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu. Akibatnya, panas terus terakumulasi dan suhu meningkat secara signifikan. Tingginya angka korban jiwa tidak hanya dipengaruhi oleh suhu yang ekstrem, tetapi juga oleh sejumlah faktor kerentanan yang dimiliki negara-negara Eropa.
Salah satunya adalah desain bangunan yang sebagian besar dibangun untuk mempertahankan panas selama musim dingin. Kondisi ini membuat banyak rumah kurang mampu menghadapi suhu tinggi saat musim panas ekstrem terjadi. Selain itu, penggunaan pendingin ruangan di Eropa masih relatif rendah. Diperkirakan hanya sekitar 19 persen rumah tangga yang memiliki AC, jauh lebih sedikit dibandingkan negara seperti Amerika Serikat.
Faktor lainnya adalah tingginya populasi lanjut usia. Sekitar 22 persen penduduk Uni Eropa berusia di atas 65 tahun, kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebih, termasuk heatstroke. Kelembapan udara yang tinggi juga memperparah situasi. Di sejumlah wilayah, suhu yang dirasakan tubuh bisa 5 hingga 10 derajat Celsius lebih panas dibandingkan angka yang tercatat pada termometer. Bahkan pada malam hari, suhu tetap bertahan di kisaran 26 hingga 28 derajat Celsius sehingga tubuh kesulitan melakukan proses pendinginan secara alami.
Berdasarkan penjelasan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fenomena heatwave dalam pengertian meteorologis sebenarnya tidak lazim terjadi di Indonesia. Indonesia berada di wilayah tropis dekat garis khatulistiwa yang memiliki karakteristik atmosfer berbeda dibandingkan kawasan lintang menengah hingga tinggi tempat gelombang panas biasanya berkembang.
BMKG menjelaskan bahwa yang umum terjadi di Indonesia adalah peningkatan suhu udara harian akibat dominasi cuaca cerah dan minimnya tutupan awan, terutama saat musim kemarau berlangsung.
Meski demikian, suhu panas yang tinggi tetap dapat menimbulkan dampak serius apabila terjadi dalam periode panjang dan disertai tingkat kelembapan yang tinggi. Kelembapan menjadi faktor penting karena menghambat proses penguapan keringat yang merupakan mekanisme utama tubuh untuk menurunkan suhu. Ketika udara sangat lembap, tubuh akan lebih sulit melepaskan panas sehingga risiko kelelahan akibat panas dan heatstroke meningkat secara signifikan.
Dengan karakter iklim tropis yang secara alami memiliki kelembapan tinggi, Indonesia perlu mewaspadai dampak kesehatan apabila terjadi anomali suhu yang berlangsung dalam jangka waktu lama.
Cuaca ekstrem yang terjadi saat ini juga memicu berbagai gangguan ekologis di sejumlah wilayah dunia. Di kawasan Laut Mediterania, suhu permukaan laut dilaporkan mengalami peningkatan drastis hingga sekitar 8 derajat Celsius di atas rata-rata normal. Fenomena tersebut dikenal sebagai marine heatwave atau gelombang panas laut.
Sementara itu, wilayah barat Amerika Serikat menghadapi ancaman kebakaran hutan berskala besar akibat kombinasi suhu tinggi, kekeringan, dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api. Di Indonesia, BMKG terus mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau dan potensi dampak El Niño yang dapat mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah.
Apabila kondisi kering berlangsung berkepanjangan disertai suhu yang tinggi, risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat, terutama di kawasan gambut yang sangat rentan terbakar dan sulit dipadamkan. Selain itu, kenaikan suhu perairan tropis juga dapat memicu pemutihan terumbu karang secara massal yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem laut dan mengancam keanekaragaman hayati.
Menghadapi ancaman cuaca panas yang semakin sering terjadi, berbagai lembaga internasional mendorong negara-negara untuk memperkuat langkah adaptasi dan mitigasi.
United Nations Environment Programme mengingatkan bahwa penggunaan pendingin ruangan secara masif bukanlah solusi jangka panjang karena konsumsi energinya tinggi dan dapat memperburuk emisi gas rumah kaca. Sebagai alternatif, UNEP mendorong penerapan sistem pendinginan pasif melalui penambahan ruang hijau, penanaman pohon, pembangunan kawasan teduh, serta perencanaan tata kota yang mampu mengurangi akumulasi panas.
Di Indonesia, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas, memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas berat pada siang hari, serta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan pemerintah. Peristiwa yang terjadi di Eropa menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim semakin nyata dan dapat dirasakan di berbagai belahan dunia. Meski Indonesia memiliki karakteristik iklim yang berbeda, kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap menjadi langkah penting untuk menghadapi risiko cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.