Wamensos Agus Jabo Ungkap Perbedaan Sekolah Rakyat Dulu dan Kini
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) RI Agus Jabo Priyono mengungkapkan perbedaan mencolok antara Sekolah Rakyat (SR) pada masa penjajahan Belanda dengan Sekolah Rakyat yang kini tengah diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, jika SR pada era kolonial bersifat diskriminatif, maka SR saat ini didesain inklusif dan berpihak pada masyarakat kurang mampu, khususnya yang masuk kategori miskin ekstrem.
“Zaman Belanda memang ada Sekolah Rakyat, tapi sangat diskriminatif. Sedangkan Sekolah Rakyat yang dimaksudkan Pak Presiden itu untuk calon siswa dari keluarga miskin maupun miskin ekstrem. Dalam data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, mereka termasuk dalam Desil-1,” ujar Agus dalam wawancara di kanal YouTube Penjaga Harapan, seperti dikutip erakini, Jumat (27/6/2025).
Agus menambahkan, hadirnya Sekolah Rakyat merupakan bagian dari strategi negara untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi. Dengan dukungan data tunggal yang kini dimiliki pemerintah, penyaluran bantuan dan intervensi sosial menjadi lebih tepat sasaran.
“Tujuannya memotong transmisi kemiskinan. Sekarang ini kita punya data tunggal yang sebelumnya tidak pernah ada. Dulu, tiap kementerian punya data sendiri. Sekarang dengan data tunggal, kita bisa tahu jumlah penduduk miskin, di mana mereka tinggal, bahkan kondisi sosial dan profil keluarganya,” ungkapnya.
Lebih jauh, Agus membeberkan pentingnya negara hadir mengambil peran aktif dalam menyelamatkan anak-anak dari lingkungan kemiskinan. Sebab, kata dia, kemiskinan bukan hanya soal ekonomi, tapi juga memengaruhi pola pikir, kecukupan gizi, dan akses pendidikan.
















